Profesi petani kerap dipandang kurang menarik, sehingga membuat anak muda masa kini lebih memilih untuk berprofesi sebagai karyawan di perusahaan berpendingin. Namun kisah sukses Harry Stine mungkin dapat mengubah perspektif tersebut.
(Progres.co.id): MENJADI petani konglomerat bukan hanya bualan semata. Harry Stine yang bergelut di sektor pertanian berhasil mencatat sejarah sebagai orang terkaya nomor 244 di dunia. Tidak tanggung-tanggung, Forbes mencatat harta kekayaannya tembus hingga Rp 160,09 triliun per Sabtu (26/10/2024).
Harry Stine merupakan anak dari keluarga petani yang lahir pada 26 Oktober 1941 di Adel, Lowa, Amerika Serikat.
Sejak usia lima tahun, Stine sudah diajarkan tentang seluk-beluk pertanian oleh orang tuanya. Kecintaannya pada dunia pertanian mengantarkannya ke Lowa State University, jurusan agronomi. Selepas kuliah, ia kembali ke ladang keluarga dan mulai berinovasi di bidang genetika tanaman.
Pada akhir 1960-an, ia mendirikan Improved Variety Research (IVR), perusahaan penelitian kedelai swasta pertama di AS. Namun, seperti kata pepatah, kesuksesan tidak datang dengan mudah. IVR rupanya tidak bertahan lama. Meski begitu, Stine tidak patah arang, ia kembali bangkit dan mendirikan Perusahaan Pembenihan Stine.
Ketertarikannya pada pemuliaan kedelai berhasil mendatangkan keuntungan besar. Lewat perusahaan itu, ia mengembangkan tanaman kedelai baru yang memiliki hasil lebih tinggi.
Pada 1979, ia mulai memasarkan benih kedelai di bawah merek Stine Soybean Seeds. Hasilnya, penjualan benih kedelai melonjak tajam. Dalam lima tahun, Stine Seed Company berhasil menjual lebih dari setengah juta unit benih yang tersebar luas, dari Ohio hingga Colorado, Minnesota hingga Missouri.
Tidak hanya fokus pada kedelai, Stine juga merambah sektor jagung dengan mendirikan Eden Enterprises bersama rekannya, Bill Eby. Perusahaan ini fokus pada pengembangan bibit jagung dan turut meraih sukses di pasaran.
Kesuksesan demi kesuksesan mendorong Stine untuk terus memperluas usahanya. Pada 1986 hingga 1989, Stine Seed Company mengakuisisi sembilan perusahaan benih regional, memperluas jangkauan pasar hingga memiliki 1.700 dealer di 15 negara bagian AS. Perusahaan ini pun menjelma menjadi salah satu dari empat perusahaan benih kedelai terbesar di Amerika.
Sebagai sosok pengusaha sekaligus petani sukses, Stine ternyata menunjukkan kepedulian yang besar terhadap para karyawannya.
Beberapa tahun lalu, ia memberikan bonus sebesar seribu dolar AS kepada setiap karyawan untuk setiap tahun masa kerja mereka di perusahaan. Pada momen Natal, Stine juga memberi kenaikan upah sebesar satu dolar AS per jam untuk karyawannya.
“Kami ingin karyawan merasa dihargai,” ungkapnya seperti dikutip dari Forbes.
Bagi Stine, memperlakukan karyawan dengan baik adalah dasar dari bisnis yang sukses.
(Sumber: CNN Indonesia)







