Penulis: Suryani



  • Di tengah terik matahari, wanita-wanita tangguh dalam balutan seragam “kebesarannya” berjejer rapi memilah ikan hasil tangkapan nelayan di Pulau Pasaran, Teluk Betung Timur, Bandar Lampung.

    Bandarlampung (Progres.co.id): SEBELUMNYA Ikan yang baru ditangkap langsung direbus dalam air garam di atas perahu. Hasil rebusan ini yang kemudian dijemur setelah sampai di daratan. Setelah kering, pekerja wanita yang mayoritas berusia paruh baya berkumpul di pinggir waring jemuran untuk menyortir ikan, memisahkan ikan teri dari jenis ikan lainnya. Proses penyortiran ini berlangsung setiap hari dari jam 9 pagi sampai pukul 12 tengah hari.

    Setelah penyortiran, ikan teri asin dibawa ke teras rumah juragan untuk dibelah. Masitah (57), salah satu buruh pemilah ikan asin, menjelaskan setiap satu kilogram ikan yang dibelah dihargai tiga ribu rupiah oleh bosnya.

    Masitah menambahkan, masih ada pemasukan lain dari upah penyortiran. “Kami dibayar borongan untuk menyortir, sekitar dua puluh lima ribu,” ungkapnya, Rabu (09/10/24).

    Tak hanya gaji, para buruh pemilih ikan juga menerima uang makan. Setiap orang diberi jatah lima ribu rupiah untuk makan siang. Insentif ini dianggap sangat membantu bagi Masitah dan kawan-kawannya.

    Tentang jam kerja, imbuh Masitah, biasanya kelar setiap pukul 5 sore. Tapi, kalau hasil tangkapan nelayan sedang melimpah, Masitah dan buruh lainnya sering pulang hingga matahari tenggelam.

    “Jika ikan banyak, sehari kami bisa dapat uang antara lima puluh sampai enam puluh ribu rupiah,” jelasnya, “Tapi saat ikan sedikit, paling hanya dapat tiga puluh ribu. Berapapun itu, kami syukuri. Alhamdulillah bisa beli beras untuk besok.”

    Sebaliknya, terang Masitah, ketika memasuki musim paceklik dan bos mereka tidak memiliki ikan untuk dibelah, para buruh pemilih ikan terpaksa mencari ‘bos’ lain yang masih memiliki hasil tangkapan. “Kami bekerja sebagai buruh memang punya banyak bos. Jika di bos ini tidak ada ikan, kami berpindah mencari tempat lain yang masih memiliki stok ikan,” tambah Masitah.

    Pengalaman serupa juga dialami Maslamah. Perempuan 60 tahun ini saban hari mesti menempuh berjalan kaki sejauh 1,3 kilometer. Jarak dari rumahnya di Kampung Cungkeng sampai ke tempat kerjanya di Pulau Pasaran. Meski jarak tersebut tidak bisa dibilang dekat, tapi dirinya mengaku mesti tetap menjalaninya.

    “Saya sangat bersyukur Pulau Pasaran menyediakan lapangan kerja untuk kami yang sudah berumur. Semua bos di sini juga baik. Selain dapat uang, saya juga bisa mengobrol dengan teman-teman di sini,” ucapnya yang sudah melakoni pekerjaan ini lebih 17 tahun itu.

    Maslamah sangat mensyukuri hasil yang diperoleh dari jerih payahnya itu. Setidaknya kebutuhan hari-hari keluarga bisa terpenuhi, walau dengan berbagai keterbatasan. “Yang paling penting biaya sekolah anak bisa lunas,” ungkapnya.(*)



  • Terkadang kejelian dalam melihat kondisi dan potensi setempat bisa memberi gagasan untuk lahirnya sebuah ide usaha. Ini seperti dialami Cain Nulkarim yang sukses membangun bisnis bandeng presto.

    (Progres.co.id): PRIA asal Karawang, Jawa Barat, ini sukses membangun bisnis pengolahan ikan bandeng presto yang kini dikenal sebagai Isra Food.

    Sejak awal tahun 2000, Cain telah berkeliling menggunakan sepeda untuk menjajakan olahan ikan bandeng presto. Selang beberapa tahun kemudian, berkat konsistensi dan dedikasinya, ia mampu membeli sepeda motor untuk digunakan berkeliling kampung.

    Ia kemudian memperluas jaringan pasarnya dan mulai menggunakan mobil untuk mengedarkan olahan ikan bandeng prestonya.

    Dalam wawancara yang dilakukan oleh channel youtube Trubus, Cain mengungkapkan alasan memilih untuk menjadi pengolah ikan bandeng presto. “Pertama, karena lingkungan saya banyak yang mengolah ikan. Kedua nenek saya dulu juga menjual ikan pindang. Saya generasi ketiga. Tapi pindang yang saya jual sudah dikemas. Sedangkan pendahulu saya belum melakukan itu,” jelasnya.

    Awalnya, Cain mempelajari resep ikan bandeng presto dari neneknya. Pada tahun 2015 ia mengikuti komunitas UMKM dan mendapatkan binaan dari pemerintah daerah. Sejak saat itu, dia mulai mendirikan bisnisnya sendiri. Mengenai resep, dia mengaku memadukan antara resep tradisional yang diturunkan neneknya dengan resep yang diberikan dinas pemerintah daerah.

    Pada awalnya, Cain hanya menggunakan bale di depan rumahnya untuk mengolah ikan bandeng. Namun, beberapa tetangga mengeluh karena bau. Untuk mengatasi masalah tersebut, pada tahun 2017, ia memasang pipa air sepanjang 200 meter sehingga limbah dari olahan ikan bandeng dapat langsung mengalir ke kali. “Awalnya kami tidak menggunakan pipa dan langsung membuang ke kali, sehingga tetangga merasa tidak nyaman karena bau,” imbuhnya.

    Cain bercerita bahwa olahan ikan bandeng prestonya baru mulai masuk ke pabrik sebagai katering pada tahun 2015. “Awal masuk ke katering, saya mendapatkan informasi dari komunitas UMKM. Karena sering bertemu dan mengobrol dengan sesama pelaku usaha kecil dan menengah, lalu ada seseorang menawarkan kepada saya untuk menjadi pemasok olahan ikan. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Sampai 2 ton ikan,” ungkapnya.

    Menurut Cain, bergabung dalam komunitas membawa berkah tersendiri baginya. Ia aktif bergabung dalam berbagai komunitas UMKM, di antaranya INUKA (Info UMKM Karawang), KAUKA (Komunitas UMKM Karawang), AKUM (Asosiasi Koperasi dan UMKM), serta APIK (Asosiasi Perikanan Karawang).

    Cain menjelaskan, sebelum pandemi Covid-19, ia dapat menjual olahan ikan bandeng presto sebanyak empat hingga lima ton per bulan. Sebagai bisnis katering, ia dapat menjual olahan ikan bandeng tersebut ke pabrik-pabrik di Cirebon, Karawang, dan Garut.

    “Ketika pandemi Covid-19 melanda, ikan sulit didapat karena masyarakat dilarang beraktivitas. Akibatnya, harga ikan naik, sedangkan kami tidak bisa menaikkan harga olahan ikan ini,” ucap Cain, “akhirnya, kami terpaksa melepaskan hubungan bisnis dengan pabrik di Cirebon karena kami tidak bisa mengirim, sehingga hanya beberapa pabrik yang tetap kami kirimi olahan ikan.”

    Selama pandemi, Cain mengaku hanya bisa memproduksi satu setengah ton per bulan. Namun, pada tahun 2023, ia berusaha bangkit dan mulai bisa kembali mengirim katering ke pabrik-pabrik di Karawang dan Garut.

    “Saat ini, kami baru bisa memproduksi untuk katering setengah dari sebelum Covid, sekitar dua setengah ton. Namun, sekarang kami punya reseller, tukang sayur, dan distributor lainnya. Per bulan kami memproduksi lima sampai delapan kwintal untuk distributor kami,” ujar Cain.

    Ikan bandeng yang diolahnya diperoleh dari tambak. Saat ini, ia belum memiliki tambak sendiri, sehingga ia harus bermitra dengan orang dari Kecamatan Cibuaya dan Kecamatan Tirtajaya.

    “Alhamdulillah saat ini kami sudah memiliki sembilan karyawan tetap. Karyawan kami dibagi dalam tiga bagian: ada yang membersihkan ikan, lalu ada yang memasak, dan ada pula bertugas mengemas. Mayoritas karyawan kami adalah janda yang biasanya hanya bisa diberi uang oleh anak dan cucunya,” ucap Cain, “Namun ketika kami butuh produksi cepat, kami mencari beberapa freelance.”

    Dalam sehari, Cain mengungkapkan, mereka dapat memproduksi olahan ikan bandeng presto sebanyak dua hingga lima kwintal.

    Untuk menjaga kualitas produk, Cain melakukan penyortiran ikan dua kali: pertama saat proses pembersihan, ikan disortir berdasarkan ukuran dan kualitas, kemudian saat pengemasan, dilakukan penyortiran lagi terhadap ikan-ikan yang patah dan kecil.

    Sedangkan mengenai bumbu, menurut Cain bumbu yang ia gunakan untuk mengolah ikan bandeng presto adalah bahan-bahan alami dan sederhana, seperti kunyit, gula pasir, bawang merah, bawang putih, garam, dan kemiri.

    “Kami tidak menggunakan penguat rasa, pengawet atau pewarna. Yang kami pakai murni berasal dari kunyit yang kami olah sendiri,” jelasnya. Tapi, dia tidak menampik karena tidak memakai bahan pengawet akhirnya produknya tidak bisa bertahan lama.

    Ketika ikan matang dan disimpan di suhu ruang, hanya bisa tahan maksimal lima hari.

    “Namun, jika sudah dibekukan, ikan ini bisa tahan hingga satu bulan di dalam freezer. Kami sudah berkomunikasi dan dites oleh Dinas Kesehatan setempat. Bahkan satu sampai dua bulan masih bagus. Lewat dari itu ikannya sudah tidak layak konsumsi.”

    Dalam satu kemasan olahan ikan bandeng presto seberat 180 gram, yang biasanya berisi 2-3 ekor ikan, dijual oleh distributor seharga 20 ribu rupiah. Khusus untuk kemasan yang didistribusikan ke pabrik, satu kemasan berisi 20 ekor ikan, dengan harga per ekor ikan kecil dijual seharga 3 ribu rupiah.

    Omset per satu ton bisa mencapai 30 juta rupiah, dengan total omset per bulan sekitar Rp90 hingga 100 juta. (Sumber:trubuschannel)