Kondisi perunggasan dalam kurun waktu 8 tahun terakhir sempat memperlihatkan fluktuasi. Baik dari segi harga ayam maupun telur.
(Progres.co.id): FLUKTUASI tersebut secara umum berada di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP) peternak rakyat. Kondisi ini diiringi oleh kinerja produksi telur dan livebird yang terus mengalami peningkatan setiap tahun.
Pengendalian pasokan yang efektif saat itu masih berupa pengurangan telur tetas. Namun dalam perkembangannya dipandang perlu adanya penataan perunggasan. Salah satunya melalui pendirian industri pengolahan tepung telur di dalam negeri. Upaya ini diperkirakan menjadi solusi efektif untuk menata perunggasan layer sekaligus broiler.
Usulan tersebut seiring dengan program dan kegiatan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam pemenuhan pangan asal ternak melalui agribisnis peternakan rakyat.
Langkah itu untuk mendorong peningkatan produksi pangan asal ternak, khususnya telur ayam konsumsi, serta didukung oleh produksi perunggasan dalam negeri yang semakin meningkat.
Berdasarkan data statistik dari Ditjen PKH tahun 2023, kebutuhan telur nasional sebanyak 6.238.954 ton. Sedangkan produksi nasional sebanyak 6.347.853 ton. Kondisi ini menunjukkan adanya surplus telur konsumsi sebanyak 178.770 ton.
Melihat prestasi produksi tersebut, maka pantaslah jika pemerintah menginisiasi pilot project membentuk industri pengolahan telur berbasis UMKM.
Realitas selama ini Indonesia termasuk salah satu pengimpor beberapa jenis produk tepung telur, khususnya dari India. Produk yang didatangkan dari luar itu seperti tepung putih telur (egg albumen powder), tepung kuning telur (egg yolk powder) dan tepung telur utuh (whole egg powder).
Impor tepung telur yang cukup besar menunjukkan kebutuhan akan bahan baku industri itu masih cukup tinggi di Indonesia. Tepung telur umumnya digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan HOREKA (Hotel, Restoran, Katering) meliputi industri bakery, pastry, konfeksionery, mie instan, ice cream, biskuit, mayonaise, salad dressing serta produk olahan daging dan soup.
Tepung telur juga dimanfaatkan untuk industri nonpangan dalam pembuatan kultur media, inseminasi buatan, industri penyamakan, industri kosmetik dan industri pakan ternak.
Ketergantungan Indonesia pada impor tepung telur tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah kita tidak bisa memproduksi sendiri?
Sementara data menunjukkan adanya tren kenaikan produksi telur ayam ras dalam negeri. Pembangunan industri tepung telur, selain dapat mengurangi impor juga dapat meningkatkan nilai tambah telur segar peternak. Gejolak harga, dimana harga telur segar di tingkat peternak di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah, salah satunya disebabkan karena adanya oversupply.
Tepung telur memiliki daya simpan (shelf life) yang panjang, volume produk menjadi lebih kecil sehingga lebih hemat ruang dan biaya penyimpanan. Tepung telur juga memungkinkan jangkauan pemasaran yang lebih luas dan penggunaannya lebih beragam dibandingkan telur segar.
Untuk mendorong berkembangnya industri tepung telur di Indoensia dan meningkatkan nilai tambah telur segar yang dihasilkan peternak, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Tahun 2022 telah melakukan pilot project fasilitasi sarana dan prasarana pengolahan tepung telur di Kelompok Guyup Rukun Selawase, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Keompok ini berada dalam binaan Koperasi Putra Blitar.
Pada saat awal, mengingat bantuan pemerintah masih berskala kecil, ditambah lagi terkendala prosedur terkait aturan kelompok yang ketat, serta belum maksimalnya skala produksi yang hanya ditopang 1 unit mesin produksi dengan kapasitas 50 kg, menuntut dilakukan penyesuaian.
Akhirnya pembina koperasi berinisiatif untuk membentuk konsorsium. Harapannya demi memudahkan mendapatkan akses permodalan dari perbankan guna menjalankan proses produksi. Alhasil, para punggawa konsorsium membentuk sebuah Perusahaan Terbatas (PT) SIPAMAN (Sinergi Pangan Mandiri).
Dalam pelaksanaannya PT. SIPAMAN akan menyerap produk tepung telur hasil produksi Kelompok Guyup Rukun Selawase. Perusahaan yang berkedudukan di Blitar, Jawa Timur, ini bergerak di bidang ‘Food and Beverage’. Pengelolaannya didukung oleh para profesional yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidang pengolahan pangan, khususnya olahan telur.
PT. SIPAMAN memproduksi tepung telur ayam dengan konsep ‘Zero Waste Production’ dengan teknologi Agitated Pan Driying yang merupakan teknologi pengolahan tepung telur pertama di Indonesia yang dapat menghasilkan tepung telur berkualitas tinggi.
Dengan pendampingan dan pembinaan oleh Direktorat PPHNAk, Kementerian Pertanian RI, PT. SIPAMAN untuk 5 tahun ke depan diproyeksikan menjadi produsen lokal utama untuk tepung telur guna memenuhi kebutuhan industri makanan dalam negeri Indonesia.
Dalam aktivitasnya PT SIPAMAN fokus memproduksi tepung telur, mencakup Tepung Telur Utuh (Whole Egg Powder), Tepung Kuning Telur (Egg Yolk Powder), Tepung Putih Telur (Egg Albumen Powder) yang berasal dari telur ayam yang menjadi mitra peternak secara higienis dengan teknologi Agitated Pan Drying.
Adapun kapasitas produksi terpasang mencapai 8-10 ton tepung telur (campuran) per bulan. Secara bertahap nantinya akan dikembangkan menjadi 30-40 ton tepung telur campuran per bulan.
Sedangkan proses produksi menerapkan konsep Zero Waste Production yang sangat bersahabat dengan lingkungan. Pada saat yang sama aktivitas produksi ini turut berkontribusi bagi tumbuhnya UMKM sekitar pabrik. Terutama dalam memproses limbah telur (cangkang telur) menjadi beberapa produk turunannya, seperti pupuk organik maupun bahan tambahan pakan ternak unggas maupun ikan.
Kondisi saat ini produksi tepung telur yang dihasilkan oleh PT. SIPAMAN sebanyak 4 ton egg yolk powder, 2 ton egg albumen powder dan 1 ton whole egg powder per bulan dan sudah melakukan MoU pembelian dengan PT. Ariane Kunci Sukses yang berkedudukan di Sekarwangi, Soreang, Kabupaten Bandung.
Fasilitasi ini diharapkan dapat berkelanjutan dan kedepannya dapat direplikasi di beberapa sentra telur di Indonesia. Namun demikian pembangunan industri tepung telur masih memiliki beberapa tantangan. Terutama bahan baku telur segar dalam negeri yang cukup mahal dibandingkan dengan telur segar di negara lain.
Akibatnya harga jual tepung telur cenderung lebih mahal dibanding tepung telur impor. Biaya investasi yang dibutuhkan pun terhitung cukup besar. Ditambah lagi masih kurangnya pembinaan dan pendampingan terkait teknologi pengolahan tepung telur untuk menghasilkan produk yang berkualitas.
Hanya saja peluang industri tepung telur tetap prospektif untuk dikembangkan. Setidaknya terdapat beberapa peluang yang ada di bidang ini. Pertama, karena permintaan impor yang cukup tinggi menunjukkan masih ada peluang pasar yang dapat dipenuhi oleh produk yang dihasilkan dalam negeri.
Kedua, target dari penjualan produk ini cukup luas meliputi industri pangan dan nonpangan. Ketiga, pemasaran produk cukup mudah dan murah karena tidak memerlukan rantai dingin. Oleh karena itu, investasi industri tepung telur di indonesia secara bisnis menjanjikan dan mendukung pengembangan industri peternakan ayam petelur.(sumber: J_Dit PPHNak)







