Selama tiga tahun dibekali teori dan praktik beternak unggas. Setelah lulus, tidak sedikit yang emoh (enggan) berkutat di kandang. Pragmatisme menjadi godaan terberat.
Tulangbawang Barat (Progres.co.id): TIDAK kurang 128 siswa tercatat sebagai peserta didik di Jurusan Peternakan, Program Unggas, SMKN 1 Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba).
Sebenarnya, pada jurusan peternakan ada dua program. Pertama adalah program unggas. Berikutnya ruminansia. Program ini mempelajari usaha ternak hewan ruminansia seperti sapi, kambing, domba, kerbau, dan sapi perah.
“Kami tidak memilih program tersebut karena membutuhkan biaya besar untuk pelaksanaannya. Untuk pengadaan sapi sebagai bahan pembelajaran dan praktik, misalnya, seekor sapi harganya bisa mencapai belasan bahkan puluhan juta. Maka SMKN 1 Tubaba lebih memilih Program Unggas, spesifiknya ayam petelur dan pedaging. Anggaran lebih terjangkau, jelas Ketua Jurusan Peternakan SMKN 1, Edi Rovi’i, saat menerima Progres.co.id, Kamis (7/11/2024).

Kendati dari segi pembiayaan lebih ringan, bukan berarti program unggas kurang menarik untuk diikuti. Bahkan, menurut Edi, bukan hanya menarik, melainkan juga prospektif. Mengingat daging dan telur ayam sangat diperlukan dalam keseharian masyarakat.
“Programnya menjadi menarik lantaran pelajar diajarkan mulai dari merawat DOC (Day Old Chicken, red) sampai pada fase produksi. Kalau ayam petelur sampai bertelur. Sedangkan ayam potong hingga memasuki usia daging ayam sudah memadai,” jelas Edi.
Tak hanya itu, sambungnya, pelajar juga dibimbing praktik membuat pakan dari bahan baku yang tersedia di sekitar lingkungan sekolah.
“Praktis semua dilakukan oleh murid. Kami membimbingnya. Konsep learning by doing benar-benar kita terapkan. Supaya mereka punya pengalaman langsung. Tidak melulu tahu teori saja,” tutur Edi.
Selain diasah keterampilan, imbuh Edi, anak didik juga dibiasakan disiplin. Misalnya terkait waktu pemberian pakan. Mengingat baik ayam pedaging dan ayam petelur memiliki jadwal makan yang rutin, maka meski jam sekolah sudah usai, para pelajar yang terbagi dalam kelompok piket, tetap kembali ke sekolah untuk memberi pakan ayam.

“Iya, sore hari biasanya pelajar yang kebagian piket mesti ke kandang untuk kasih makan ayam. Jadi ada yang piket untuk kandang ayam petelur ada juga yang di kandang pembesaran ayam. Di sini kedisiplinan harus dijaga. Beda dengan tanaman, kalau tak disiram sehari, tentu tidak kenapa-kenapa. Tapi kalau ayam, sampai telat diberi makan sekali saja, risikonya bisa fatal. Ayam bisa mati,” ungkap Edi.
Untungnya semua berjalan secara baik, sudah barang tentu di bawah pengawasan para pendidik. Hasilnya, baik ayam pedaging maupun ayam petelur sudah banyak yang diproduksi.
Progres.co.id berkesempatan melihat langsung proses panen telur di kandang. Kandang bertingkat yang tersusun rapi dan relatif bersih itu makin terlihat menarik. Apalagi dengan keberadaan telur-telur di beberapa kandang.
“Kalau sudah dipanen, lantas dikemas per kilo. Tak perlu nunggu lama. Karena telur akan langsung ludes dibeli warga sekitar. Warga suka membeli di sini karena telurnya masih segar. Bisa dibilang fresh from the oven,” ucap Edi seraya tersenyum.
Meskipun prospek berternak unggas cukup menjanjikan, namun Edi tetap merasa prihatin. Sebab, masih banyak lulusan SMKN 1 yang setelah tamat tidak menerapkan ilmu dan pengalamannya sebagai mata pencarian. Para alumnus lebih memilih bekerja di “tempat bersih” bukan di kandang.
“Waktu masih sekolah mereka aktif berpraktik di kandang, makanya ada sebutan ‘anak kandang’, tapi setelah lulus malah lebih milih kerja di mini market. Padahal enggak sedikit juga perusahaan peternakan yang meminta lulusan kami untuk dipekerjakan di tempat mereka. Tapi anak-anaknya malah emoh. Mungkin terpengaruh oleh lingkungan pergaulan, sehingga tak mau kotor-kotoran lagi di kandang,” jelas Edi.
Dia menambahkan, tidak sedikit pula alumnus yang tidak menerapkan ilmunya dengan membuka peternakan sendiri, karena takut menghadapi risiko untuk berusaha. “Mereka takut gagal,” sergah Edi prihatin.(*)








