Penulis: Suryani


  • Perusahaan Umum (Perum) Bulog membuka peluang bisnis yang berpotensi menghasilkan pendapatan besar melalui program Rumah Pangan Kita (RPK), sebuah outlet penjualan bahan pokok berbasis komunitas yang dibina langsung oleh Bulog. Program ini diyakini dapat memberikan penghasilan yang bahkan melampaui gaji pekerja formal. 

    Jakarta (Progres.co.id): DIREKTUR Bisnis Perum Bulog, Febby Novita, menyampaikan hal tersebut usai acara gathering untuk sahabat RPK dan agen BRILink di Kantor Perum Bulog, Jakarta, Selasa (12/11/2024).

    “Jika bekerja di sektor formal, perkiraan penghasilan sekitar Rp 10 juta per bulan. Namun, jika menjadi agen BRILink sekaligus sahabat RPK, penghasilan hingga miliaran rupiah per bulan bukan hanya angan-angan,” kata Febby seperti dilansir dari Kompas.com pada Kamis (14/11).

    Program RPK memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menjadi bagian dari rantai distribusi pangan nasional dengan menjual produk-produk yang dipasok Bulog maupun produk lain yang bekerja sama dengan bulog. Produk Bulog antara lain seperti beras, tepung, minyak goreng, gula, hingga daging.

    Febby juga mengungkapkan target Bulog untuk memiliki mitra RPK di setiap Rukun Tetangga (RT) di Indonesia. Saat ini, sebanyak 21 ribu RPK telah beroperasi. “Dengan semakin banyaknya sahabat RPK yang bergabung, kita bisa membantu pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan dalam tiga hingga empat tahun ke depan,” ujarnya.

    Program RPK menawarkan model bisnis yang terjangkau karena tidak membutuhkan modal besar. Masyarakat yang tertarik hanya perlu menyediakan ruang, seperti garasi rumah, untuk menjadi outlet penjualan bahan pokok. Selain itu, Bulog juga memberikan pelatihan wirausaha bagi sahabat RPK agar mereka lebih siap mengelola bisnisnya.

    “RPK adalah perpanjangan tangan Bulog untuk menyalurkan beras SPHP ke masyarakat langsung hingga ke tingkat RT,” ucap Febby. “Melalui program ini, sahabat RPK tidak hanya berjualan, tetapi juga belajar menjadi wirausaha yang andal,” lanjutnya.

    Masyarakat yang ingin bergabung sebagai sahabat RPK dapat mendaftar secara online melalui aplikasi RPK Mobile yang tersedia di Google Play Store atau datang langsung ke kantor Perum Bulog Divre/Subdivre terdekat. Pendaftaran ini tidak dipungut biaya alias gratis.

    Dalam proses pendaftaran, calon sahabat RPK diminta untuk mengisi formulir dan melampirkan beberapa dokumen, seperti KTP, NPWP, serta Nomor Induk Berusaha (NIB) dengan kategori usaha sesuai komoditas yang akan dijual. Setelah proses verifikasi oleh Bulog selesai, calon sahabat RPK yang lolos seleksi dapat langsung memulai pembelian awal komoditas yang akan dijual.(*)



  • Sektor pertanian Indonesia tengah menghadapi tantangan serius. Setiap tahun lahan pertanian menyusut hingga 100 ribu hektar, petani di lapangan semakin menua, hingga akses terhadap pupuk bersubsidi yang masih menjadi kendala besar.

    Jakarta (Progres.co.id): MENTERI Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyoroti tantangan tersebut dalam sambutannya pada acara Pelantikan Pejabat Tinggi Pratama di Graha Mandiri, Jakarta Pusat, Senin (11/11/2024).

    Dalam kesempatan itu, Zulkifli membandingkan kondisi petani masa kini dengan era Orde Baru, dan menyatakan keprihatinannya atas penurunan kesejahteraan mereka.

    “Pada masa Orde Baru, sekitar 65 persen angkatan kerja kita berasal dari sektor pertanian, sedangkan saat ini hanya tersisa 25 persen,” ungkap menteri yang akrab disapa Zulhas ini, seperti dilansir dari detik.finance.com. “Sayangnya, 80 persen dari petani yang tersisa kini sudah beralih menjadi buruh tani, bukan pemilik lahan,” tambahnya.

    Fenomena berkurangnya minat generasi muda terhadap pertanian juga menjadi sorotan. “Jika anak muda mau bertani, lahan mungkin tidak akan terus berkurang setiap tahunnya,” kata Zulkifli.

    Permasalahan berikutnya datang dari akses terhadap pupuk bersubsidi yang dirasa semakin rumit. Menurut Zulkifli, panjangnya birokrasi distribusi pupuk membuat petani kesulitan mendapatkannya secara tepat waktu. “Proses distribusi pupuk subsidi harus melewati beberapa tahapan yang melibatkan lembaga dan pejabat dari tingkat daerah hingga pusat. Proses ini sering kali memperlambat penyaluran pupuk kepada petani,” jelasnya.

    Ia menjelaskan lebih rinci bahwa alur distribusi pupuk yang kompleks memerlukan persetujuan dari bupati, gubernur, hingga beberapa kementerian, seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Keuangan. “Rumitnya alur birokrasi ini bukan hanya menghambat distribusi, tetapi juga membuat pejabat rentan terseret dalam masalah hukum. Akibatnya, mereka menjadi takut untuk mengambil kebijakan yang cepat dan efektif,” tutup Zulkifli.(*)



  • Dalam rangka memanfaatkan bonus demografi penduduk Indonesia, yang 52 persennya berada pada usia produktif, Kementerian Pertanian (Kementan) terus gencar mencari generasi muda yang siap terjun ke sektor pertanian melalui program petani milenial.

    (Progres.co.id): MENTERI Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan hingga kini sudah ada sekitar 20 ribu pemuda yang mendaftarkan diri untuk bergabung dalam program petani milenial. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3 ribu orang telah diterima dan tengah menjalani pelatihan intensif.

    “Dari 20 ribu pendaftar, 3 ribu di antaranya telah diterima dan sedang bersiap untuk membantu program cetak sawah,” ujar Amran.

    Bagi para milenial yang terlibat dalam sektor ini, Kementan menawarkan peluang pendapatan yang menarik. Menurut Amran, petani milenial dijanjikan penghasilan minimal Rp10 juta per bulan. Tawaran ini diharapkan dapat mendorong minat generasi muda untuk menggeluti sektor pertanian yang kerap dipandang kurang menggiurkan.

    Namun, meski prospeknya cerah, tampaknya masih ada sebagian masyarakat yang belum mengetahui cara mendaftar sebagai petani milenial di Kementan. Menanggapi hal ini, Kementan memberikan panduan pendaftaran agar prosesnya lebih mudah diakses.

    Dilansir dari Tribun News pada Selasa (12/11/2024), berikut langkah-langkah pendaftaran petani milenial Kementan tahun 2024:

    1. Buka laman pendaftaran Petani Milenial Kementan melalui tautan https://latihanonline.pertanian.go.id.
    2. Masukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) di kolom “Form Pendaftaran Pelatihan Untuk Petani Milenial (DPM/DPA dan JPN)”.
    3. Pilih menu “Pelatihan Petani Milenial” di halaman utama untuk melanjutkan pendaftaran secara online.
    4. Di halaman pendaftaran, masukkan NIK yang valid.
    5. Isi data diri dengan benar dan lengkap.
    6. Unggah foto diri ukuran 4×6 dengan resolusi maksimal 700 KB sebagai identitas peserta program.
    7. Setelah data terisi dengan benar, klik tombol “Daftar” untuk menyelesaikan proses pendaftaran.

    Kabar baiknya, proses pendaftaran ini tidak dipungut biaya apa pun, sehingga peserta tidak perlu khawatir mengenai biaya administrasi.

    Peserta yang dinyatakan lolos seleksi berkesempatan mendapatkan pelatihan dan pendampingan langsung dari para ahli di bidang pertanian. Selain meningkatkan keterampilan dan pengetahuan, program ini juga memberikan kesempatan bagi petani milenial untuk berkontribusi nyata dalam memajukan sektor pertanian Indonesia.(*)



  • Dalam upaya mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengajak setiap desa di Indonesia untuk berkontribusi menyumbangkan bahan pangan khas dari daerahnya masing-masing.

    Jakarta (Progres.co.id): AJAKAN ini disampaikan oleh Menteri Desa dan PDTT, Yandri Susanto, yang menekankan desa-desa tidak seharusnya hanya menjadi penonton dalam pelaksanaan program MBG.

    “Kita ingin desa-desa turut berperan aktif. Desa memiliki potensi yang besar dan unik dalam menyuplai bahan pangan bergizi, dan inilah saatnya desa-desa kita menunjukkan potensinya,” ujar Yandri, seperti dikutip dari detikfinance, dalam Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (07/11/2024).

    Guna mencapai target tersebut, Yandri bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menandatangani perjanjian kerja sama untuk mendorong terciptanya desa dengan produk unggulan khas. Penandatanganan yang berlangsung pada Rabu (6/11) itu turut disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.

    “Kita harus mendorong setiap desa untuk memiliki produk unggulan, sehingga bisa menjadi sumber bahan baku pangan yang berkelanjutan bagi desa dan masyarakat luas,” lanjut Yandri.

    Sebagai langkah awal, desa-desa akan diikutsertakan dalam lomba potensi pertanian, yang diharapkan dapat menonjolkan keunikan produk unggulan masing-masing daerah. “Dengan adanya lomba ini, kita akan melihat potensi utama dari tiap desa, apakah itu cabai, nira, atau tomat. Nantinya, desa dengan produk unggulan akan mendapatkan apresiasi dan penghargaan,” tambah Yandri. Program ini juga melibatkan TNI dan Polri untuk memperkuat pengembangan potensi desa.

    Dalam kerja sama tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) akan fokus pada pendistribusian tanaman dan hewan yang menjadi bahan baku pangan bergizi. Sementara itu, Kemendes PDTT akan mendukung penyediaan bibit dan benih untuk setiap desa. “Dengan begitu, kita berharap desa bisa menjadi motor penggerak ekonomi, sekaligus sumber bahan pangan bergizi bagi masyarakat,” ucap Yandri.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman turut menegaskan pentingnya sinergi dengan pemerintah desa dalam upaya ini. “Desa adalah ujung tombak. Kita akan membangun klaster-klaster pertanian modern yang mengintegrasikan teknologi dan potensi lokal,” kata Amran.

    Program kolaborasi ini telah dimulai di Papua dan akan diperluas ke beberapa wilayah lain seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Aceh, Kepulauan Riau, dan Lampung. Diharapkan, program MBG dapat memberikan dampak positif pada ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa di seluruh Indonesia.(*)



  • Krisis pangan mengancam ketika penyaluran pupuk mengalami kendala. Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, bereaksi tegas atas keluhan para petani yang mengaku belum menerima tambahan pupuk, meski Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan peningkatan kuota hingga 100 persen.

    Jakarta (Progres.co.id): Kemarahan Amran mencuat ketika mendengar laporan dari petani di berbagai daerah, mulai dari Cilacap hingga Bondowoso, yang mengaku tidak tahu-menahu soal tambahan kuota pupuk.

    Padahal, jika merujuk pada Surat Keputusan (SK), penyaluran pupuk harusnya sudah selesai sejak Juli. Namun rupanya, hingga kini, beberapa wilayah masih belum merasakan manfaatnya.

    “Saya sangat kecewa mendengar laporan ini. Pupuk adalah kebutuhan dasar bagi petani, dan keterlambatan distribusi bisa berdampak serius pada ketahanan pangan kita,” ujar Amran, seperti dilansir dari detikfinance, di sela acara Gerakan Nasional Pangan Merah Putih Menuju Swasembada Pangan Berkelanjutan dan Penandatanganan Nota Kesepahaman, Rabu (6/11/2024).

    Acara yang berlangsung di Jakarta ini dihadiri 1.300 kepala desa dari Sumatera dan Jawa. Beberapa kepala desa bahkan menyampaikan langsung keluhan terkait sulitnya mendapatkan pupuk di daerah mereka. Seorang kepala desa asal Cilacap mengaku tidak menerima informasi apa pun terkait penambahan kuota pupuk, sementara perwakilan dari Banten menyatakan kesulitan dalam mengakses pupuk.

    “Saya Kades Tugu, Banten. Belum ada tambahan pupuk sampai hari ini. Kami sangat kesulitan mendapatkan pupuk,” ujar perwakilan tersebut, menggambarkan kegelisahan petani yang khawatir akan kelangsungan musim tanam mereka.

    Tanggapan Amran atas situasi ini sangat tegas. Ia mengatakan penyaluran pupuk tidak boleh menjadi alat politik, dan menuntut transparansi serta tanggung jawab dari para manajer distribusi. Menteri Pertanian tersebut langsung meminta Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, untuk menindak tegas pihak-pihak yang terlibat dalam kendala distribusi ini.

    “Pak Dirut, tolong segera cek. Kalau ada manajer yang distribusinya bermasalah, copot dari jabatannya. Ini perintah, tidak bisa ditawar,” ujar Amran dengan nada tegas.

    Amran juga mengingatkan pentingnya ketepatan waktu dalam distribusi pupuk demi menjaga ketahanan pangan nasional. “Pupuk adalah tulang punggung sektor pertanian kita. Jika penyalurannya bermasalah, dampaknya akan langsung dirasakan oleh petani dan bisa mempengaruhi produksi pangan nasional.”

    Ancaman krisis pangan semakin nyata jika masalah ini tidak segera ditangani. Para petani berharap tindakan tegas dari Kementerian Pertanian dapat memastikan ketersediaan pupuk di lapangan, sehingga mereka dapat menjalani musim tanam tanpa hambatan.(*)



  • Melestarikan ekosistem pesisir merupakan tanggung jawab bersama, terutama di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Di pesisir Provinsi Lampung, sebuah program penghijauan besar-besaran diselenggarakan sebagai langkah nyata untuk menjaga kelangsungan hidup lingkungan.

    Lampung (Progres.co.id): PROGRAM penanaman 20 ribu bibit pohon mangrove dihelat saat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Korps Marinir ke-79, Selasa (05/11/2024).

    Sebelumnya, sebanyak 15 ribu bibit pohon mangrove telah ditanam di Marines Eco Park, Kabupaten Pesawaran pada 23 Oktober lalu. Selanjutnya, menyusul penanaman 5 ribu bibit sisanya juga di lokasi yang sama.

    Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari jajaran Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Kabupaten Pesawaran, Brigadir Infenteri (Brigif) 4 Marinir, Hotel Golden Tulip, MNC Grup, serta berbagai perusahaan sponsor, pelajar dan media.

    Letkol Victor Penpada, Perwira Staf Intelijen (Pasintel) Brigif 4 Marinir, mengungkapkan penanaman pohon ini bukan sekadar simbol perayaan ulang tahun Korps Marinir, tetapi juga bentuk rasa syukur dan kepedulian Brigif 4 Marinir dan Hotel Golden Tulip terhadap lingkungan.

    “Rasa syukur ini kami wujudkan dalam bentuk pelestarian ekosistem pesisir di Provinsi Lampung,” ujarnya. Menurutnya, penanaman mangrove ini tak hanya penting bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga sebagai upaya mitigasi dampak perubahan iklim yang dapat mengancam kehidupan di wilayah pesisir.

    Samsudin, Penjabat Gubernur Lampung, memberikan apresiasi terhadap program tersebut. Ia mengajak perusahaan lain di wilayah Lampung untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan serupa yang membawa dampak positif bagi lingkungan. “Program pelestarian alam seperti ini sangat penting bagi masa depan lingkungan kita. Saya berharap, perusahaan-perusahaan lain dapat mencontoh langkah ini sebagai bagian dari tanggung jawab sosial mereka,” katanya.

    Senada dengan itu, General Manager Hotel Golden Tulip, Hengki Trikusuma, menyoroti peran penting mangrove sebagai benteng alami yang melindungi garis pantai dari abrasi. “Mangrove adalah perlindungan alami bagi pesisir. Dengan adanya hutan mangrove yang sehat, kita memiliki benteng yang kuat dari ancaman abrasi dan perubahan iklim,” tuturnya.

    Program penanaman mangrove menjadi momentum penting untuk menunjukkan kepedulian lintas sektoral dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir Lampung. Melalui langkah nyata ini, diharapkan kesadaran masyarakat dan perusahaan akan semakin tinggi untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan lingkungan bagi generasi mendatang.(*)



  • Program makan siang gratis yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto menjadikan susu segar sebagai salah satu komponen utama. Namun, Lampung belum mampu memproduksi susu segar secara optimal. Tak pelak ditengarai belum mampu memenuhi kebutuhan program ini secara mandiri.

    Lampung (Progres.co.id): HAL ini disampaikan oleh Penjabat Gubernur Lampung, Samsudin, dalam sambutannya di acara penanaman 20 ribu bibit pohon mangrove di Marines Eco Park, Kabupaten Pesawaran, Selasa (05/11/2024).

    Samsudin menekankan pentingnya Lampung memiliki ketahanan produksi susu segar agar tidak terus bergantung pada provinsi lain.

    “Kondisi pangan kita sebenarnya sangat baik, lebih dari 50 persen kebutuhan pangan dan tanaman pangan di Lampung berjalan optimal,” ujar Samsudin. Menurutnya, sektor peternakan di Lampung, khususnya sapi penghasil daging, cukup berkembang. Sayangnya, belum ada fokus pada peternakan sapi perah yang menghasilkan susu segar.

    Situasi ini, lanjutnya, harus menjadi perhatian bersama. “Hal inilah yang harus kita waspadai. Jika kita hanya mengandalkan kiriman susu segar dari provinsi lain, ini tentu kurang ideal. Provinsi lain juga memiliki keterbatasan karena mereka perlu memenuhi kebutuhan untuk program makan siang gratis di wilayah masing-masing,” jelas Samsudin.

    Sebagai langkah konkret, Pj Gubernur mengajak para pengusaha di Lampung untuk memanfaatkan program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang sejalan dengan kebutuhan pemerintah. “Mulailah jalankan program CSR yang bisa mendukung kebijakan pemerintah. Dengan cara ini, kita bisa berkontribusi langsung dalam upaya pemenuhan gizi anak-anak kita,” ujarnya.

    Samsudin berharap kesempatan ini dapat dimanfaatkan oleh para peternak di Lampung untuk mulai mengembangkan peternakan sapi perah sebagai produsen susu segar lokal. Dalam mempersiapkan hal tersebut ia menegaskan akan terus memantau perkembangan dari setiap kabupaten di Lampung.(*)



  • Bulan Oktober 2024 menjadi momen bersejarah bagi disiplin ilmu terapan di bidang pertanian. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berbasis jaringan saraf buatan kini membawa perubahan revolusioner pada cara bertani di seluruh dunia.

    Lampung (Progres.co.id): PENGEMBANGAN konsep tersebut diprakarsai oleh dua ilmuan terkemuka, John J. Hopfield dan Geoffrey E. Hinton, mereka berhasil mengembangkan model pembelajaran mesin dengan jaringan saraf buatan yang menyerupai kerja otak manusia.

    Atas kontribusi besar itu, keduanya dianugerahi Hadiah Nobel Fisika 2024, sebuah pencapaian yang menandai pentingnya teknologi AI dalam mengubah cara kerja sektor pertanian dan industri lainnya.

    Kecerdasan buatan sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1940-an, dengan dasar jaringan saraf buatan. Namun, inovasi signifikan baru muncul pada 1980-an, ketika Hopfield dan Hinton menciptakan representasi matematis yang memungkinkan AI mengonversi input menjadi output dengan tingkat akurasi yang semakin tinggi.

    Dalam dunia pertanian, teknologi AI menawarkan berbagai manfaat yang mulai dirasakan petani, termasuk di Indonesia. Dengan AI, petani kini dapat memprediksi hasil panen melalui analisis citra satelit, memperkirakan kebutuhan pupuk berdasarkan data tanah, hingga memantau kesehatan tanaman secara real-time.

    Rudianto, dosen di Universitas Malaya, Terengganu, menjadi salah satu peneliti yang menerapkan teknologi ini di Indonesia. “Kami mengembangkan model yang dapat memantau pertumbuhan padi di mana saja, sehingga memungkinkan pengawasan yang lebih efisien dan efektif,” ucapnya seperti dikutip dari Antara News, Minggu (03/11/2024).

    Selain itu, teknologi AI juga dapat membantu petani dalam mengelola irigasi dengan lebih baik. Berdasarkan analisis data cuaca dan kondisi tanaman, AI dapat menentukan waktu penyiraman yang ideal, sehingga penggunaan air lebih hemat dan tepat sasaran.

    Kendati AI menawarkan banyak keunggulan, penerapannya masih terbatas pada ketersediaan infrastruktur dan teknologi di lapangan. Banyak petani kecil belum dapat menikmati manfaat ini, terutama di daerah yang masih kurang teknologi.

    Namun, seiring dengan semakin berkembangnya AI dan teknologi pendukung lainnya, banyak pihak optimis alat ini akan semakin terjangkau dan dapat digunakan oleh berbagai kalangan petani, termasuk petani kecil. Di masa depan, AI diharapkan mampu membantu mereka meningkatkan produktivitas dan menghadapi tantangan perubahan iklim serta kebutuhan pangan yang terus meningkat.(*)



  • Biji kopi arabika gayo berhasil menambah daftar panjang produk hasil pertanian berkualitas dari Indonesia ke kancah internasional.

    Lampung (Progres.co.id): BAGI para pecinta kopi sejati, secangkir kopi lebih dari sekadar penawar kantuk. Setiap tegukan mengandung keistimewaan yang mampu membedakan kualitas dari setiap jenis kopi.

    Dilansir dari situs Taste Atlas pada Jum’at (01/11/2024), berikut ini merupakan daftar 10 Biji Kopi Terbaik di Dunia, dan salah satunya adalah biji kopi dari Indonesia.

    1. Cafe de Colombia, Kolombia

    Kopi ini menempati posisi teratas sebagai kopi terbaik di dunia. Berasal dari perkebunan di lereng Pegunungan Andes, Kolombia, biji kopi ini dihasilkan dari beragam jenis arabika unggulan seperti caturra, tipica, borbon, maragogipe, dan castillo. Saat ini, sekitar 12 persen produksi kopi dunia berasal dari Kolombia, yang bahkan diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 2011.

    2. Arabika, Ethiopia

    Dianggap sebagai jenis kopi pertama yang dibudidayakan di dunia, kopi Arabika yang berasal dari dataran tinggi Ethiopia ini menghasilkan sekitar 60 persen produksi kopi global. Jenis kopi ini telah berkembang ke banyak belahan dunia, termasuk Afrika, Amerika Latin, India, dan Tiongkok.

    3. Kopi Blue Mountain Jamaika, Jamaika

    Kopi Blue Mountain dari Jamaika dikenal karena cita rasanya yang unik dan lembut tanpa rasa pahit. Tumbuh di wilayah Blue Mountain, Karibia, kopi ini menjadi salah satu kopi termahal di dunia dan diekspor lebih dari 80 persen ke Jepang.

    4. Kafae Doi Chaang, Thailand

    Dikenal karena perpaduan rasa manis dan asam dengan aroma seperti madu, biji kopi ini dipetik langsung di Gunung Doi Chaang, Thailand. Biji kopi Kafae Doi Chaang dipetik langsung menggunakan tangan, diproses dan dipanggang dengan hati-hati, sehingga tidak heran jika biji kopi ini dinilai memiliki kualitas yang tinggi.

    5. Cafe de Valdesia, Republik Dominika

    Kopi yang berasal dari varietas arabika typica dan caturra ini tumbuh di dataran tinggi di Provinsi Ocoa, Peravia, dan San Cristobal, Republik Dominika. Kopi ini memiliki cita rasa seimbang dengan aroma coklat lembut dan sedikit aroma jeruk.

    6. Huehuetenango Highland Coffee, Guatemala

    Biji kopi ini berasal dari ketinggian hingga 1.900 meter di Huehuetenango, Guatemala. Biji kopi ini memiliki cara produksi yang unik. Dengan menggunakan proses fermentasi ringan, biji kopi diekstraksi dari buah kopi selama 24 hingga 36 jam. Kopi Huehuetenango Highland memiliki tiga varietas, yakni typica, bourbon dan caturra.

    7. Kopi Arabika Gayo, Sumatera, Indonesia

    Kopi Arabika Gayo yang tumbuh subur di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, di ketinggian 900 hingga 1.700 meter ini menjadi andalan Indonesia dalam daftar kopi terbaik dunia. Biji kopi ini menawarkan cita rasa kuat dengan perpaduan rasa asam dan pahit yang lembut, cocok untuk para penikmat kopi.

    8. Harenna Forest Wild Coffee, Ethiopia

    Biji kopi liar ini tumbuh di hutan Harenna, wilayah Oromia, Ethiopia. Setelah dipanen langsung dengan tangan, tanpa melalui proses pencucian, biji kopi dapat langsung dikeringkan di bawah sinar matahari.

    Proses produksi biji kopi ini terkenal masih menggunakan cara yang tradisional. Biji kopi dipanggang dan digiling dalam lumpang, kemudian disajikan langsung ke dalam teko kopi berisi air mendidih.

    9. Robusta

    Biji kopi robusta dikenal memiliki tingkat keasaman tinggi dan rasa pahit dengan sedikit rasa kacang. Kopi yang satu ini berasal dari Afrika Tengah dan Barat, di negara-negara seperti Angola, Liberia, dan Tanzania. Uniknya, biji kopi robusta tumbuh di dataran rendah. Selain itu, kopi ini dikenal lebih mudah dan murah diproduksi serta mampu bertahan di berbagai kondisi cuaca yang ekstrem.

    10. Kafae Doi Tung, Thailand

    Kafae Doi Tung adalah kopi arabika yang tumbuh di hutan Doi Tung, Thailand. Kopi ini mendapatkan perawatan dan perlakuan khusus di setiap proses produksinya. Melalui pengawasan kualitas yang ketat, biji kopi ini menghasilkan rasa seimbang, beraroma manis dengan sentuhan asam.

    Dengan adanya biji kopi Arabika Gayo di daftar ini, dunia kini semakin mengakui kualitas kopi Indonesia. Ini merupakan pencapaian yang membanggakan dan menunjukkan kopi Indonesia memiliki tempat di antara kopi-kopi terbaik dunia.(*)



  • Mengolah tanah, membuat kompos, menyiapkan bibit dan merawat tanaman, lalu produksinya dijual ke konsumen tanpa perantara. Aktivitas ini rutin dijalani pelajar SMKN 1 Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat. Tunas muda calon petani potensial sedang disemai di sana.

    Lampung (Progres.co.id): DENGAN luas lahan hingga 35 hektar, SMKN 1 Tulangbawang Tengah menyediakan dua jurusan utama terkait agronomi, yakni Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP) dan Agribisnis Tanaman Pangan Hortikultura (ATPH). Program ini dilengkapi fasilitas praktik yang memadai dan didukung tenaga pengajar berpengalaman.

    Herowati, guru mata pelajaran budidaya tanaman menyebutkan, di jurusan ATPH terdapat 64 siswa kelas XII yang mengikuti ujian praktik dan masing-masing mengelola lahan seluas 5×10 meter.

    “Mereka diajarkan teori seperti pengolahan tanah, persiapan benih, hingga pemasaran dan pembukuan,” ujarnya saat ditemui Progres.co.id di lahan percontohan, Kamis (31/10/2024).

    Sistem pembelajaran mengutamakan praktik langsung dengan komposisi waktu 60 persen praktek dan 40 persen teori. “Kami pastikan siswa benar-benar terlatih dengan pembelajaran lapangan sejak kelas sepuluh,” tambah Herowati.

    Ketika musim ujian tiba, siswa harus menjalani seluruh proses bertani dari awal, termasuk persiapan lahan, penanaman, hingga panen. Proses ini membentuk keterampilan dan ketangguhan mereka dalam menghadapi tantangan pertanian, termasuk risiko gagal panen akibat cuaca yang tidak mendukung.

    Herowati menegaskan, nilai mereka tidak terpengaruh jika hasil panen kurang memuaskan akibat kondisi alam. “Kami menilai berdasarkan proses dan usaha, bukan semata-mata hasil,” katanya.

    Saat proses penanaman, siswa menggunakan pupuk kompos yang dibuat sendiri. Herowati mengungkapan, pupuk kompos dibuat dengan bahan-bahan organik. “Kami biasa mencampur brangkasan kacang tanah, daun kelor, batang pohon pisang dan arang sekam untuk dijadikan pupuk kompos,” ucapnya.

    Dalam kegiatan praktek, siswa menanam beragam komoditas seperti kacang tanah, tebu, karet, kopi, timun suri, terong, okra, dan jahe. Hasil panen ini tidak hanya digunakan untuk latihan, tetapi juga dipasarkan langsung ke konsumen, tanpa perantara.

    Guru Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU), Asih, menjelaskan beberapa hasil panen yang cukup melimpah, seperti kacang tanah dan timun suri, dijual langsung. “Produk olahan seperti sari tebu, wedang jahe instan, dan tepung singkong termodifikasi (Mocaf) diolah dan dikemas sendiri oleh siswa. Produk-produk ini sering juga diikutkan dalam pameran,” ungkapnya.

    Produk unggulan seperti wedang jahe instan 250 gram dijual seharga Rp 35.000, sementara tepung singkong termodifikasi seberat 200 gram dihargai Rp 12.000.

    Lulusan ATP dan ATPH memiliki prospek yang cukup cerah. Beberapa dari mereka bekerja di perusahaan besar seperti PT Gula Putih Mataram (GPM) dan PT Sweet Indo Lampung, sementara yang lainnya melanjutkan pendidikan atau memilih berwirausaha. “Sekitar 10 persen lulusan melanjutkan kuliah, 40 persen bekerja di perusahaan, dan 50 persen lainnya berwirausaha,” kata Herowati mengakhiri. (*)