SMKN 1 Tulangbawang Tengah Gembleng Calon Petani Muda Potensial

0 Comments

SMKN 1 Tulangbawang Tengah Gembleng Calon Petani Muda Potensial

0 Comments

Mengolah tanah, membuat kompos, menyiapkan bibit dan merawat tanaman, lalu produksinya dijual ke konsumen tanpa perantara. Aktivitas ini rutin dijalani pelajar SMKN 1 Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat. Tunas muda calon petani potensial sedang disemai di sana.

Lampung (Progres.co.id): DENGAN luas lahan hingga 35 hektar, SMKN 1 Tulangbawang Tengah menyediakan dua jurusan utama terkait agronomi, yakni Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP) dan Agribisnis Tanaman Pangan Hortikultura (ATPH). Program ini dilengkapi fasilitas praktik yang memadai dan didukung tenaga pengajar berpengalaman.

Herowati, guru mata pelajaran budidaya tanaman menyebutkan, di jurusan ATPH terdapat 64 siswa kelas XII yang mengikuti ujian praktik dan masing-masing mengelola lahan seluas 5×10 meter.

“Mereka diajarkan teori seperti pengolahan tanah, persiapan benih, hingga pemasaran dan pembukuan,” ujarnya saat ditemui Progres.co.id di lahan percontohan, Kamis (31/10/2024).

Sistem pembelajaran mengutamakan praktik langsung dengan komposisi waktu 60 persen praktek dan 40 persen teori. “Kami pastikan siswa benar-benar terlatih dengan pembelajaran lapangan sejak kelas sepuluh,” tambah Herowati.

Ketika musim ujian tiba, siswa harus menjalani seluruh proses bertani dari awal, termasuk persiapan lahan, penanaman, hingga panen. Proses ini membentuk keterampilan dan ketangguhan mereka dalam menghadapi tantangan pertanian, termasuk risiko gagal panen akibat cuaca yang tidak mendukung.

Herowati menegaskan, nilai mereka tidak terpengaruh jika hasil panen kurang memuaskan akibat kondisi alam. “Kami menilai berdasarkan proses dan usaha, bukan semata-mata hasil,” katanya.

Saat proses penanaman, siswa menggunakan pupuk kompos yang dibuat sendiri. Herowati mengungkapan, pupuk kompos dibuat dengan bahan-bahan organik. “Kami biasa mencampur brangkasan kacang tanah, daun kelor, batang pohon pisang dan arang sekam untuk dijadikan pupuk kompos,” ucapnya.

Dalam kegiatan praktek, siswa menanam beragam komoditas seperti kacang tanah, tebu, karet, kopi, timun suri, terong, okra, dan jahe. Hasil panen ini tidak hanya digunakan untuk latihan, tetapi juga dipasarkan langsung ke konsumen, tanpa perantara.

Guru Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU), Asih, menjelaskan beberapa hasil panen yang cukup melimpah, seperti kacang tanah dan timun suri, dijual langsung. “Produk olahan seperti sari tebu, wedang jahe instan, dan tepung singkong termodifikasi (Mocaf) diolah dan dikemas sendiri oleh siswa. Produk-produk ini sering juga diikutkan dalam pameran,” ungkapnya.

Produk unggulan seperti wedang jahe instan 250 gram dijual seharga Rp 35.000, sementara tepung singkong termodifikasi seberat 200 gram dihargai Rp 12.000.

Lulusan ATP dan ATPH memiliki prospek yang cukup cerah. Beberapa dari mereka bekerja di perusahaan besar seperti PT Gula Putih Mataram (GPM) dan PT Sweet Indo Lampung, sementara yang lainnya melanjutkan pendidikan atau memilih berwirausaha. “Sekitar 10 persen lulusan melanjutkan kuliah, 40 persen bekerja di perusahaan, dan 50 persen lainnya berwirausaha,” kata Herowati mengakhiri. (*)

Further reading