Penulis: Yopie Pangkey

  • Hutan Lindung di Desa Banjaran Pesawaran Agroforestri untuk Pendidikan dan Ketahanan Pangan - Yopie Pangkey

    Hutan lindung di Desa Banjaran, Pesawaran, tidak hanya menjadi pelindung ekosistem, tetapi juga pusat pendidikan dan penghidupan masyarakat. Dengan pengelolaan berbasis agroforestri oleh Gapoktanhut Pujo Makmur, kawasan ini mendukung ketahanan pangan, energi, dan air di Lampung melalui keberlanjutan ekologi dan ekonomi.

    Pesawaran (Progres.co.id): Suara gemerisik daun yang tertiup angin, bau tanah basah yang khas, dan nyanyian burung yang saling bersahutan menyambut langkah setiap orang yang memasuki kawasan hutan lindung  Register 20 di Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran.

    Di sela-sela pohon rindang, terlihat beberapa petani sibuk memanen kapulaga. Tanaman ini tumbuh subur di tajuk bawah, berdampingan dengan cengkeh dan kakao di tajuk tengah. Sementara durian, karet, dan pohon tinggi lainnya membentuk tajuk atas.

    Inilah Hutan Pendidikan Desa Banjaran, sebuah kawasan yang kini menjadi contoh optimalisasi hutan lindung melalui konsep agroforestri yang dikelola oleh Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Pujo Makmur di bawah pimpinan Maryadi.

    Kawasan ini tak hanya berfungsi sebagai pelindung ekosistem, tetapi juga menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

    Mengintegrasikan Ekologi dan Ekonomi

    Gapoktanhut Pujomakmur - Hutan Lindung di Desa Banjaran Pesawaran Agroforestri untuk Pendidikan dan Ketahanan Pangan - Yopie Pangkey
    Ketua Gapoktanhut Pujo Makmur, Maryadi. (Foto: Yopie Pangkey/progres.co.id)

    Ketua Gapoktanhut Pujo Makmur, Maryadi, menjelaskan bahwa pengelolaan hutan lindung ini dilakukan dengan prinsip keberlanjutan yang mengintegrasikan nilai ekologi dan ekonomi.

    Maryadi menceritakan, dirinya dan kawan-kawan mengembangkan pola agroforestri yang membentuk strata tajuk dengan berbagai jenis tanaman Multi-Purpose Tree Species (MPTS).

    “Dengan tanaman seperti kapulaga, cengkeh, kakao, durian, dan karet yang dipanen bergantian sepanjang tahun, hasilnya tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga fungsi ekologis hutan.” kata Maryadi, Sabtu (4/1/2025)

    Kapulaga yang tumbuh subur di lapisan bawah hutan menjadi salah satu andalan utama. Tanaman rempah ini memiliki nilai jual tinggi di pasar lokal maupun ekspor.

    Di sisi lain, keberadaan pohon-pohon besar seperti durian dan karet tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai peneduh alami yang melindungi tanah dari erosi.

    Hutan untuk Ketahanan Pangan dan Energi

    Hutan lindung Register 20 di Desa Banjaran ini juga menjadi penopang ketahanan pangan di Provinsi Lampung. Maryadi menegaskan bahwa hutan ini memainkan peran penting dalam menyediakan sumber pangan dan rempah-rempah, pasokan air, hingga energi.

    “Selain hasil pertanian, kawasan ini memiliki potensi mikrohidro sebagai sumber energi. Aliran air yang mengalir dari hutan ini juga menjadi suplai utama untuk irigasi persawahan di desa-desa hilir,” ungkap Maryadi.

    “Hutan ini adalah sumber daya yang mendukung ketahanan pangan dan energi daerah kita.” ia menambahkan.

    Sebagai bagian dari program Perhutanan Sosial, Gapoktanhut Pujo Makmur juga memanfaatkan hutan ini sebagai laboratorium pendidikan. Banyak mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum datang untuk belajar tentang pola agroforestri, pengelolaan kelembagaan, kawasan, dan usaha.

    Maryadi menambahkan, banyak kalangan akademisi yang mempelajari tata kelola kelembagaan, tata kelola kawasan, dan kelola usaha yang sudah berjalan di desanya.

    Sedangkan dari sekolah menengah dan wisatawan biasanya mempelajari dasar-dasar kehutanan aja. Seperti apa itu fungsi hutan dan apa saja manfaat hutan.

    “Bahkan banyak juga sesama petani hutan yang sengaja datang dan menginap sampai berhari-hari di sini.” imbuhnya.

    “Ini menjadi contoh nyata bagaimana hutan dapat menjadi pusat edukasi yang memberdayakan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian alam.” tutupnya.

    Dukungan dari Pemerintah

    Pengelolaan hutan lindung oleh Gapoktanhut Pujo Makmur, yang berada di bawah binaan KPH Pesawaran, mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari pemerintah, khususnya Dinas Kehutanan Provinsi Lampung.

    Pola agroforestri yang diterapkan di kawasan ini dapat memberi manfaat ekonomi-ekologi secara seimbang.

    Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansyah, menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh Gapoktanhut Pujo Makmur di Desa Banjaran adalah bukti nyata keberhasilan program Perhutanan Sosial dalam mendukung konservasi sekaligus meningkatkan ketahanan pangan daerah dan nasional.

    “Keberhasilan hutan lindung Desa Banjaran menunjukkan bahwa Perhutanan Sosial bukan hanya solusi untuk konservasi, tetapi juga menjadi pilar penting dalam mendukung peningkatan ketahanan pangan daerah,” ujar Yanyan melalui pesan WhatsApp, Sabtu (4/1/2024).

    Ia menambahkan bahwa dampak ekologis dari pengelolaan ini sangat signifikan.

    “Selain memproduksi hasil hutan bukan kayu, pengelolaan ini membantu menjaga ketersediaan air tanah, mengurangi erosi, dan mendukung irigasi yang bermanfaat untuk pertanian di wilayah hilir,” jelasnya.

    Pemerintah, lanjut Yanyan, terus berkomitmen untuk mendukung kelompok-kelompok perhutanan sosial seperti Gapoktanhut Pujo Makmur agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.

    “Pemerintah tentu mendukung aktivitas produktif seperti ini. Kami memberikan pembinaan intensif, pendampingan, serta bantuan sarana-prasarana, seperti doom dryer untuk pasca panen,dan lainnya,” ungkap Yanyan.

    “Selain itu, kami juga memfasilitasi kelompok usaha perhutanan sosial agar dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas,” pungkasnya.


  • Foto Menjaga Hutan Adat di Dusun Kayu Tabu Warisan Lestari Desa Kelawi - Yopie Pangkey

    Di tengah suasana asri Desa Kelawi, deretan pohon tinggi menjulang seolah membentuk kanopi alami yang menaungi setiap sudut Dusun Kayu Tabu. Udara segar bercampur aroma tanah basah menyapa pengunjung yang melangkah di jalan setapak mengitari Hutan Adat seluas 6 hektare, tempat berbagai flora dan fauna hidup harmonis, menciptakan keseimbangan alam dan manusia yang lestari.

    Lampung Selatan (Progres.co.id): Desa Kelawi di Kecamatan Bakauheni menyimpan kisah perjuangan warga dalam menjaga kelestarian Hutan Adat seluas 6 hektare. Hutan ini tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga simbol warisan leluhur yang terus dijaga turun-temurun.

    Syahbana, salah seorang tokoh masyarakat Desa Kelawi, mengenang perjalanan panjang leluhur mereka sejak gelombang pertama pendatang pada tahun 1962.

    “Gelombang pertama terdiri dari empat orang: Raja Kasim, Batin Jaksa, dan Datuk Jafar. Mereka datang membuka lahan setelah rombongan Dayang pada 1958. Sayangnya, rombongan Dayang kembali ke daerah pesisir, karena Dayang dimangsa harimau,” ujar Syahbana, Rabu (25/12/2024).

    Gelombang ketiga pendatang, terdiri dari Abdullah, Khotijah,Siyah, Umar, Ayub.

    “Diikuti gelombang keempat, gelombang ayah saya dan sepupu-sepupunya,” imbuh Syahbana.

    Hutan Adat Desa Kelawi telah menjadi miniatur dari ekosistem hutan yang ada di kawasan Bakauheni. Sejak awal kedatangan gelombang pertama, masyarakat telah membagi peruntukan wilayah secara bijak.

    Sejak gelombang pertama, Datuk Jafar sudah menetapkan secara lisan bahwa area hutan ini harus dijaga untuk menjadi resapan air. Pesan itu terus disampaikan kepada gelombang pendatang berikutnya.

    “Saat ayah saya menjadi kepala dusun, dibuatlah surat tertulis yang menyatakan bahwa area resapan air itu adalah hutan yang harus dilindungi,” tutur Syahbana.

    Aturan Adat

    Seiring berjalannya waktu, warga desa menyusun aturan adat untuk memastikan kelestarian hutan.

    Masyarakat dilarang menebang pohon, bahkan yang sebesar ibu jari sekalipun. Jika ada pohon tumbang, mereka tidak diperbolehkan memindahkannya, melainkan membiarkannya membusuk secara alami.

    Selain itu, warga wajib menanam pohon di perbatasan hutan pada waktu tertentu.

    “Karena ada larangan menebang pohon, maka dibuatlah jalan setapak yang mengitari hutan,” Syahbana menerangkan.

    “Lalu di pinggir jalan setapak itu ditanam tanaman yang mudah dikenali sebagai batas, seperti pohon pinang,” lanjutnya.

    Perjuangan Melawan Ancaman dan Konflik

    Meskipun telah menjadi tradisi menjaga hutan, ancaman datang dari pihak-pihak yang ingin mengeksploitasi kayu berharga di kawasan tersebut.

    Salah satu peristiwa mencekam terjadi pada tahun 1988 atau 1989 ketika beberapa oknum mencoba menebang pohon secara ilegal. Saat itu, warga Desa Kelawi, yang sangat menyadari pentingnya keberadaan hutan, melawan dengan berani.

    “Waktu itu saya masih kelas 3 SD. Ada kejar-kejaran dan bahkan tembakan. Konflik tersebut akhirnya bisa diselesaikan secara baik-baik. Namun, sejak itu, kesadaran masyarakat untuk menjaga hutan semakin kuat,” kenang Syahbana.

    Keunikan dan Keanekaragaman Hayati

    mata Air Hutan Adat Dusun Kayu Tabu Warisan Lestari Desa Kelawi - Yopie Pangkey
    Mata air di pinggiran hutan. (Foto: Yopie Pangkey)

    Hutan Adat Desa Kelawi menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna. Pohon-pohon seperti kelawi, bayur, medang, bungur, damar, petai, jelatong, dan bunut tumbuh subur di sini.

    Selain itu, hutan ini juga dihuni oleh beragam satwa, seperti ular, monyet, kura-kura, dan burung-burung.

    “Dulu ada kepercayaan bahwa jika seseorang membunuh kura-kura di hutan ini, keluarganya akan mengalami nasib buruk. Bahkan, menyentuh kura-kura pun dilarang,” ujar Syahbana.

    Keberadaan hutan ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama saat musim kemarau. Meski kemarau panjang pernah melanda hingga sembilan bulan, sumber air di tepi hutan tidak pernah kering.

    Hal ini menjadi bukti nyata betapa vitalnya fungsi hutan sebagai penyedia air bagi warga Desa Kelawi.

    Namun menurutnya, karena jumlah warganya semakin banyak, mata air di tepian hutan tetap tidak mencukupi kebutuhan air bersih keseluruhan warga dusun.

    “Bayangkan kalau hutan seluas 6 hektare ini semakin berkrang, kami akan lebih kesusahan air,” katanya.

    Menuju Hutan Adat Desa

    Sebagai bentuk pengakuan resmi terhadap peran masyarakat dalam menjaga hutan, Desa Kelawi merencanakan untuk menjadikan kawasan ini sebagai Hutan Adat Desa. Hutan ini nantinya akan dikelola oleh desa dengan tetap mengutamakan prinsip kelestarian.

    “Kami ingin hutan ini diakui sebagai Hutan Adat Desa, sehingga ada payung hukum yang lebih kuat untuk melindunginya. Hutan ini bukan hanya milik kami, tetapi juga warisan untuk anak cucu,” tegas Syahbana.

    Dengan keanekaragaman hayati yang melimpah dan peran ekologis yang tak tergantikan, Hutan Adat Desa Kelawi menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal mampu menjaga harmoni antara manusia dan alam. Semangat warga Desa Kelawi patut dijadikan teladan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.


  • Foto Alpukat Sipit Kelawi Bakauheni Harta Karun Agrowisata Lampung Selatan Petani Syahbana - Yopie Pangkey

    Menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks, Desa Kelawi di Lampung Selatan menemukan solusi inovatif melalui budidaya alpukat Sipit Kelawi. Varietas lokal ini tidak hanya memberikan nilai tambah bagi produk pertanian desa, tetapi juga membuka peluang usaha baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Lampung Selatan (Progres.co.id): Siapa sangka, di balik keindahan Pantai Minang Rua di Desa Kelawi, tersembunyi harta karun yang tak ternilai. Harta karun itu bukan emas atau permata, melainkan buah alpukat dengan varietas unik bernama Sipit Kelawi.

    Hari ini, saya diajak oleh Syahbana, seorang petani alpukat dan pegiat wisata desa, untuk mengunjungi halaman belakang rumahnya.

    Di sana, deretan pohon alpukat Sipit Kelawi tertanam rapi dengan jarak tanam 4×5 meter. Diameter batangnya mencapai sekitar 40 cm, dan tingginya rata-rata 4 meter. Dengan penuh semangat, Syahbana menunjukkan salah satu pohon yang dipanennya belum lama ini.

    “Alpukat Sipit Kelawi ini istimewa,” ujar Syahbana sambil menunjukkan satu persatu pohon alpukatnya. “Daging buahnya tebal, bijinya kecil, daging buah padat, rasanya manis dan legit, serta lebih tahan lama.”

    “Buahnya berbentuk oval dan berukuran kecil, beratnya antara dua ratus lima puluh sampai tiga ratus gram. tapi dia menang padat. Pembeli bisa mendapat antara tiga sampai empat buah perkilo, tapi itu banyak daging buahnya,” paparnya.

    Asal Mula Alpukat Sipit Kelawi

    Syahbana menceritakan kepada saya, asal mula alpukat di desanya sebenarnya berasal dari Pulau Jawa yang dibawa oleh tetua desa di tahun 1960an.

    “Waktu itu ada yang sering membawa buah alpukat sebagai oleh-oleh dari Pulau Jawa. Setelah dimakan, bijinya ditanam hingga tumbuh menjadi pohon besar.” ia mengisahkan.

    “Namanya menanam dari biji, hasilnya ada tiga kemungkinan. Bisa lebih bagus, bisa lebih jelek, atau bisa saja menjadi varietas baru.” jabarnya.

    Dari yang tumbuh menjadi varietas baru itulah, Alpukat Sipit Kelawi berasal dan menjadi varietas lokal kebanggaan desa.

    Rekor MURI dan Keunggulan Alpukat Sipit Kelawi

    Alpukat Sipit Kelawi bukan sekadar varietas lokal. Varietas ini telah mendapatkan pengakuan nasional. Desa Kelawi telah mencetak rekor MURI sebagai desa wisata pertama yang memiliki varietas buah alpukat khas ini. Rekor tersebut diberikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno, kepada pemerintah Desa Kelawi pada Agustus 2023.

    Selain itu, Desa Kelawi juga meraih juara kedua dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 kategori Desa Wisata Maju.

    Varietas ini memiliki daya tarik tersendiri. Menurut Syahbana, peminat alpukat Sipit Kelawi tidak pernah surut meskipun harganya relatif tinggi. Bahkan, pelanggan harus memesan terlebih dahulu karena permintaan sering kali melebihi pasokan.

    “Buah ini punya pasar sendiri. Banyak yang rela datang ke kebun untuk membelinya langsung. Keunggulannya bukan hanya pada rasa, tetapi juga pada kualitasnya yang tahan lama,” ujar Syahbana.

    Menghidupi Keluarga dari Alpukat

    Pria kelahiran 28 Januari 1982 ini mengaku mampu menghidupi keluarganya yang terdiri dari satu istri dan lima anak melalui hasil panen alpukat. Dengan lahan seluas tiga hektare yang ditanaminya, Syahbana bisa memanen hingga 15 ton alpukat setiap tahunnya.

    Harga jual alpukat di desanya bervariasi, mulai dari Rp10.000 hingga Rp16.000 per kilogram tergantung musim dan kualitas hasil panen. Namun, saat ini harga jual alpukat mengalami penurunan, hanya sekitar Rp8.000 per kilogram.

    Meski begitu, Syahbana tetap optimis dan terus berupaya menjaga kualitas hasil panennya agar dapat menarik minat pasar dengan harga yang lebih baik.

    “Ini juga menjadi PR bagi kami untuk membuat branding Alpukat Sipit Kelawi menjadi lebih dikenal. Kalau sudah ada merek di produk dan branding-nya bagus, harga alpukat otomatis bisa lebih tinggi dan stabil,’ terangnya.

    Program Satu Keluarga Dua Pohon

    Syahbana menuturkan, karang taruna dan Pokdarwis di desanya menggagas program “Satu Keluarga Dua Pohon”. Hingga kini, mereka telah membagikan lebih dari 800 bibit alpukat kepada warga Desa Kelawi.

    Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesadaran warga tentang potensi ekonominya tetapi juga menjadikan setiap sudut desa terlihat asri.

    “Ini juga bagian dari konsep ekonomi hijau yang kami terapkan,” jelas Syahbana.

    “Dan ini bisa kita kombinasikan dengan wisata pantai Minang Rua yang sudah terkenal. Wisatawan bisa kita ajak keliling desa dan membeli alpukat langsung dari pohonnya,” imbuhnya.

    Harapan dan Masa Depan Alpukat Sipit Kelawi

    Saat ini, BUMDes Kelawi bersama Syahbana tengah mencari cara agar Alpukat Sipit Kelawi dapat dipanen lebih dari tiga kali dalam setahun. Mereka juga bekerja sama dengan para ahli pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas buah.

    “Kami bercita-cita menjadikan alpukat Sipit Kelawi sebagai ikon agrowisata Lampung Selatan. Dengan upaya bersama, kami yakin alpukat ini dapat semakin terkenal di Indonesia,” ujar Syahbana penuh optimisme.


  • Foto Gambar Wisata Kampung Coklat Blitar - @indah_umi_alice

    Dari kegagalan tumbuh kesuksesan. Kholid Mustofa, yang pernah bangkrut akibat wabah flu burung, kini berhasil mengubah kebun kakao keluarganya menjadi Kampung Coklat. Destinasi wisata edukasi ini tidak hanya membangkitkan perekonomian, tapi juga membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk maju bersama.

    (Progres.co.id): Kegagalan sering kali menjadi awal dari cerita sukses yang luar biasa. Hal ini terbukti dalam perjalanan Kholid Mustofa, seorang kepala keluarga yang dulunya mengandalkan peternakan ayam petelur sebagai sumber penghidupan utamanya.

    Namun, tahun 2004 menjadi masa tersulit baginya ketika wabah flu burung memusnahkan 5.000 ekor ayam yang selama empat tahun menjadi andalan keluarganya.

    Bangkrut dan tanpa pekerjaan, Kholid tidak menyerah. Ia beralih fokus pada 120 pohon kakao milik keluarga yang telah ditanam sejak tahun 2000 di lahan seluas 750 meter persegi.

    Dari kebun sederhana inilah, ia menemukan peluang baru untuk bangkit. Harga biji kakao mentah yang dijual kepada tengkulak seharga Rp 9.000 per kilogram memantik semangat Kholid untuk merawat tanaman kakao dengan lebih serius.

    Membangun Pondasi Lewat Pendidikan dan Kolaborasi

    Tidak ingin setengah hati, Kholid mendalami ilmu budidaya kakao. Pada tahun 2005, ia magang di PTPN XII di Penataran, Blitar, dan belajar lebih dalam di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jember.

    Dengan bekal pengetahuan tersebut, ia memproduksi 7.500 bibit kakao yang dibagikan secara cuma-cuma kepada petani di kawasan Perhutani melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Upaya ini membuahkan hasil dengan terbentuknya kelompok tani Guyub Santoso pada tahun yang sama.

    Kelompok tani ini menjadi landasan Kholid untuk mengembangkan potensi kakao secara kolektif. Informasi mengenai harga biji kakao kering di Tanjung Perak, Surabaya, yang mencapai Rp 16.000 per kilogram semakin memperkuat tekadnya.

    Hingga akhirnya, pada tahun 2007, ia berhasil memasok 3,2 ton biji kakao per bulan ke pabrik pengolahan cokelat. Jumlah tersebut terus meningkat hingga mencapai 300 ton per bulan.

    Dari Produksi ke Wisata Edukasi

    Sukses sebagai pemasok kakao, tidak membuat Kholid berpuas diri dan berhenti mencoba hal baru. Ia ingin menciptakan nilai tambah dengan memproduksi cokelat sendiri.

    Pada tahun 2013, ia bekerja sama dengan seorang ahli cokelat dari Blitar dan mulai memproduksi cokelat bermerek GuSant. Meski sempat dijual di bandara-bandara besar seperti Surabaya, Solo, dan Yogyakarta, produk ini belum mendapatkan respons pasar yang diharapkan.

    Namun, Kholid tidak menyerah. Ia kembali memutar otak dan mengubah orientasi bisnisnya dari produk ke wisata edukasi. Pada 17 Agustus 2014, ia resmi mendirikan Kampung Coklat di Jalan Banteng Blorok 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

    Konsep wisata edukasi ini tidak hanya memperkenalkan budidaya kakao dan pengolahan cokelat kepada pengunjung, tetapi juga menjadi destinasi unggulan Kabupaten Blitar.

    Kampung Coklat: Menginspirasi dan Memberdayakan

    Setiap harinya, Kampung Coklat bisa dikunjungi hingga 1.000 orang, baik untuk menikmati wisata edukasi maupun mencicipi aneka olahan cokelat.

    Kholid pun memastikan bahwa keberadaan Kampung Coklat memberikan dampak langsung pada masyarakat sekitar. Melalui lembaga seperti KSU Guyub Santoso, CV Guyub Santoso, dan UD Guyub Santoso, ia terus mendorong kesejahteraan petani kakao di Blitar dan sekitarnya.

    Saat ini, jaringan yang dikelola Kholid mencakup 48 kelompok tani kakao di Blitar dan Gapoktan Kakao se-Jawa Timur.

    Prinsip yang dipegangnya sederhana namun mendalam: “Sukses petani, sukses gapoktan, masyarakat sejahtera.” Filosofi ini menjadikan Kampung Coklat tidak hanya sekadar usaha, tetapi juga gerakan pemberdayaan masyarakat.

    Kunci Sukses: Kerja Keras dan Ketekunan

    Kholid Mustofa - Kampung Coklat Blitar
    Kholid Mustofa yang tidak pernah berhenti berinovasi. (Sumber foto: kampungcoklat.id)

    Bagi Kholid, keberhasilan yang diraih saat ini adalah hasil dari kerja keras, ketekunan, dan pantang menyerah.

    Ia tidak hanya membuktikan bahwa kegagalan bisa menjadi batu loncatan menuju kesuksesan, tetapi juga bahwa usaha yang bermanfaat bagi banyak orang memiliki nilai yang jauh lebih berharga.

    Kini, Kampung Coklat menjadi salah satu bukti nyata bagaimana krisis dapat diubah menjadi peluang.

    Dengan mimpi besar menjadikan Indonesia sebagai kiblat cokelat dunia, Kholid terus berinovasi untuk mewujudkan visinya. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masyarakat yang bersama-sama tumbuh dan berkembang melalui kakao.

    Kisah Kholid Mustofa mengajarkan bahwa keberanian untuk berubah, semangat untuk belajar, dan dedikasi untuk membantu sesama adalah formula terbaik dalam meraih kesuksesan sejati.

    Lokasi

    Alamat:
    Jalan Banteng – Blorok No. 18
    Desa Plosorejo, RT. 01 / 06, Kademangan, Plosorejo
    Kecamatan Kademangan
    Kabupaten Blitar
    Jawa Timur 66161

    Google Map: Wisata Edukasi Kampung Coklat

    Jam Buka

    08.00 – 17.00 WIB

    Fasilitas

    Area parkir luas, toko oleh-oleh, cafe & resto, live music, terapi ikan, spot foto, toilet bersih dan modern, mushola, ruang laktasi, ruang pertolongan pertama, tempat istirahat, wahana permainan

    Kontak

    • Email: info@kampungcoklat.id
    • Telepon: 082220567818
    • Instagram: @kampung_coklat
    • Facebook: wisataedukasikampungcoklat
    • Website: kampungcoklat.id

  • Inspirasi Ketahanan Pangan Satu Abad dari Kampung Cireundeu @visitcireundeu - 2

    Selama lebih dari satu abad, Kampung Cireundeu di Cimahi, Jawa Barat, telah menjadi contoh nyata ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Masyarakatnya menggantikan nasi dengan singkong sebagai makanan pokok, mencerminkan harmoni antara tradisi dan keberlanjutan.

    (Progres.co.id): Kampung Cireundeu, yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, telah mencuri perhatian karena pola konsumsinya yang unik dan bertahan selama satu abad.

    Di tengah budaya masyarakat Indonesia yang bergantung pada nasi sebagai makanan pokok, masyarakat adat di Kampung Cireundeu memilih singkong sebagai sumber utama ketahanan pangan mereka. Pilihan ini tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga simbol kemandirian dan pelajaran berharga tentang ketahanan pangan.

    Banyak orang datang untuk melihat dari dekat konsep yang sudah berlangsung 1 abad lamanya. Mempelajari ketahanan pangan yang sekaligus kesadaran untuk menjaga lingkungan yang diajarkan secara turun-temurun.

    Menyambut Tradisi Cireundeu

    Inspirasi Ketahanan Pangan Satu Abad dari Kampung Cireundeu @visitcireundeu - 1
    Banyak pengunjung yang datang untuk mempelajari kehidupan sehari-hari warga Kampung Cireundeu. (Foto: Instagram @visitcireundeu)

    Memasuki Kampung Cireundeu, pengunjung akan disambut oleh papan petunjuk bertuliskan “Bale”, “Masjid”, dan “Sentra Oleh-oleh”.

    Peta wisata yang menampilkan rute jalan, gambar gunung, dan monumen Meriam Sapu Jagat sebagai simbol Satria Pengawal Bumi Parahyangan turut menyambut kedatangan pengunjung. Selain itu, ucapan selamat datang dalam bahasa Sunda pada papan kayu besar menambah nuansa adat yang kental.

    Kampung adat ini berdiri di atas lahan seluas 64 hektare, dengan 60 hektare digunakan untuk pertanian dan 4 hektare sebagai permukiman warga. Di sekitar kampung, terdapat hutan adat seluas 80 hektare yang berfungsi sebagai penampung air alami.

    Kampung ini dihuni oleh sekitar 1.200 jiwa yang tersebar di tiga Rukun Tetangga (RT). Dengan komposisi 650 laki-laki dan 550 perempuan, yang masuk dalam 367 kepala keluarga.

    Melewati gerbang masuk, pengunjung akan disambut dengan bangunan tempat pertemuan atau pegaelaran kesenian seluas 200 meter persegi. Bangunan yang terbuat dari kayu dan bambu ini disebut Saung Baraya dan Bale Saresehan.

    Jika berkunjung di bulan Sura, pengunjung bisa menyaksikan pertunjukan wayang golek di kedua bale tersebut. Sebuah pertunjukan sebagai bentuk syukur kepada Sang Pecipta.

    Dengan ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, Kampung Cireundeu menawarkan panorama alam yang asri sekaligus pelajaran tentang kearifan lokal.

    Filosofi Tanpa Nasi

    Salah satu tradisi yang dipegang teguh masyarakat Cireundeu adalah ajaran untuk tidak mengonsumsi nasi.

    Filosofi ini tercermin dalam petuah leluhur mereka: teu boga sawah asal boga pare, teu boga pare asal boga beas, teu boga beas asal nyangu, teu nyangu asal dahar, teu dahar asal kuat.

    Artinya, tidak punya sawah asalkan punya padi, tidak punya padi asalkan punya beras, tidak punya beras asalkan masak nasi, tidak punya nasi asalkan makan, tidak makan asalkan kuat.

    Sebagai gantinya, masyarakat mengonsumsi rasi, yaitu nasi yang terbuat dari singkong.

    Pemilihan singkong sebagai makanan pokok bermula pada 1918 ketika Kampung Cireundeu menghadapi kekeringan yang mengakibatkan paceklik pangan.

    Pada 1924, masyarakat kampung sepakat menjadikan singkong sebagai makanan utama, menggantikan nasi. Keputusan ini tidak hanya membantu mereka bertahan dalam masa sulit tetapi juga menjadi identitas budaya yang diwariskan hingga kini.

    Masyarakat kampung mengonsumsi singkong dengan cara digiling terlebih dahulu. Lalu diendapkan dan disaring menjadi aci atau sagu. Ampasnya dikeringkan dan dibuat men­jadi rasi. Singkong juga diolah menjadi berbagai makanan ringan.

    Kandungan Gizi Singkong

    Menurut Badan Pangan Nasional, singkong memiliki kandungan serat yang lebih tinggi dan indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi, sehingga dapat membantu mengurangi risiko diabetes.

    Dalam 100 gram singkong rebus terdapat sekitar 2,3 gram serat, sedangkan nasi putih hanya mengandung 0,4 gram serat. Keunggulan ini menjadikan singkong sebagai makanan yang lebih sehat dan memberikan rasa kenyang lebih lama, cukup dengan dua kali makan sehari.

    Dari segi ekonomi, masyarakat Cireundeu tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga beras. Singkong yang dapat ditanam sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim menjadi solusi pangan yang berkelanjutan.

    Masyarakat juga mengolah singkong menjadi berbagai produk olahan seperti opak, cireng, simping, dendeng kulit singkong, hingga bolu, yang dijual sebagai oleh-oleh khas.

    Ketahanan Pangan Ala Cireundeu

    Konsep ketahanan pangan yang diterapkan masyarakat Cireundeu tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menarik banyak pihak untuk belajar.

    Pada 2010, Kampung Cireundeu resmi menjadi destinasi dan desa wisata. Banyak pelajar, mahasiswa, hingga peneliti yang datang untuk mempelajari pola konsumsi unik ini. Mereka tertarik pada prinsip kemandirian dan kesadaran menjaga keseimbangan hidup dengan alam yang diterapkan masyarakat adat.

    “Ketahanan pangan bukan hanya tentang menyediakan makanan, tetapi juga tentang bagaimana kita memanfaatkan sumber daya lokal dengan bijaksana,” ujar Abah Widi, kepala adat Kampung Cireundeu, seperti dikutip dari Indonesia.go.id.

    Ia berharap konsep ini dapat diadopsi oleh masyarakat lain agar Indonesia tidak terus bergantung pada beras impor.

    Tradisi mengonsumsi rasi dan ritual adat seperti Tutup Taun Ngemban Taun pada 1 Sura telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh pemerintah pusat dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat.

    Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Jabar, Febiyani, mengingatkan pentingnya melestarikan tradisi ini.

    “Dua tradisi ini harus diturunkan ke generasi berikutnya, khususnya di Cireundeu. Wajib dirawat dan dilestarikan,” katanya.

    Modernisasi dan Keunikan yang Terjaga

    Meski mempertahankan tradisi, masyarakat Cireundeu tidak menutup diri dari perkembangan zaman. Peralatan modern seperti televisi dan ponsel sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

    Bangunan rumah yang dulu banyak berdinding bambu kini mulai berganti dengan dinding semen dan bata. Namun, semangat menjaga warisan leluhur tetap menjadi prioritas.

    Kampung Cireundeu menjadi contoh nyata bahwa tradisi dan modernisasi dapat berjalan berdampingan. Dengan mengedepankan kearifan lokal, mereka tidak hanya berhasil menjaga ketahanan pangan tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.

    Konsep yang mereka terapkan menunjukkan bahwa solusi pangan tidak harus bergantung pada satu komoditas, melainkan dapat disesuaikan dengan potensi lokal yang tersedia.

    Inspirasi dari Cireundeu

    Keunikan Kampung Cireundeu dalam menerapkan konsep ketahanan pangan telah mengajarkan pentingnya kemandirian dan keberlanjutan. Pola konsumsi berbasis singkong yang telah bertahan selama satu abad ini menjadi simbol ketahanan masyarakat di tengah perubahan zaman.

    Tradisi ini tidak hanya relevan bagi mereka, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat Indonesia.

    Dengan menjaga keseimbangan antara alam dan kebutuhan manusia, Kampung Cireundeu menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar menyediakan makanan, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup selaras dengan alam.

    Semoga inspirasi dari Kampung Cireundeu dapat memotivasi daerah lain untuk memanfaatkan potensi lokal dan menjaga warisan budaya demi keberlanjutan generasi mendatang.

    Sumber: Indonesia.go.id