Bila penyuluh pertanian yang berada di Provinsi Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Bengkulu dan Lampung ingin menimba ilmu seputar pertanian secara luas, tak perlu melanglang buana jauh-jauh, seperti bunyi ungkapan yang menyarankan ‘menuntut ilmu hingga ke Negeri Cina’. Sebab Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung memiliki suhu-suhu mumpuni dan fasilitas memadai yang bisa dijadikan tempat berguru.
Lampung Selatan (Progres.co.id): PADA balai yang memiliki luasan hingga puluhan hektar itu, terhampar demplot (demontration plot). Lahan-lahan tersebut merupakan suatu metode praktik dimana proses belajar sambil melakukan (learning by doing) berlangsung dengan porsi besar dibanding teoritis.
“Karena audiens kami yang mengikuti pelatihan mayoritas para penyuluh, maka praktik langsung menjadi kata kunci. Sehingga sepulang pelatihan Kawan-kawan penyuluh tidak gamang saat mempraktikkan kembali pengetahuan yang diperoleh di Bapeltan kepada petani-petani binaan di wilayah kerja masing-masing,” terang Ichwanuddin, widyaiswara penyuluh pertanian Bapeltan Lampung, saat mendampingi Progres.co.id berkeliling ke demplot, Jumat (29/11/2024).

Menurutnya, pola pelatihan serupa itu menjadi pakem bagi semua widyaiswara Bapeltan Lampung yang sepanjang tahun melakukan berbagai pelatihan. Tak pelak tema pelatihan yang diberikan sangat beragam. Mulai dari teknik olah tanah, budidaya, penanganan penyakit hingga pascapanen. “Obyek tanaman yang dipelajari juga bervariasi. Ada tanaman hortikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Ada juga tanaman tahunan atau komoditi perkebunan kakao, kopi dan karet,” terang pria kelahiran Aceh ini.
Sejalan dengan itu, Bapeltan telah menyediakan demplot khusus bagi setiap komoditi. Selain demplot kopi, kakao dan karet, terdapat pula contoh komoditi lain di antaranya demplot cabai, jagung, bahkan hewan ternak seperti kambing dan sapi.
Untuk komoditi jagung, imbuhnya, Bapeltan Lampung memilih jenis bibit hibrida untuk diterapkan pada lahan percontohan. Pertimbangannya lantaran jagung hibrida bisa diolah menjadi pakan ternak dan ada cukup banyak pabrik pakan ternak di Lampung.

Sedangkan untuk ternak sapi, misalnya, dipilih sapi Bali. Pemilihan jenis sapi ini juga ada alasannya. “Karakter paling menonjol dari sapi Bali adalah mudah beradaptasi. Sehingga relatif mudah saat memberikan pakan. Sapinya tidak cerewet pilih jenis pakan. Diberi fermentasi limbah jagung dan kacang-kacangan saja sudah cukup. Budidayanya pun gampang,” ungkap Ichwanuddin.
Dia juga menguraikan, pola-pola serupa itu dimana hasil tanam bisa dipergunakan untuk pakan ternak merupakan cermin pelaksanaan pertanian terpadu atau integrated farming. Selanjutnya kotoran ternak dapat diproses menjadi biogas yang pada akhirnya menghasilkan bahan bakar (slurry) yang bisa dipergunakan untuk memasak.

Tak hanya sapi, Bapeltan Lampung terlihat sedang mempelajari lebih jauh tentang kambing. Jenis kambing yang dipilih di antaranya kambing rambon. Lalu ada pula kambing yang ditujukan untuk pemaksimalan produksi susu.
“Peningkatan produksi susu kambing bisa diupayakan. Malah seekor kambing mampu mencapai dua sampai tiga liter per hari. Permintaan terhadap susu kambing juga terbilang tinggi karena dianggap memiliki khasiat bagi pengobatan dan menjaga kesehatan,” tutur Ichwanuddin.

Dia juga mengutarakan, lembaga tempatnya bekerja tidak membatasi audiens peserta pelatihan hanya untuk petugas penyuluh. Kelompok masyarakat pertanian yang berminat mendalami dunia pertanian juga bisa mengikuti pelatihan.
“Iya, tupoksi Bapeltan Lampung memang memberi pelatihan kepada aparatur seperti petugas penyuluh. Tetapi peserta pelatihan bisa juga dari pihak nonaparatur. Anggota kelompok masyarakat, misalnya. Hanya saja semua perlu dikoordinasikan terlebih dahulu dengan bagian yang khusus membidani hal tersebut,” kata Ichwanuddin.(*)








