Benar ini eranya smart farming. Bertani dengan menerapkan teknologi canggih. Tapi buat apa kalau saking canggihnya justru bikin bingung atau malah merepotkan petani.
Bandarlampung (Progres.co.id): DEMI menjawab tantangan tersebut Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung menawarkan teknologi penyiraman otomatis yang simple dan murah. Biarpun simple sejatinya sudah tersemat teknologi tepat guna di dalam produk rancangan institusi di bawah naungan Kementerian Pertanian ini.
Sedangkan murah, tidak lantas kualitasnya murahan. Buktinya, sejak diluncurkan tahun 2021 hingga sekarang, setidaknya sudah ada puluhan daerah dari berbagai provinsi di Indonesia yang memakai produk ini.
Lantas perangkat penunjang smart farming seperti apa yang disodorkan Bapeltan Lampung?
Perangkat itu disebut modul sensor smart farming. Atau bisa diartikan secara gampang bahwa perangkat yang rancangannya diinisiasi oleh Kepala Bapeltan, Dr. Abdul Roni Angkat, STP., M.Si ini, adalah alat yang mampu mengatur pengairan bagi tanaman secara pintar. Dikatakan pintar karena seluruh perintah operasionalnya dapat di-“remote” melalui telepon genggam.

“Biarpun bernuansa teknologi, perangkat ini dijamin mudah dioperasionalkan oleh petani-petani di pedesaan. Bahkan terakhir kawan-kawan di Merauke memesan beberapa unit dan sekarang sudah dipakai di ujung timur Nusantara itu,” kata Roni, sapaan akrabnya, Jumat (25/10/2024).
Secara teknis, Feri Setyawan, selaku Ketua Tim Program Evaluasi dan Kerjasama Bapeltan Lampung, menjelaskan, teknologi yang diselipkan pada perangkat ini berbasis internet of things atau IoT.
“Jadi alatnya bukan sekadar dipakai untuk menyiram tanaman saja,” terangnya. Melainkan juga, sambung alumnus Fakultas Pertanian Unila ini, sudah diatur sedemikian rupa sehingga mampu memindai atau mendeteksi kebutuhan tanaman akan suhu dan kelembaban tanah.
“Kalau mau digambarkan secara konkrit, para petani yang telah memasang perangkat ini beserta jaringan aliran air, tidak perlu terburu-buru berangkat pagi ke ladang hortikultura miliknya untuk menyiram. Sebab, bisa sambil ngopi dan pegang hape di rumah, lalu perintahkan perangkat smart irrigation bekerja. Maka dalam waktu hampir bersamaan tanaman di ladang sudah tersiram. Ini cocok untuk generasi milenial yang ingin bergerak di usaha tani,” paparnya.
Isimewanya lagi, sambung dia, takaran air yang disiramkan melalui jaringan akan pas sesuai arahan perangkat. Jangan khawatir takaran airnya bakal kurang atau sebaliknya melebihi kebutuhan.
Sebab, sambung Feri, semua sudah terukur secara presisi oleh perangkat. Bahkan seperti telah dijelaskan sebelumnya, perangkat made in Bapeltan Lampung ini, juga dilengkapi sensor suhu dan sekaligus indikator kelembaban tanah. “Melalui layar hape bisa memantau media tanam di lahan yang kita kelola,” urainya.

Kendati demikian, Bapeltan Lampung tidak lantas cepat berpuas diri. Dikatakan Feri, pihaknya senantiasa menerima masukan atau mengamati langsung ke areal pertanian yang menggunakan perangkat mereka. Tujuannya tiada lain untuk melakukan penyempurnaan perangkat.
Maka tak heran bila sampai sekarang pihaknya sudah menyediakan penyempurnaan modul sensor smart farming sampai gen keempat. Meski paling canggih, harga gen keempat hanya sekitar Rp12.404.000. Sedangkan gen 3 dihargai Rp10 juta. Sementara gen 2 serta gen 1 masing-masing dibanderol Rp7 juta dan Rp4.750.000.
Feri menyinggung mungkin ada yang berpendapat, lantaran melibatkan teknologi, berdampak pada biaya operasional yang tinggi.
“Mungkin begitu ya tanggapan publik. Itu pemikiran yang realistis dalam mengelola usaha tani. Bahkan saat perangkat ini dirancang, pertanyaan serupa itu juga dijadikan sebagai salah satu pertimbangan. Maksudnya bagaimana supaya perangkat yang dihasilkan mampu menjawab kekhawatiran tersebut. Maka hadirlah perangkat ini dengan prinsip low cost smart irrigation atau irigasi pintar yang efisien dalam pembiayaan,” urainya.

Hal tersebut juga diamini Kepala Balai Bapeltan Lampung yang mendesain awal rancangan perangkat tersebut. Dia membandingkan bila seorang petani yang memiliki lahan usaha tani seluas 1 hektar, untuk menyirami tanamannya setidaknya dibutuhkan tiga pekerja.
“Jika dikonversi ke nominal, petani itu harus membayar setidaknya Rp200 ribu per hari. Bayangkan kalau mesti menyiram dua hari sekali dan itu berlangsung beberapa kali. Tentu biaya yang tidak kecil,” ungkapnya.
Sementara dengan menerapkan perangkat modul sensor smart farming, tidak hanya dari aspek biaya yang bisa lebih efisien. Tetapi petani pengguna perangkat mendapat ‘bonus’ dapat mengetahui kondisi suhu dan indikator kelembaban tanah di lahannya.
“Informasi itu semua tentu menunjang produktivitas,” pungkas Roni, seraya mempersilakan pihak yang tertarik untuk datang melihat langsung penerapan perangkat ini di lahan-lahan percontohan Bapeltan Lampung yang berada di atas lahan seluas 8 hektar di Natar, Lampung Selatan.(*)








