Pandai Baca Peluang, Anak Muda Kembangkan Bisnis Tauge

0 Comments

Di tengah tren anak muda yang memilih bekerja di perusahaan besar, Gunawan memilih jalan berbeda. Dia mengembangkan bisnis tauge milik keluarga.

Bogor (Progres.co.id): Sumber Urip Farm, yang berdiri sejak tahun 1996 di Parung, Bogor, Jawa Barat, adalah usaha yang dirintis oleh kakek dan ayah Gunawan. Sejak 2021 dia dipercaya melanjutkan tongkat estafet untuk mengelola usaha tersebut. Biar lebih mudah dikenal, merek dagang lebih diperkenalkan dengan sebutan ‘Sufarm’.

Dalam wawancaranya di channel youtube Trubus, Gunawan menjelaskan, Sufarm memilih tauge sebagai komoditas unggulan karena prospeknya menjanjikan. “Jika melihat pasar di Asia, seperti Thailand, Vietnam, Singapura dan Malaysia, konsumsi tauge terbilang besar. Dengan jumlah penduduk yang lebih banyak, seharusnya Indonesia memiliki potensi yang lebih besar dibanding negara-negara tersebut,” ujarnya.

Sufarm mengembangkan lima jenis tauge, yaitu Tauge Bangkok (Moyashi), Tauge Hijau (Mung Bean Sprouts), Tauge Petik (Silver Sprouts), Tauge Kecambah, dan Tauge Kedelai. Dalam proses produksinya, Gunawan menggunakan drum sebagai media untuk mengembangkan kacang hingga menjadi tauge. Setelah direndam air, dalam waktu lima hingga tujuh hari, tauge pun siap dipanen.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pabriknya memiliki luas dua ribu meter yang terdiri dari kantor, ruang packing, ruang produksi serta ruang loading barang. Dengan kapasitas ruangan sebesar itu, Sufarm mampu menampung hingga sepuluh ton tauge.

“Saat ini kami memiliki 50 pegawai, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Kami sangat selektif dalam memilih pegawai di bagian produksi, karena proses ini memerlukan keahlian khusus,” tambahnya.

Proses produksi tauge memang memerlukan perhatian lebih. Benih yang diterima dari pemasok harus disortir untuk dipisahkan antara yang berkualitas dengan yang tidak. Setelah disortir, kacang dimasukkan ke drum setinggi hampir satu meter. Setiap drum diisi sepuluh kilogram kacang yang akan berkembang menjadi tujuh puluh kilogram tauge.

Sufarm memasarkan produknya di pasar tradisional sekitar JABODETABEK dengan harga delapan ribu rupiah per kilogram. Kini, Sufarm mampu memproduksi lima hingga tujuh ton tauge setiap hari.

Selain memasarkan di pasar tradisional, Gunawan juga telah memperluas pendistribusian hingga ke pasar modern. Mengingat perbedaan dalam pengemasan, harga di pasar modern juga disesuaikan. “Kami menggunakan kemasan mika plastik untuk pasar modern,” jelasnya.

Meski Gunawan tidak merinci omzet harian, ia menyebutkan, hasil penjualan cukup untuk menggaji karyawan dan mendanai pengembangan usaha. Ia juga menjelaskan mengapa produknya disebut sebagai tauge premium. “Kami menjalani proses pengemasan sesuai standar dan telah memiliki sertifikat PSAT dan Halal. Salah satu produk unggulan kami adalah Silver Sprouts (Tauge Petik) yang merupakan satu-satunya di Indonesia. Proses pemetikannya sangat spesial, sehingga tauge ini terlihat lebih segar, dengan warna yang lebih putih dan gemuk,” ungkap Gunawan.

Untuk menjaga kualitasnya, pegawai diharuskan mematuhi prosedur operasi standar (SOP) selama produksi. Selain mengenakan seragam, mereka juga harus menggunakan sarung tangan, head cap, masker dan apron. “Tauge yang sedang dalam proses pengembangan tidak boleh terkena sinar berlebih. Jika dilanggar tauge tidak akan berwarna putih,” tambahnya.

Setelah panen, tauge dimasukkan ke mesin sortasi berkapasitas tujuh ratus kilogram untuk memisahkan tauge dari kulitnya. Setelah proses sortasi, tauge ditimbang dan dikemas. Kemasan mika yang digunakan dilengkapi kertas di bagian bawah untuk menyerap air, dan produk ini diperuntukkan bagi pelanggan modern, seperti supermarket dan toko online.

Gunawan juga menerapkan tauge yang sudah dibungkus disimpan pada suhu 7 derajat Celsius, seperti di dalam kulkas, agar dapat bertahan antara 3 hingga 4 hari.

Dengan inovasi dan strategi pemasaran yang cerdas, Gunawan berhasil membuktikan bahwa dengan keberanian mengambil risiko dan inovasi, bisnis tauge dapat dikembangkan dan bersaing di pasaran yang semakin kompetitif ini.(*)

Further reading