Komoditi sawit yang dihasilkan Lampung kiranya tak mendatangkan keuntungan finansial semata, melainkan juga memberi kontribusi bagi pembangunan infrastruktur.
Bandarlampung (Progres.co.id): KONTRIBUSI tersebut tidak bisa dibilang kecil. Untuk dua tahun anggaran terakhir, setidaknya ada Rp30 miliar yang disumbangkan bagi jalan provinsi. Dengan perincian pada TA 2023 jumlahnya Rp16,3 miliar. Sedangkan di TA 2024 besarannya melorot menjadi Rp14,4 miliar.
Lantas anggaran dari manakah itu? Menurut Sekretaris Dinas Bina Marga Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung, Hendriyanto, anggaran itu berasal dari Dana Bagi Hasil (DBH) komoditi sawit.
Untuk diketahui, sebagai upaya mengurangi ketimpangan fiskal dan eksternalitas yang membawa dampak negatif atas berlangsungnya aktivitas sektor perkebunan sawit, telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2023 tentang Dana Bagi Hasil Perkebunan Sawit.
DBH dijadikan sebagai instrumen aliran anggaran dari pemerintah pusat kepada daerah penghasil sawit atau pun daerah non penghasil. “Anggarannya dari pemerintah pusat,” terang Hendriyanto, Selasa (22/10/2024).
DBH sawit diperoleh dari dua sumber, yakni melalui bea keluar dan pungutan ekspor yang dikenakan atas kelapa sawit, minyak kelapa sawit mentah, dan atau produk turunannya.
Ditambahkan Hendriyanto, DBH sawit yang diterima Pemprov Lampung dipergunakan untuk pembangunan jalan pada ruas yang dinilai sangat membutuhkan. Untuk saat ini BMBK memfokuskan pembangunan jalan rigid beton sepanjang 3,5 kilometer di ruas Padangratu Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah.
Adapun pengerjaannya berlangsung dalam dua tahap. Pada tahap pertama pengerjaan rigid beton sepanjang 1,87 kilometer. Lalu tahap kedua (2024) dilanjutkan rigid beton sepanjang 1,67 kilometer. “Saat ini progresnya sudah 80 persen. Tinggal tersisa menuntaskan pengerjaan bahu rapat kanan-kiri,” katanya.
Sedangkan pemilihan lokasi ruas jalan Padangratu Kalirejo atas pertimbangan tingginya mobilitas dari aktivitas pengangkutan hasil perkebunan di wilayah sekitar. “Pada ruas itu kondisi jalannya memang banyak yang rusak. Di sana juga banyak mobil pengangkut pasir dan sawit,” ungkapnya.(*)








