Sesaat setelah dilantik sebagai Presiden RI, Prabowo Subianto langsung menitahkan agar Indonesia segera berswasembada pangan. Sedemikian penting pertanian di mata purnawirawan jenderal kopassus tersebut. Sejalan dengan pemikiran itu, Pj Gubernur Samsudin sudah pernah menyampaikan betapa asyiknya menggeluti bercocok tanam.
Bandarlampung (Progres.co.id): SAMSUDIN yang meniti karir di dunia pendidikan sebagai guru, hingga menapaki jenjang birokrasi yang kemudian mengantarkannya menjadi Penjabat Gubernur Lampung, mengakui dunia pertanian menawarkan keasyikan tersendiri. “Selain memberi keuntungan finansial, bercocok tanam juga kasih keasyikan berbeda,” tuturnya, saat menerima perwakilan Ikatan Alumni Pertanian (Ikaperta) Unila, di ruang dinas sementara di Kota Baru, beberapa waktu lalu.
Birokrat yang dikenal murah senyum ini, menceritakan betapa kesengsemnya dia dan istri, Maidawati Retnoningsih, terhadap tanaman. “Saya punya kos-kosan di Jakarta. Kebetulan bangunannya tiga lantai. Di bagian dag paling atas saya jadikan lahan bercocok tanam,” ucapnya.
Sebelumnya, sambung Samsudin, sebagian besar area dag telah dilapisi plastik. Setelah itu di bagian atasnya dihamparkan tanah yang dijadikan lahan tanam. Pada hamparan itulah dia bersama istri menyalurkan minat bercocok tanam di saat libur.
“Jadi kalau sedang senggang, malam-malam saya berburu di marketplace. Cari bibit-bibit tanaman. Kalau kebetulan ketemu saya langsung order. Nanti, setelah pesanan datang, saya yang menanamnya. Nyonya juga senang. Dia bantu-bantu menyiram dan merawat tanaman koleksi kami. Kami bener-bener kesengsem,” kisah Samsudin seraya mengembangkan senyum.
Dia menambahkan, walau sedang tidak menanam bibit tanaman, mereka berdua kerap menghabiskan waktu di kebun mungil di atas gedung itu. “Berduaan aja sambil lihat-lihat tanaman. Ada juga kolam kecil supaya ada nuansa air seperti di alam. Bercocok tanam itu sangat-sangat mengasyikkan, kok. Dicoba aja, pasti setuju dengan pendapat saya ini,” imbuhnya setengah berkelakar.
Kendati berlatar belakang sebagai pendidik, perhatian dan kepedulian Samsudin terhadap dunia pertanian diakuinya telah ada semenjak lama. Bahkan saat berkesempatan berkunjung ke China, perhatiannya justru tersedot pada teknologi pertanian yang diterapkan pemerintahan Negeri Tirai Bambu tersebut.
“Saya terpukau dengan inovasi pertanian mereka. Terobosannya sangat inovatif. Saya lihat mereka menanam padi bukan hanya di tanah. Tapi sudah mampu menanam padi di permukaan air laut, di bendungan dan telaga. Kalau laut, embung, danau, telaga dan bendungan di tempat kita kan banyak. Seandainya kita juga punya inovasi serupa itu artinya potensi kita nggak kalah dibanding China,” katanya.
Oleh karena itu, Samsudin menghimbau agar para peneliti pertanian, khususnya di Lampung, mampu mencari inovasi yang benar-benar merupakan lompatan besar dan berdampak secara luas. “Inovasi semacam itu yang sebenarnya dibutuhkan pemerintah. Sehingga pemerintah bisa mendukung pengembangannya. Kalau nanti teknologinya sudah diterapkan kan bisa memberi kontribusi besar bagi masyarakat juga daerah,” harap Samsudin.
Dirinya lantas memberi contoh inovasi besar yang dimaksud. Di antaranya seperti durian Musang King yang dimiliki Malaysia dan buah jambu kristal yang berukuran besar tetapi berbiji kecil hasil rekayasa teknologi peneliti Thailand. “Mari sama-sama kita saling suport untuk pertanian Lampung. Dunia bercocok tanam ini bener-bener mengasyikkan, kok,” ajak Samsudin sambil kembali menyuguhkan senyum khasnya.(*)







