Penulis: Hendri Std


  • Munculnya beberapa dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di beberapa daerah menjadi sorotan banyak pihak.

    Jakarta (Progres.co.id): MENANGGAPI hal tersebut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengatakan insiden semacam itu lantaran sebagian besar mitra Satuan Pengelola Pengelolaan Gizi (SPPG) masih baru dan belum terbiasa menangani produksi makanan dalam jumlah besar.

    “Tidak dipungkiri itu memang ada. Penyebabnya karena rata-rata mitra masih belum terbiasa. Jadi kami sekarang menginstruksikan kepada mitra yang baru-baru agar memulai program dari jumlah kecil,” kata Dadan di Jakarta, Senin (3/3/2025).

    Untuk kepentingan itu pula, lanjutnya, BGN telah melakukan evaluasi harian terhadap setiap SPPG yang terlibat dalam program MBG. Sebagai langkah perbaikan, ada ketentuan mitra baru untuk memulai dengan jumlah kecil, sekitar 100-150 porsi. Bila sudah dirasa cukup kapasitasnya secara bertahap akan ditingkatkan sampai mencapai 3.000 porsi per hari. (*)

    sumber: Kompas



  • Biarpun memasuki bulan puasa, pemerintah tetap menjalankan Program Makan Bergizi Gratis atau MBG seperti biasa. Hanya saja ada penyesuaian.

    Jakarta (Progres.co.id): KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengemukkan, penyesuaian yang diterapkan mencakup mekanisme dan menu makanan.

    “Siswa yang berpuasa bisa membawa pulang makanannya dikonsumsi saat berbuka. Sedangkan yang tidak puasa bisa makan di sekolah,” katanya dalam kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (25/2/2025).

    Sementara menyangkut menu, sambung Dadan, penyesuaian dilakukan dengan memilih menu yang tahan lama seperti susu, telur rebus, kurma, kue kering hasil fortifikasi, serta buah. Menu yang disediakan juga akan diselingi dengan menyuguhkan bubur kacang hijau atau kolak.

    “Kita tetap mengutamakan komposisi gizi,  protein, karbohidrat, dan serat,” ucap Dadan. Dia turut menjelaskan pelaksanaan MBG dimulai setelah libur lima hari pertama Ramadhan dan berlangsung hingga menjelang Idul Fitri.

    Namun, imbuh Dadan, pada daerah yang mayoritas siswanya non-muslim, dapur MBG tetap memasak seperti biasa pada pekan awal puasa. Hanya saja nanti akan ada evaluasi setelah satu minggu untuk menyesuaikan kondisi di lapangan. “Ini dilakukan untuk mempertimbangkan ada yang puasa di wilayah itu. Evaluasinya seputar apakah tetap dilaksanakan atau ada kekhususan tertentu,” urainya.

    Untuk diketahui MBG sejauh ini sudah mencakup 38 provinsi dengan jumlah penerima mencapai 2 juta penerima manfaat.(*)



  • Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, berupaya memastikan penyaluran pupuk bersubsidi tepat sasaran dan tanpa kendala administratif. Penyederhanaan regulasi dan mengubah alur distribusi pupuk bersubsidi menjadi pilihannya.

    Pringsewu (Progres.co.id): MENINDAKLANJUTI instruksi Mentan tersebut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Ida Widi Arsanti, meresmikan Koperasi Jasa Karya Mandiri Sejahtera Pringsewu sebagai penyalur pupuk bersubsidi.

    Koperasi yang beralamat di Pekon Pujodadi, Kecamatan Pardasuka, Kabupaten Pringsewu, itu diketuai Agus Suwahyono. Dalam sambutannya, Ida menyampaikan peresmian ini merupakan langkah strategis untuk memastikan ketersediaan dan distribusi pupuk bersubsidi dapat berjalan lebih baik dan tepat sasaran.

    “Melalui koperasi ini kami berharap petani dapat memperoleh pupuk bersubsidi secara lebih mudah, transparan, dan tepat waktu. Dengan demikian produktivitas pertanian dapat terus meningkat,” kata Ida, Kamis (26/2/2025).

    Dirinya juga menekankan pentingnya dukungan berbagai pihak dalam mengoptimalkan peran koperasi sebagai penyalur pupuk subsidi. “Dengan adanya koordinasi yang baik antara koperasi, Dinas Pertanian dan para pemangku kepentingan lainnya, kita dapat memastikan distribusi pupuk mampu berjalan secara lebih efektif dan efisien. Selain itu, kita harus terus berinovasi dalam sistem pendistribusian agar tidak terjadi penyelewengan dan pupuk benar-benar sampai kepada petani yang berhak,” tambahnya.

    Pada bagian lain, Kepala Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung, Adi Destriadi Sutisna, yang turut mendampingi Kepala BPPSDMP menyampaikan terimakasih atas apresiasi yang diberikan Kementan terhadap petani modern termasuk kepada Koperasi Jasa Karya Mandiri Sejahtera Pringsewu.

    “Peresmian ini merupakan salah satu simbol sinergitas antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan petani serta pihak terkait dalam mendukung pertanian yang lebih maju dan berkelanjutan,” kata Adi, seraya berharap koperasi ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam memperbaiki tata kelola distribusi pupuk bersubsidi.

    Dia juga berharap Koperasi Jasa Karya Mandiri Sejahtera Pringsewu tidak hanya terbatas sebagai penyalur pupuk, tetapi juga menjadi pusat pengembangan sumber daya pertanian.

    “Kami selaku instansi pembina untuk wilayah Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Bangka Belitung mengharapkan koperasi ini dapat menjadi pusat edukasi bagi petani, memberikan pendampingan dalam penggunaan pupuk yang lebih efisien, serta mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan,” harap Adi Destriadi.

    Peresmian koperasi turut dihadiri perwakilan dari Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu, Kodim 0424 Tanggamus, Perwakilan Kapolres Pringsewu, serta Kepala Pekon Pujodadi. (*)



  • Nelayan menghadapi risiko kerja yang tinggi. Negara, melalui BPJS Ketenagakerjaan, hadir untuk memberi jaminan sosial. Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lampung berupaya meluaskan sosialisasinya ke kalangan nelayan.

    Bandarlampung (Progres.co.id): BAYU Witara, Ketua HNSI Lampung, mengutarakan keinginan untuk lebih meluaskan cakupan sosialisasi akan jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan di kalangan anggotanya.

    “Saat melaut nelayan punya risiko tinggi. Segenap anggota HNSI mesti memiliki kesadaran akan hal itu. Bila sudah memahami kita perlu antisipasi. Salah satunya melalui keikutsertaan pada jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan ini,” kata Bayu, Selasa (25/2/2025).

    Selain memiliki manfaat besar, untuk menjadi bagian dalam jaminan BPJS juga tidak memberatkan. Dikatakan Bayu, preminya hanya Rp16.800 per bulan. “Biayanya masih sangat terjangkau. Ini tinggal bagaimana menyosialisasikannya saja. Sehingga makin banyak nelayan yang memperoleh informasinya,” ungkap dia.

    Selain itu Bayu juga menyinggung perihal dukungan para juragan pemilik kapal. Menurutnya, jaminan terhadap keselamatan nelayan akan lebih terwujud bila ada kerjasama yang baik dengan para pemodal tersebut.

    Mengenai jaminan kematian dan jaminan kecelakaan kerja, Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Bandarlampung M Nuh memaparkan, sejak 2021 hingga 2024 terdapat 25 kasus dengan nilai Rp969 Juta. 

    “Sedangkan untuk nelayan, kami memberi perlindungan realisasi asuransi kepada 5.800 nelayan,” kata Nuh. 

    Jumlah kepesertaan ini, tambahnya, masih bisa ditingkatkan lagi. “Memang butuh sosialisasi lebih luas dengan bahasa penyampaian yang lebih komunikatif,” imbuh Nuh.(*)



  • Tekad Presiden Prabowo Subianto untuk segera mewujudkan swasembada pangan direspon berbagai kalangan. Termasuk oleh PT Pegadaian.

    Jakarta (Progres.co.id): Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT Pegadaian menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Mereka menyelenggarakan Bimbingan Teknis dan Uji Kompetensi Fasilitator Pertanian The Gade Integrated Farming yang berkolaborasi dengan Universitas Jenderal Soedirman, LSPPO, dan Intani yang berlangsung pada 13-16 Februari 2025 di The Rich Jogja Hotel, Yogyakarta.

    Kepala Divisi ESG PT Pegadaian Rully Yusuf, seperti dikutip melalui keterangan tertulis menyebutkan, program yang diusung pihaknya bertujuan memberikan pendampingan dan pemberdayaan bagi kelompok tani di daerah dengan berbagai komoditas unggulan yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

    “Melalui pelatihan dan sertifikasi ini, para petani diharapkan dapat meningkatkan keterampilan, pengetahuan, serta daya saing dalam bidang pertanian,” terangnya, Kamis (27/2/2025).

    Selain sesi bimbingan teknis dan uji kompetensi, para peserta juga mengikuti kunjungan ke berbagai lokasi pertanian inovatif, seperti Tani Organik Merapi dan PT Indoraya Mitra Persada 168, guna memperdalam pemahaman mereka terkait pertanian organik dan bioteknologi pertanian.

    Sedangkan peserta pelatihan mencakup fasilitator dan pendamping kegiatan pertanian, petani binaan TJSL PT Pegadaian, serta tamu undangan dari berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap pengembangan sektor pertanian. (*)



  • Ada ironisme yang berlangsung pada komoditi kelapa. Di satu sisi gembira karena produksi kelapa laku di pasaran. Tapi di sisi lain, ketika peredaran kelapa menipis lantaran diborong Tiongkok, Indonesia disebut-sebut menemui kondisi krisis kelapa. Lho, bagaimana ini?

    Jakarta (Progres.co.id): KABAR krisis kelapa itu seperti disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. “Peredaran kelapa di dalam negeri menipis. Kita sekarang malah kekurangan kelapa karena kelapa kita habis dibeli sama Tiongkok,” kata Zulhas, sapaan akrabnya, dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2025 di Hotel Westin, Jakarta, Rabu (26/2/2025).

    China agresif memborong kelapa dari Indonesia, tambah Menko Pangan, lantaran negeri berjuluk Tirai Bambu tersebut tengah menggalakkan pengelolaan coconut milk. “Itu semacam pengganti susu. Jadi kalau bikin kopi, tren di sana sekarang pakai santan, pakai susu kelapa, coconut milk itu,” katanya.

    Sesuai hukum pasar karena ada permintaan yang tinggi, alhasil harga kelapa merangkak naik. Kendati ada persoalan krisis kelapa, tapi Zulhas melihat ada peluang pasar yang besar untuk kelapa Indonesia.

    “Ini tentu bagus dan bisa menjadi peluang untuk anak-anak muda masuk ke sektor pertanian. Ini menjadi contoh konkrit bahwa pertanian punya potensi sangat menguntungkan. Malah nilai tukar komoditi pangan secara keseluruhan saat ini sudah menunjukkan tren nilai tukar yang terus membaik. Seperti pada hortikultura dan tanaman perkebunan yang terbilang paling menguntungkan,” ungkapnya.

    Oleh karenanya Zulhas membuka kesempatan kepada generasi muda untuk tidak ragu menekuni sektor pertanian. “Banyak program pemerintah yang mengarah ke bidang pertanian secara luas. Jadi, segera ambil bagian, berkecimpung di bidang ini. Fenomena kelapa ini bisa dijadikan cerminan,” pungkas Zulhas. (*)



  • Kementerian Pertanian (Kementan) serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melibatkan perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Pertanian untuk mendukung riset tentang pangan. Universitas Lampung turut di dalamnya.

    Jakarta (Progres.co.id): Ada banyak jalan menuju Roma. Ungkapan ini turut diterapkan pemerintah yang sedang berupaya mewujudkan swasembada pangan. Setidaknya ini tercermin lewat langkah Kementan bareng Kemdiktisaintek yang mengajak kolaborasi setidaknya 30 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Bagaimana caranya?

    Mendiktisaintek Brian Yuliarto menjelaskan, kampus merupakan ujung tombak pengembangan kemandirian pangan. Sehingga setiap kampus harus memilih dua strategi utama yakni peningkatan produktivitas dan hilirisasi. “Pengembangan ini merupakan tantangan besar sekaligus momentum bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang lebih bermakna,” ungkapnya, Selasa (25/2/2025).

    Brian juga menjelaskan perlu dilakukan penguatan industri pangan. Di masa depan, industri pangan harus bisa dikuasai bangsa sendiri agar Indonesia semakin maju.

    Pandangan serupa juga disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, yang datang ke acara penandatanganan Kesepahaman Bersama antara Kemdiktisaintek dan Kementan tentang Kesinergisan Program Bidang Pertanian dan Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam Rangka Mendukung Swasembada Pangan Nasional Berkelanjutan.

    Dikatakannya, Indonesia bisa memiliki keunggulan di sektor pertanian. Langkah utama untuk mencapai kemandirian pangan adalah pelibatan perguruan tinggi dan mahasiswa. “Kita bisa menjadi negara super power di sektor pertanian, itulah keunggulan komparatif kita,” ujarnya.

    Lebih lanjut Amran menguraikan program kerja sama dengan kampus-kampus yang dimaksudnya. Menurutnya, 30 perguruan tinggi yang terlibat akan aktif melakukan penelitian. Adapun riset difokuskan pada 10 komoditas pertanian dengan produktivitas rendah seperti padi, jagung, bawang putih, tebu, sapi, kedelai, pupuk, ubi kayu, gandum, dan kentang.

    Kemudian, sambung Amran, kampus akan ditunjuk memiliki fokus riset masing-masing. Contohnya IPB University fokus melakukan penelitian komoditas padi, Unhas meneliti jagung, dan UGM meneliti kedelai.

    Terkait anggaran penelitian, dia menjelaskan hal itu nantinya berasal dari Kementerian Pertanian, Kemdiktisaintek, dan perguruan tinggi masing-masing.

    Universitas Lampung (Unila) turut menghadiri sosialisasi ini. Unila dipimpin langsung oleh Rektor Lusmeilia Afriani. Selain BEM, rombongan juga berisikan perwakilan pengurus IKA Unila, termasuk di dalamnya Ketua Harian Ikaperta (Ikatan Keluarga Pertanian) Fahuri Wherlian Ali.

    Menurut penjelasannya, sama seperti perguruan tinggi lain di Indonesia yang dilibatkan dalam program ini. Unila juga akan melakukan riset terhadap komoditi tertentu.

    “Mungkin akan ada pembahasan lebih lanjut antara rektor dan pihak Fakultas Pertanian untuk penentuan jenis komoditasnya. Pada prinsipnya Ikaperta menyambut baik kerja sama ini. Bahkan saya akan berkoordinasi dengan Ketua Umum Ikaperta guna menentukan kontribusi apa yang bisa dilakukan Ikaperta dalam mendukung upaya riset yang akan dilakukan. Terlebih upaya ini merupakan langkah penunjang untuk mewujudkan swasembada pangan. Jadi pasti Ikaperta akan tirut mengambil peran di dalamnya,” terang Werli, sapaan akrabnya. (*)



  • Prof Hajrial kembali meluncurkan bibit padi varietas baru. Bibit hasil pemuliaannya ini dikenal memiliki karakter unggul yang disenangi petani.

    Jawa Barat (Progres.co.id): ANTUSIASME petani terhadap bibit padi hasil penelitian para ahli tersebut terlihat saat Wakil Rektor IPB University bidang Riset, Inovasi dan Pengembangan Agromaritim, Ernan Rustiadi, menyambangi petani padi di Kampung Warung Tiwu, Jawa Barat, baru-baru ini.

    Kunjungan itu bersamaan dengan panen padi varietas IPB 14S yang ditanam petani dari Kelompok Tani Sri Hegarmanah dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Cinta Tani. Sebelumnya, para petani juga sudah memanen varietas IPB 9G, IPB 12S, IPB 13S, dan IPB 15S.

    “Varietas IPB 12S, 13S, 14S, dan 15S adalah generasi baru dari padi tipe baru yang sudah dilepas sebelumnya, yaitu varietas IPB 3S, IPB 4S, IPB 8G, dan IPB 9G. Padi hasil pemuliaan Prof Hajrial ini memiliki karakter unggul dalam hal mutu beras dan morfologi-fisiologi sebagai perbaikan dari karakter generasi sebelumnya,” terang Dr Junaedi, periset yang turut hadir.

    Nana Sukatna, Ketua Gapoktan Cinta Tani yang juga pimpinan Sistem Resi Gudang (SRG) Koperasi Niaga Mukti mengungkapkan, dominasi varietas Ciherang, IR64, dan INPARI 32 yang sudah relatif jenuh di kalangan petani, memerlukan alternatif varietas unggul baru yang lain.

    “Semoga di antara varietas generasi baru IPB ini akan ada yang bisa berkembang memenuhi harapan petani, industri pengolahan beras, konsumen beras dan para pemangku kepentingan lainnya sehingga dapat berkembang di kalangan petani padi,” harapnya.

    Sedangkan Deni Kurnia, Ketua Kelompok Tani Sri Hegarmanah menyebut, “Pertumbuhan padi varietas IPB di lahan sawah yang saya tanam telah menarik perhatian petani lain. Banyak petani menanyakan, karena penampilan varietas IPB ini berbeda dari yang biasanya ditanam petani di sini,” terangnya.

    “Ketahanannya pada penyakit blast dan rangkaian malainya yang lebat dengan bulir gabah yang besar juga terlihat di lapangan,” kata Deni.

    Dia juga menambahkan, hasil panen yang diperoleh juga di atas rata-rata. Bahkan mutu berasnya sangat bagus dan rasanya pulen. “Ini sesuatu yang menjanjikan,” ucapnya.

    Selain itu Ernan menyampaikan, IPB University konsisten mendukung petani memproduksi pangan, khususnya beras. Langkah itu tak lain untuk memenuhi harapan konsumen dalam hal kualitas sekaligus untuk menyejahterakan petani dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi pembiayaan produksi.

    “Ada potensi dan peluang sinergi antara unit usaha akademik dan gapoktan, poktan, dan koperasi pengelola SRG untuk mengembangkan padi-padi varietas unggul IPB University,” ujarnya.

    Varietas tersebut, kata Ernan, telah mendapat respons pasar dan konsumen yang baik untuk dikembangkan dalam ekosistem rantai pasok hulu hilir yang bisa memberikan kemanfaatan bagi para pihak. Ia berharap program-program aksi IPB University untuk mendampingi petani dan mengembangkan ekosistem bisnis bisa terus konsisten. (*)



  • Fokus pemerintah untuk menjaga stok pangan di Indonesia kiranya membuahkan hasil.

    Jakarta (Peogres.co.id); KETIKA Filipina dan Malaysia juga Jepang, sedang mengalami krisis pangan, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi, justru menyebut stok beras dalam negeri aman, bahkan surplus hingga 5 juta ton.

    Dia mengutip prediksi yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwq Indonesia mengalami surplus produksi beras hingga 5 juta ton di Maret-April. Hanya saja Arief menyebut harga beras di tingkat petani dikhawatirkan bisa anjlok.

    “Walau produksi aman, tapi bukan berarti tanpa kendala. Malah kita agak khawatir jangan sampai harga gabah di tingkat petani  jatuh,” kata Arief dikutip dari akun Instagram @badanpangannasional, Minggu (23/2/2025).

    Untungnya, imbuh dia, stok beras di cadangan pangan pemerintah telah mencapai 2 juta ton beras. Dengan demikian masih terbuka harapan harga beras dapat stabil. Arief memastikan harga beras premium masih di angka Rp 14.900/kg untuk di Pulau Jawa. Kemudian untuk beras medium harganya variatif, kisaran di level Rp13.000/kg.

    Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap telah terjadi krisis pangan di sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Filipina dan Jepang. Ia menyebut harga beras di tiga negara tersebut mengalami lonjakan yang sangat signifikan.

    Di Jepang, pemerintah untuk pertama kalinya dalam sejarah, melepaskan 210.000 ton beras dari cadangan darurat satu juta ton akibat lonjakan harga ekstrem. Menurutnya, kenaikan harga beras di negara itu hingga 82%.

    Sementara di Malaysia, kelangkaan beras lokal memicu kepanikan di masyarakat. Pasokan yang menipis menyebabkan lonjakan harga. Di sisi lain harga beras impor kini lebih tinggi.

    Kemudian, Filipina juga telah menetapkan status darurat ketahanan pangan sejak awal Februari 2025 setelah inflasi beras mencapai 24,4%. Angka inflasi tertinggi dalam 15 tahun terakhir.

    “Negara yang bergantung pada impor beras seperti Filipina dan Malaysia sangat rentan ketika pasokan global terganggu. Ini menjadi pelajaran berharga bahwa ketergantungan pada impor bukanlah solusi jangka panjang. Indonesia harus memperkuat produksi dalam negeri,” ucap Amran dalam keterangannya, beberapa waktu lalu.(*)



  • Merasa terjepit oleh “tekanan” Kementerian Pertanian dan legislator Lampung, para pemilik pabrik tapioka kompak “mengadopsi” taktik tiki-taka yang biasa dipertontonkan Barcelona era Pep Guardiola. Tak dinyana para cukong itu seakan tengah menggocek bola panas untuk kemudian menyerang balik.

    (Progres.co.id): FILOSOFI tiki-taka di dunia persepakbolaan adalah mempertahankan penguasaan bola hingga muncul peluang menyerang. Ketika dihimpit serangan lawan, tim penganut taktik tiki-taka bakal menggerakkan bola dengan cepat keluar dari tekanan.

    Caranya dengan menggunakan passing satu-dua sentuhan bola. Lalu memastikan mengalirkan si kulit bundar ke ruang penguasaan, sambil tim mereposisi kembali pertahanan.

    Melalui umpan pendek dan cepat, namun tetap memelihara rasa sabar, pergerakkan difokuskan untuk membuka garis pertahanan lawan. Kalau sukses, tim yang awalnya dikepung dapat membalikkan keadaan dengan menggedor balik pertahanan lawan. Sambil, tentunya, mencari peluang buat melesakkan gol.

    Penulis melihat fenomena tiki-taka serupa ini berlangsung pula pada perkara singkong di Lampung. Bermula dari menjeritnya para petani lantaran harga singkong melorot tajam.

    Sudah disengat terik-dilabur debu, dan merogoh kocek dalam-dalam beli pupuk untuk menggemukkan singkong, ketika dijual pihak pabrikan ogah bayar sepadan. Jangankan balik modal. Petani singkong malah tepok jidat sambil mimik meringis pedih. Jerih payahnya tak ubah seperti sedang menyiapkan jerat tali untuk mencekik leher sendiri.

    Ketimbang frustrasi lalu amok, para petani memilih merapatkan barisan. Sum-suman menyewa truk untuk mengadu pada wakilnya di gedung parlemen di DPRD Lampung. Gayung bersambut, legislatif dan eksekutif menunjukkan keberpihakkan. Cukong-cukong pemilik pabrik tapioka dimintai komitmen membeli singkong petani -sebelumnya di bawah seribu per kilogram- menjadi Rp1.400 per kilogram.

    Pada titik ini “skuad pabrikan” mulai merasa diserang. Tak mau menyerah begitu saja mereka mulai terinspirasi taktik tiki-taka. Rebut bola lalu bermain passing. Alur bola lantas ditentukan mereka. Pelan-pelan saja. Sambil melihat peluang buat berkelit.

    Strategi pun dimulai. Biarpun keputusan bersama dan surat edaran terkait penetapan harga singkong sudah diberlakukan, para cukong mbalelo. Mereka tetap konsisten dengan langgam permainannya sendiri; membeli singkong tanpa menggubris harga kesepakatan. Tak pelak petani singkong terkejut. Mereka merasa kecele. Dipermainkan oleh tiki-taka bos pabrik tapioka.

    Tak sudi melihat nasib petani terus dipermainkan, Kementerian Pertanian langsung turun tangan. Konstelasi permainan untuk sesaat berubah. Bola berhasil direbut dan “seakan-akan” dikuasai tim petani.

    Terlebih setelah Menteri Pertanian, Amran, menegaskan harga singkong minimal Rp1.350 per kilogram. Selisih gocap dari ketentuan yang digariskan Pemprov Lampung. Mentan juga menutup keran impor singkong. Bisa dibuka, tapi dengan catatan ketat.

    Kini serangan berbalik arah. Gawang tim pabrikan terancam. Tapi apa lacur, skuad ini bukan klub amatir tarkam atau tarikan kampung yang mudah gugup saat di-pressure lawan. Keputusan Mentan memang terasa sebagai tekanan berat. Tapi bisnis ibarat sebuah permainan bola. Ada waktu menyerang pasar, tapi perlu pula wait and see menahan diri.

    Tak pelak siasat baru mesti disusun sebagai respon. Seluruh pemain sontak ditarik mundur. Ditumpuk di depan gawang, bertahan ala parkir bus. Agaknya, ini dianggap pilihan strategi paling pas, ketimbang langsung bertekuk lutut mengamini desakkan Mentan. Sebab manut pada instruksi tersebut sama artinya mengurangi cuan, menggerus profit.

    Taktik tiki-taka mesti terus diperagakan. Hanya saja perlu dimodifikasi. Passing bola memang masih dilakukan. Tapi kali ini hanya dialirkan di area pertahanan sendiri. Lalu pelan-pelan semua pemain menyusun barisan tepat di garis gawang, menutup celah.

    Dalam praktik realitanya satu per satu perusahaan tapioka itu menutup pabriknya. Menghentikan produksi. Mati suri. Itu berarti mereka tidak perlu tunduk pada keputusan kementan. Tak berproduksi sama artinya tak perlu menjalankan titah Amran.

    Celakanya, siasat ini langsung memakan korban. Petani singkong sontak kena dampaknya. Singkong mereka tak ada yang membeli, lalu rusak seiring raibnya harapan.

    Sebaliknya, melalui peragaan tiki-taka para cukong tapioka seakan sedang mengirim pesan. Keputusan Mentan menjadi tampak seperti bumerang. Menerabas urat nadi sumber penghidupan petani singkong itu sendiri.

    Sedangkan bagi para cukong, pabrik “rehat” sejenak bukan masalah besar. Karena isi pundi-pundi mereka masih penuh untuk menggerakkan bisnis lain. Ini gaya tiki-taka. Bermain passing pendek, sambil menunggu celah.

    Kalau saja pemerintah mau meladeni strategi tersebut, bisa saja menerapkan pola total football. Sebab, akar dari permainan tiki-taka itu diyakini berasal dari pola permainan sepakbola total football yang dianut tim Orange, Belanda.

    Kalau ditelusuri dari berbagai referensi, Wikipedia misalnya, disebutkan Johan Cruyff merupakan salah satu pencetus gaya permainan tiki-taka. Cruyff menerapkan gaya permainan ini saat menjabat sebagai manajer Barcelona dari tahun 1988 hingga 1996. 

    Sedangkan penggemar sepak bola juga sangat paham, Cruyff sendiri sebagai pemain timnas De Oranje, dia sangat fasih memainkan gaya khas Belanda, total football. Tiki-taka dan total football sama-sama menitikberatkan permainan dengan penguasaan bola.

    Maka, agar tidak “dilipet” oleh gaya tiki-taka cukong tapioka, pemerintah dapat saja menandinginya dengan total football.

    Kalau mau ditengok, filosofi total football adalah taktik permainan sepak bola yang mengedepankan penguasaan bola, intensitas tinggi, dan fleksibilitas formasi. Dalam pola ini, setiap pemain dapat mengambil alih peran pemain lain dalam sebuah tim.

    “Mengambil alih peran” menjadi kunciannya. Presiden Prabowo beberapa waktu lalu juga sempat menggelindingkan wacana, atau tepatnya mengeluarkan ancaman, terhadap pengusaha penggiling gabah.

    Semua berawal ketika ada banyak pengusaha penggilingan yang masih bermain-main dengan harga gabah kering. Presiden tidak terima. Dia langsung menyodorkan opsi: nurut atau usahanya ditutup, lalu penggilingan padi diambil alih oleh pemerintah. Ini fatsun total football sejati.

    Kalau mau, sikap tegas serupa ini juga bisa diterapkan di ranah komoditi singkong. Apalagi, kedudukan singkong sudah dinggap “setara” dengan padi, sebagai bagian dari kategori usaha tani subsektor tanaman pangan, termasuk di dalamnya jagung dan kedelai.

    Karena dianggap sebagai satu kategori, perlakuannya pun mulai disesuaikan. Ini bisa dilihat dari Permentan Nomor 4/2025 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2022 tentang Tata Cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian.

    Melalui Permentan ini, sama seperti padi, tanaman ubi kayu juga mulai memperoleh jatah pupuk subsidi.

    Kalau memang mau konsisten dengan prinsip tersebut, seharusnya pemerintah juga dapat mnerapkan jurus total football di ranah persingkongan. Minta pabrikan tapioka menghentikan akal-akalan pola tiki-takanya, atau pemerintah masuk mengambil alih pabrikan tapioka, seperti opsi yang disampaikn Presiden Prabowo pada pengusaha penggilingan gabah.

    Kalau ini benar-benar dilakukan, penulis yakin pola total football pemerintah bakal mampu mengatasi licinnya manuver tiki-taka pengusaha tapioka.(*)