Penulis: Suryani


  • Provinsi Lampung punya andil besar dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Fakta ini disampaikan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto, dalam acara Temu Teknis Penyuluh Pertanian Provinsi Lampung Tahun 2024.

    Bandar Lampung (Progres.co.id): “KEGIATAN ini adalah langkah penting untuk menyinergikan berbagai pihak dalam mendukung sektor pertanian, khususnya untuk mewujudkan swasembada pangan,” ujar Bani dalam sambutannya di Hotel Horison, Senin (2/12/2024).

    Lampung, katanya, punya modal kuat untuk jadi pemimpin pertanian di Sumatera. Pada tahun 2023, Lampung tercatat sebagai salah satu daerah penghasil utama padi, jagung, ubi kayu, pisang, dan nanas. Beberapa komoditas ini bahkan masuk jajaran teratas di tingkat nasional.

    Namun, tantangan tak bisa dihindari. “Penting untuk memenuhi kebutuhan dasar petani, seperti benih, pupuk, dan pestisida. Ini harus menjadi prioritas untuk mendukung produktivitas,” tambah Bani.

    Tantangan lain yang disebutkan adalah perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan masalah kelembagaan petani yang belum optimal. “Di sinilah peran penyuluh pertanian menjadi sangat krusial. Mereka adalah jembatan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan petani di lapangan,” jelasnya.

    Bani juga mendorong adopsi teknologi pertanian modern. “Pertanian modern itu tidak hanya sekadar pakai mesin, tapi juga soal manajemen yang efisien, pemanfaatan teknologi canggih, dan keterlibatan generasi muda. Ini semua demi meningkatkan hasil dan nilai tambah produk pertanian,” tutupnya.(*)



  • Menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di wilayah pesisir, merupakan tanggung jawab bersama. Dalam semangat itulah Ikatan Alumni Pertanian (Ikaperta) Universitas Lampung (Unila) di bawah kepemimpinan Elvira Umihanni menggelar kegiatan bakti sosial. 

    Lampung (Progres.co.id): “MELALUI kegiatan ini, kami ingin masyarakat pesisir lebih peduli terhadap lingkungan. Ikaperta berkomitmen untuk berkontribusi dalam melindungi pesisir pantai Provinsi Lampung,” ujar Ketua Umum Ikaperta Unila, Elvira Umihanni, yang juga menjabat sebagai Kepala Bappeda Provinsi Lampung.

    Bakti sosial ini tak hanya menjadi bagian dari perayaan Dies Natalis Fakultas Pertanian Unila ke-51, tetapi juga wujud nyata upaya Ikaperta untuk mengedukasi masyarakat.

    Elvira juga mengungkapkan rencana Ikaperta untuk terus berkontribusi kepada masyarakat dan almamater. “Kedepan, kami akan menjalankan program pendampingan bagi petani untuk meningkatkan produktivitas, melalui penggunaan bibit unggul dan teknologi pertanian. Selain itu, kami juga berkomitmen membantu para calon alumni Fakultas Pertanian dengan pembekalan keterampilan, seperti cara menghadapi tes kerja dan wawancara,” jelasnya, saat ditemui Progres.co.id di pesisir pantai Desa Sukajaya, Kabupaten Pesawaran, Sabtu (30/11/2024).

    Melalui kegiatan bakti sosial ini, Ikaperta ingin menegaskan keberadaan organisasi yang tidak hanya memberi manfaat bagi kampus, tetapi juga masyarakat luas. Harapan besar disampaikan Elvira agar Ikaperta terus menjalankan amanah ini untuk mendukung pembangunan daerah di Provinsi Lampung.

    “Semoga kami selalu bisa memberikan dampak positif, baik bagi almamater maupun masyarakat,” harap Elvira yang ikut terlibat langsung dalam penanaman mangrove, serta bersih-bersih pantai yang merupakan rangkaian bakti sosial, selain gelaran pasar murah.(*)



  • Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan, Ikatan Alumni Pertanian (IKAPERTA) Universitas Lampung (Unila) menggelar bakti sosial.

    Pesawaran (Progres.co.id): KEGIATAN di pesisir pantai Desa Sukajaya, Lempasing, Kabupaten Pesawaran pada Sabtu (30/11/2024) ini dihelat untuk memperingati Dies Natalis Fakultas Pertanian Unila ke-51.

    Seperti dijelaskan Ketua Pelaksana, Zaemudin Akbar, Ikaperta Unila menggelar rangkaian kegiatan mulai dari aksi bersih-bersih pantai hingga penanaman mangrove, serta gelaran pasar murah.

    Ikaperta Unila Melakukan Aksi Bersih-Bersih Pantai di Pesawaran

    “Melalui bakti sosial ini kami, Ikaperta Unila, ingin berkontribusi sekaligus mengedukasi masyarakat sekitar, bahwa sekecil apa pun upaya kita menjaga kelestarin ekosistem pantai, hasilnya akan berdampak besar terhadap lingkungan dan keberlangsungan makhluk hidup,” terang Zaemudin.

    Oleh karenanya aksi bersih-bersih pantai yang diikuti puluhan anggota Ikaperta ini, tidak sekadar memungut sampah guna membersihkan pantai. Lebih dari itu sampah yang dikumpulkan selanjutnya dipilah berdasarkan kategori organik dan unorganik. Berikutnya pengelolaan sampah dilakukan dengan konsep ramah lingkungan.

    Ikaperta Unila Menanam Mangrove di Pesisir Pantai Pesawaran

    Demikian pula dengan penanaman mangrove. Menurut Zaemudin, penanaman seribu bibit mangrove bukan sebatas seremonial. “Kami sangat menyadari potensi ancaman abrasi yang bila dibiarkan terus berlangsung bisa menimbulkan persoalan besar. Penanaman mangrove dimaksudkan untuk mengantisipasinya,” terang Zaemudin.

    Untuk itu, imbuhnya, perhatian Ikaperta tidak hanya berhenti pada tahapan penanaman. Karena ada fase yang tidak kalah pentingnya yakni memastikan bibit mangrove tetap terawat dan terjaga hingga dapat tumbuh seperti yang diharapkan.

    “Kita melibatkan partisipasi warga sekitar. Melalui pendekatan sebelumnya, kami mengajak warga berbagi tugas. Kami mencarikan bibit mangrove dan menanamnya, selanjutnya warga yang merawat. Kegiatan ini dijalankan dengan spirit kolaborasi,” kata Zaemudin.

    Kontribusi Ikaperta Unila bersama Pihak Terkait

    Dia juga memaparkan, rangkaian kegiatan ini didukung oleh banyak pihak. Seperti bibit mangrove merupakan suport dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Seputih-Sekampung. Sedangkan untuk gelaran pasar murah didukung oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung.

    Pada pasar murah ditawarkan berbagai kebutuhan pokok warga Desa Sukajaya Lempasing dan sekitarnya. Seperti beras, telur, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, tepung terigu, dan gula putih. Harga yang dibanderol pun sangat terjangkau. Di bawah harga pasar.

    Zaemudin pun menambahkan, kegiatan bakti sosial ini turut didukung oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, dan Dinas Perkebunan Provinsi Lampung.

    “Pemkab Pesawaran juga ikut berpartisipasi. Lalu dari pihak swasta ikut andil PT Coca-Cola. Beberapa komunitas lingkungan juga aktif membantu termasuk Forum Sampah Lampung dan Gajahlah Kebersihan,” tutupnya. (*)



  • Guna meningkatkan efektivitas dan pengelolaan peyuluhan yang lebih terkoordinasi, pemerintah kini menyepakati penyuluh pertanian akan berada di bawah koordinasi langsung pemerintah pusat.

    Jakarta (Progres.co.id): “KESEPAKATAN itu nanti akan diatur melalui Peraturan Presiden,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) menteri-menteri bidang pangan di Jakarta, Kamis (28/11/2024).

    Seperti dikutip dari Kompas.com, Zulkifli menjelaskan saat ini penyuluh pertanian masih berada di bawah pengawasan pemerintah daerah sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006. Namun, dengan perubahan ini, seluruh penyuluh pertanian—yang jumlahnya mencapai sekitar 38 ribu orang—akan ditangani langsung oleh Kementerian Pertanian.

    Rakortas yang berlangsung di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut dihadiri sejumlah menteri, di antaranya Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto.

    Selain membahas koordinasi penyuluh pertanian, Rakortas juga menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak mengimpor garam konsumsi mulai 2025. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya menuju swasembada pangan, yang targetnya dimajukan oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi tahun 2027.(*)



  • Pemerintah berencana memangkas aturan penyaluran pupuk bersubsidi yang selama ini dinilai ribet dan menyulitkan petani. 

    (Progres.co.id): “KITA pangkas semua,” ucap Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan saat menghadiri gelaran Hari Pangan Sedunia di Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini.

    Sebelumnya, alur distribusi pupuk subsidi harus melewati berbagai tahapan panjang, mulai dari pengajuan oleh petani, persetujuan di tingkat camat, bupati, gubernur, hingga kementerian terkait, termasuk Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Keuangan. Namun, dengan adanya rencana penerbitan Peraturan Presiden (Perpres), proses distribusi akan jauh lebih sederhana.

    Dalam sistem baru ini, pupuk bersubsidi dapat langsung didistribusikan dari produsen ke Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Perubahan ini secara tidak langsung dapat mempercepat akses petani terhadap pupuk.

    Tak hanya menyederhanakan alur distribusi, Zulkifli juga mengungkapkan perubahan mekanisme penentuan subsidi pupuk. Jika sebelumnya subsidi dihitung berdasarkan anggaran, kini pemerintah menetapkannya berdasarkan kuota atau volume.

    “Selama ini, kuota subsidi pupuk mengikuti besaran anggaran yang sifatnya fluktuatif, bisa naik atau turun. Dengan sistem kuota, volume pupuk dapat dipastikan tetap,” jelas Zulkifli, seperti dikutip dari Kompas.com.

    Langkah ini juga diperkuat dengan terbitnya Keputusan Menteri Pertanian Nomor 249 Tahun 2024. Dalam keputusan tersebut, pemerintah menetapkan alokasi subsidi pupuk sebesar 9,55 juta ton dengan anggaran mencapai Rp 49,9 triliun. Subsidi ini mencakup empat jenis pupuk, yaitu Urea, NPK, NPK Formula Khusus, dan pupuk organik.(*)



  • Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) melangsungkan pengukuhan pengurus komsariat Bandar Lampung periode 2024-2027.

    Bandar Lampung (Progres.co.id): PENGUKUHAN dihelat berdasarkan Surat Keputusan (SK) Ketua Pengurus Pusat PERHEPI Nomor 0704/SK/PPPERHEPI/11/2024. SK menetapkan Teguh Endaryanto sebagai Ketua PERHEPI Komisariat Bandar Lampung.

    Dalam sambutannya, Bustanul Arifin, Ketua Umum Pengurus Pusat PERHEPI, menekankan pentingnya komitmen untuk mendukung kesejahteraan petani. “Apa pun profesinya, baik pedagang, gubernur Bank Indonesia, maupun dosen, mohon tetap memikirkan kesejahteraan petani. Insya Allah, PERHEPI akan terus berkontribusi, baik di Lampung maupun di seluruh Indonesia,” ujarnya, di Aula Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Kamis (21/11/2024).

    Bustanul juga menekankan kepada pengurus PERHEPI yang baru dilantik agar selalu mengamalkan tagline PERHEPI untuk Kesejahteraan Petani.

    Senada dengan itu Teguh Endaryanto menegaskan, kepengurusannya akan menjalankan arahan ketua umum. “Sedangkan tantangannya, tentu PERHEPI Bandar Lampung harus mampu berkontribusi bagi terealisasinya pertanian secara berkelanjutan,” ungkapnya.

    Teguh Endaryanto Ketua PERHEPI Komisariat Bandar Lampung Periode 2024-2027

    Sebagai langkah awal, imbuh Teguh, kepengurusan baru menggelar seminar nasional bertema Transformasi Sistem Pangan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Dia berharap kegiatan ini dapat memberikan sumbangan nyata dalam menyelesaikan berbagai tantangan pertanian.

    Pengurus PERHEPI Komisariat Bandar Lampung Periode 2024-2027

    Lebih lanjut dirinya menambahkan, kepengurusan baru akan segera berkoordinasi guna menyusun program kerja sesuai tantangan pertanian yang ada, khususnya di Lampung.

    “Kami ingin PERHEPI tidak hanya menjadi organisasi profesi, tetapi juga bagian dari masyarakat Lampung yang berkontribusi untuk pembangunan daerah secara lebih luas,” tutupnya.(*)



  • Air memiliki peran krusial dalam menjaga ketahanan pangan. Beberapa tahun terakhir pemerintah fokus memperkuat sumber daya air melalui pembangunan dan rehabilitasi irigasi serta optimalisasi bendungan. Namun, persoalan air tetap menjadi tantangan utama yang belum sepenuhnya teratasi.

    Jakarta (Progres.co.id): GUNA mengatasi persoalan air sekaligus mendukung target swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo usulkan pembentukan Instruksi Presiden (Inpres) yang fokus pada pembangunan irigasi.

    Swasembada pangan, menurut Dody, tidak dapat tercapai tanpa adanya kerja sama dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Daerah. “Untuk itu, kami adakan diskusi dengan stakeholder terkait, agar ada kewajiban untuk membuat saluran irigasi dan sambungan rumah yang optimal bagi masyarakat,” terang Dody dalam keterangan tertulis, Selasa (19/11/2024).

    Dikutip dari detikfinance, diskusi tersebut menghasilkan kerja sama antara Kementerian PU dengan Kementerian Pertanian untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk mewujudkan swasembada pangan. “Kami telah menandatangani MoU, selanjutnya tinggal menjalankan peran masing-masing,” ucapnya.

    Dalam pembagian peran, Kementerian PU bertanggung jawab atas penyediaan air irigasi, baik melalui bendungan yang telah dibangun maupun jaringan irigasi yang direvitalisasi. Sementara itu, Kementan akan fokus pada penyediaan sarana produksi pertanian.

    Lebih lanjut, Dody menekankan infrastruktur menjadi fondasi utama dalam mendukung visi misi Asta Cita, khususnya di bidang ketahanan pangan, air, dan energi. “Untuk saat ini, kami memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur yang telah ada sembari terus membangun yang baru,” imbuhnya.

    Senada dengan Dody, Wakil Menteri PU, Diana Kusumastuti, berharap adanya penyesuaian alokasi anggaran di tingkat daerah untuk memastikan infrastruktur yang sudah dibangun dapat dikelola dengan baik. “Pengelolaan yang optimal akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” tutupnya.(*)



  • Beragam permasalahan kerap dihadapi petani, salah satunya adalah sulitnya mengoperasikan pompa air di areal sawah, terutama di wilayah yang belum memiliki pasokan listrik atau sulit mendapatkan bahan bakar. Untuk menjawab tantangan ini, Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung memperkenalkan teknologi inovatif bernama Smart Solaris Pump (SSP).

    Lampung Selatan (Progres.co.id): SSP adalah perangkat penggerak pompa air yang menggunakan energi alternatif dan dapat dikendalikan otomatis dari jarak jauh. Kepala Bapeltan Lampung, Abdul Roni Angkat, memamerkan teknologi inovasi ini saat melakukan kunjungan kerja Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku, Jum’at (08/11/2024).

    SSP dirancang oleh Abdul Roni bersama mahasiswa Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Teknologi ini lahir dari pengalaman Abdul Roni dalam menangani program pompanisasi di wilayah kerja Bapeltan Lampung.

    “Air adalah kebutuhan penting bagi tanaman. Kami perlu menyiasati kendala penyediaan air ini, terutama untuk menggerakkan pompa yang membawa air dari sungai atau bendungan ke sawah petani,” ujar Abdul Roni.

    Menurutnya, SSP dapat menjadi solusi bagi petani di daerah terpencil yang belum terjangkau listrik. Dengan sistem kendali jarak jauh, SSP menawarkan kemudahan dan efisiensi dalam pengoperasiannya.

    Abdul Roni berkomitmen mengembangkan SSP agar siap digunakan oleh petani di seluruh Indonesia. “Kami terus menyempurnakan alat ini, baik dari segi fisik, komponen, maupun operasionalnya,” jelasnya.

    Teknologi SSP juga mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian yang tengah menggalakkan modernisasi pertanian melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian (Alsintan). Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan Alsintan memainkan peran penting dalam meningkatkan produktivitas pangan dan mempercepat langkah menuju swasembada pangan.

    Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya kolaborasi untuk meningkatkan efisiensi produksi dan pendapatan petani. “Dengan pemanfaatan Alsintan, kita optimis dapat mendorong pengembangan usahatani yang lebih modern,” kata Idha.

    Selain SSP, Bapeltan Lampung juga sebelumnya telah menciptakan teknologi Low Cost Smart Farming. Teknologi otomatisasi ini membantu petani dalam pengairan dan pemupukan, sekaligus memangkas biaya tenaga kerja.

    “Low Cost Smart Farming telah diterapkan di berbagai daerah di Indonesia, dan kami berharap SSP juga dapat diterima oleh petani. Dengan teknologi ini, kita optimis swasembada pangan bisa tercapai, bahkan di daerah tanpa listrik,” pungkas Abdul Roni.(*)



  • Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung menjadi tempat bagi mahasiswa peserta program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri.

    Lampung (Progres.co.id): SEBANYAK 33 mahasiswa dari empat universitas ternama dengan berbagai jurusan tinggal di asrama Bapeltan Lampung. Mereka berkolaborasi mengerjakan berbagai proyek sebagai kontribusi dalam pengembangan pertanian berbasis teknologi.

    Exa, mahasiswa jurusan Ilmu Tanah dari Universitas Lampung, misalnya, bersama 14 rekannya merancang dan membuat alat biochar berbahan dasar sekam padi. Alat tersebut terdiri atas dua drum, dimana drum pertama digunakan untuk pembakaran, sementara asap pembakaran dialirkan melalui corong menuju drum kedua yang berisi air. Proses ini menghasilkan asap cair yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida alami.

    “Selain berfungsi untuk membuat arang sekam, limbah dari alat ini juga dapat dimanfaatkan oleh petani untuk pestisida alami,” ujar Exa kepada Progres.co.id, Senin (18/11/2024).

    Tidak kalah menarik, Deo, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), bersama timnya menciptakan Smart Solaris Pump (SSP), sebuah pompa air bertenaga surya. Alat ini dirancang menggunakan panel surya untuk menggantikan listrik konvensional. Bahkan, dengan adanya baterai penyimpan energi, alat ini tetap berfungsi pada malam hari.

    “Pompa ini juga dilengkapi sistem otomatis. Jika debit air mencapai batas tertentu, alat akan berhenti dengan sendirinya. Selain itu, pengguna bisa mengoperasikannya melalui aplikasi di smartphone,” jelas Deo antusias.

    Kepala Bapeltan Lampung, Abdul Roni Angkat sangat bangga atas desain SSP yang ia buat bersama mahasiswa IPB di Bapeltan. Ia mengatakan air merupakan kebutuhan penting bagi tanaman, sehingga diperlukan teknologi untuk menyiasati permasalahan terkait penyediaan air.

    “Smart Solaris Pump hadir untuk memudahkan petani menggerakkan pompa air walau pun areal persawahannya belum tersedia listrik,” ucapnya dalam kunjungan kerja Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkulu, Jum’at (08/11).

    Eka, mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, bersama lima rekannya berinovasi menciptakan alat pencabut singkong manual. Meski masih dalam tahap awal, mereka berencana mengembangkan alat mekanis berbasis hidrolik untuk mempermudah petani memanen singkong dalam skala lebih besar.

    Bersamaan dengan itu, Afif, mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya Jurusan Sistem Komputer, turut mendukung proyek tersebut dengan menciptakan alat pengukur tekanan berbasis sensor load cell. Alat ini dirancang untuk mengukur kekuatan tekanan yang diterima alat pencabut singkong, mempermudah evaluasi dan peningkatan alat di masa depan.

    “Sensor ini bekerja dengan mengukur tekanan dan menampilkannya secara langsung di layar LCD,” papar Afif.

    Inovasi lainnya datang dari tim PKL Polbangtan yang tengah mengembangkan paranet otomatis. Alat ini dirancang untuk menutup area tanaman secara otomatis jika suhu lingkungan melebihi 31 derajat Celsius.

    “Sistem ini membantu melindungi tanaman dari paparan suhu tinggi yang dapat mengganggu pertumbuhan,” jelas Eka, sambil menunjukkan kerangka awal paranet.

    Berbagai proyek inovasi yang dihasilkan oleh mahasiswa MBKM dan PKL di Bapeltan Lampung mencerminkan semangat kolaborasi dan kreativitas generasi muda dalam mengembangkan konsep smart farming. Dengan mengintegrasikan teknologi ke dalam praktik pertanian, mereka berusaha meningkatkan efisiensi dan produktivitas di sektor pertanian, sekaligus menjawab tantangan masa depan.

    Hal ini selaras dengan ungkapan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman bahwa teknologi pertanian adalah masa depan negara. “Kita perlu teknologi pertanian baru dari perguruan tinggi. Jangan bergantung pada negara lain. Mari bergandengan tangan, saling bantu melakukan riset tentang air, benih dan alat mesin pertanian,” ujar Amran dalam Forum Diskusi Rektor dengan Mentan dan Mendikti Saintek di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Selasa (29/10).

    Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti juga menekankan pentingnya teknologi dalam menarik generasi muda untuk berkarir di sektor pertanian.

    Kontribusi para mahasiswa ini tidak hanya menjadi pengalaman berharga bagi mereka, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi dunia pertanian Indonesia. Bapeltan Lampung, sebagai tuan rumah, berhasil menjadi jembatan penghubung antara teori akademik dan penerapannya di lapangan.(*)



  • Guna mendukung upaya peningkatan kualitas pelayanan dan infrastruktur pertanian yang digalakkan Kementerian Pertanian, Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung menyiapkan Gedung Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang representatif.

    Pesawaran (Progres.co.id): Kepala Bapeltan Lampung, Abdul Roni, meresmikan dua gedung BPP di Kabupaten Pesawaran, Lampung, Senin (18/11/2024).

    Peresmian gedung BPP yang didanai melalui anggaran Kementerian Pertanian, khususnya Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian ini dihadiri oleh Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman dan Bupati Pesawaran, Dendi Ramadhona. Masing-masing gedung berada pada Kecamatan Padang Cermin dan Kecamatan Way Ratai.

    Pada kesempatan tersebut Abdul Roni menguraikan peran BPP dalam mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pertanian, khususnya bagi petani dan pelaku usaha di wilayah kerja kecamatan.

    “Balai Penyuluhan Pertanian bukan hanya sekadar gedung, tetapi merupakan wadah untuk memperkuat komunikasi antara penyuluh dan petani. Dengan infrastruktur yang memadai, kami yakin kualitas pelayanan dan pendampingan kepada petani akan semakin meningkat,” jelasnya.

    Ia juga berharap gedung yang representatif itu dapat membantu penyuluh dalam memberikan layanan dan bimbingan teknis secara optimal. Dengan dukungan fasilitas yang lebih baik, Abdul Roni percaya BPP mampu menjadi pusat pengembangan pengetahuan dan inovasi pertanian di tingkat kecamatan.

    Sementara Bupati Dendi Ramadhona, mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian dalam meningkatkan infrastruktur pertanian di wilayahnya. “Dengan adanya gedung BPP yang baru ini, kami berharap penyuluh pertanian dapat bekerja lebih optimal dalam mendampingi petani. Harapannya supaya hasil pertanian di Pesawaran semakin meningkat dan mendukung ketahanan pangan nasional,” kata Dendi.

    Sedangkan Mentan Andi Amran Sulaiman, dalam pernyataannya menyampaikan, renovasi dan pembangunan BPP merupakan bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian melalui pengembangan SDM dan infrastruktur. “Penyuluh pertanian merupakan pahlawan pertanian Indonesia. BPP sebagai rumah bagi mereka, tempat para penyuluh dapat merancang dan melaksanakan pendampingan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas,” katanya.

    Senada dengan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Idha Widi Arsanti juga menyatakan revitalisasi BPP menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pertanian.

    “Dengan adanya penguatan BPP, kami berharap para penyuluh mampu memberikan kontribusi lebih besar dalam mendampingi petani,” harap Idha.

    Acara peresmian ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto bersama Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pesawaran, Sam Herman, serta penyuluh pertanian Kecamatan Padang Cermin dan Way Ratai. (*)