Siapa nyana kalau aplikasi yang dimaksudkan untuk mempermudah penyaluran pupuk subsidi justru menjadi sumber kendala. Hal itu seperti dialami petani di Kabupaten Pringsewu yang tidak dapat utuh menyerap pupuk.
Pringsewu (Progres.co.id): DATA Dinas Pertanian (Distan) Pringsewu menunjukkan, bila dibanding 2023 telah terjadi penurunan penyerapan pada beberapa jenis pupuk di tahun 2024.
Penurunan penyerapan berlangsung pada pupuk urea yang hanya terserap 90 persen dari stok tersedia 7.170 ton. Lalu NPK hanya terserap 97 persen dari 8.066 ton. Kemudian pupuk NPK Formula Khusus atau NPK F hanya tersalurkan 17 persen saja dari ketersediaan 3.646 ton.
Menanggapi hal tersebut Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sri Ermalia mengatakan, pemahaman penggunaan aplikasi di tingkatan petani menjadi penyebab utama menurunnya daya serap pupuk subsidi.
“Belum semua petani paham mengoperasionalkan aplikasi e-Pubers. Sedangkan aplikasi ini digunakan untuk penebusan pupuk subsidi,” jelasnya, Jumat (3/1/2025).
Karena membutuhkan waktu penyesuaian, imbuh Sri, akhirnya berpengaruh terhadap daya serap. Sedangkan mengenai ketersediaan pupuk subsidi dipastikan masih mencukupi kebutuhan petani .
Terlebih, ungkapnya lagi, pihaknya terus memantau proses distribusi pupuk bersubsidi secara ketat. Baik melalui pendampingan maupun sosialisasi oleh tim KP3. “Jadi kita bisa memastikan pendistribusian pupuk bersubsidi tetap berjalan lancar dan tepat sasaran,” katanya.
Selain itu, masih menurut Sri, Pemkab Pringsewu juga terus meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dengan mendorong petani untuk menerapkan pemupukan berimbang dan memanfaatkan sumber daya alternatif seperti pembuatan kompos, misalnya.
“Kita juga selalu memperbaharui data E-RDKK setiap empat bulan. Tujuannya untuk memastikan alokasi pupuk subsidi yang makin presisi agar tepat sasaran,” tutupnya.(*)







