Tag: Bapanas


  • Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) memastikan ketersediaan pangan pokok strategis sampai Idulfitri 1446 Hijriah, aman dan mencukupi. Kendati begitu, Kepala NFA Arief Prasetyo Adi tetap menggarisbawahi pada beberapa komoditas yang tengah berfluktuasi.

    Jakarta (Progres.co.id): Keterangan itu disampaikan Arief Prasetyo Adi dalam Rapat Koordinasi Kesiapan menghadapi Idulfitri 1446 Hijriah/Tahun 2025 yang digelar di Auditorium Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Jakarta pada Senin (10/3/2025).

    “Pertama bahwa ketersediaan pangan aman dan cukup untuk jelang hari raya dan idulfitri 1446 Hijriah, karena ini memang sudah kita persiapkan jauh-jauh hari bersama-sama. Kedua, harga pangan secara umum stabil. Concern kita hari ini ada di cabai rawit yang harganya masih cukup pedas,” papar Arief.

    “Cabai ini berkaitan dengan hujan, karena kalau hujan, ini biasanya bunga akan rontok dan memang ke depan perlu menggunakan cungkup atau green house. Kemudian yang satu lagi yang perlu concern kita adalah harga MinyaKita. Harganya harus Rp 15.700 per liter, tapi di pasaran Rp 17.000-18.000 per liter,” sambungnya.

    Kepala NFA Arief Prasetyo Adi mengemukakan jika terjadi harga jual yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) atau Harga Acuan Penjualan (HAP) diperlukan intervensi pemerintah. Terlebih, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan agar selama Ramadan sampai Idulfitri, harga-harga harus baik dan stabil.

    “Guna intervensi ke pasar, pemerintah bersama Perum Bulog telah kembali menyalurkan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Selama Ramadan ini, kita siapkan 150 ribu ton untuk 3 zona,” ujarnya

    Sebagai informasi, realisasi SPHP beras di tingkat konsumen sebelum diberhentikan sementara pada Februari lalu, telah tersalurkan 100,9 ribu ton per 7 Februari. Sementara realisasi SPHP beras setelah ada penyaluran kembali, per 7 Maret telah berada di angka 12,1 ribu ton.

    Program SPHP juga turut menyentuh jagung pakan bagi kalangan peternak layer mandiri. Realisasinya per 7 Maret telah menyentuh kuantitas 2,162 ton. Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) yang ada di Bulog, oleh NFA telah ditetapkan dapat dilakukan lelang dengan harga penjualan af (di depan) Gudang Bulog di Rp 5.500 per kilogram (kg).

    Adapun rerata harga jagung di tingkat peternak per 9 Maret dicatat Panel Harga Pangan telah berada di Rp 6.129 per kg atau 5,67 persen di atas HAP. Tentunya tatkala peternak memperoleh jagung dengan harga lebih rendah dapat menstabilkan pula harga daging ayam dan telur ayam.

    “Berikutnya lagi ada pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) se-Indonesia, termasuk Operasi Pasar Pangan Murah selama Ramadan dan Idulfitri. Berkat kolaborasi bersama, saat ini sudah ada lebih dari seribu titik,” ungkap Arief.

    Program GPM yang merupakan kolaborasi NFA bersama dinas pangan pemerintah daerah beserta berbagai stakeholder pangan, hingga 7 Maret telah menyentuh 1.762 kali di 17 provinsi dan 100 kabupaten/kota. Rinciannya Januari telah terlaksana 171 kali, Februari 731 kali, dan di Maret ini 860 kali.

    Sementara realisasi pelaksanaan Operasi Pasar Pangan Murah hingga per 9 Maret 2025, telah ada di 1.165 titik yang tersebar di 34 provinsi dan 351 kabupaten/kota. Masyarakat yang tersasar dalam program ini tercatat sebanyak 202 ribu orang. Pelaksanaan OP Pangan Murah ini diupayakan ada setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 11.00 waktu setempat.

    Dalam data yang dihimpun NFA, 1.165 titik tersebut ada di 976 Kantor PT Pos Indonesia, 92 gerai PT Charoen Pokphand Indonesia, 73 titik di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Pertanian, 12 titik di Pinsar Petelur Nasional (PPN), 4 lokasi di kios PT Pupuk Indonesia, 3 lokasi masing-masing di Dinas Pangan dan Dinas Pertanian, dan 1 lokasi masing-masing di gerai PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk dan Pinsar Indonesia.

    Mengenai stok pangan pokok strategis seperti beras, Arief meyakini stok beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog menjadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Ia turut menuturkan proyeksi produksi beras di Maret dan April ini akan menjadi kunci keberhasilan swasembada.

    “Stok beras bulog per 7 maret sebanyak 1,9 juta ton. Ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan ini adalah stok terbaik selama 5 tahun terakhir. Lalu stok di Pasar Induk Beras Cipinang terpantau sekitar 50-51 ribu ton. Biasanya kalau stok di atas 40 ribu ton itu memang Insya Allah aman,” katanya.

    “Maret ini akan ada panen setara beras kurang lebih 5,48 juta ton dan April 4,97 juta ton. Jadi bulan Maret-April ini merupakan kunci sukses kalau kita ingin tidak impor beras sampai dengan akhir tahun nanti. Maret dan April ini adalah peak season-nya. Kami berterima kasih kepada seluruh teman-teman di Kepolisian dan juga TNI, karena membantu kita semua untuk penyerapan,” tutup Kepala NFA Arief Prasetyo Adi.

    Selanjutnya pada sesi konferensi pers, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Budi Gunawan menegaskan pemerintah telah sangat siap dalam menyukseskan mudik Lebaran Idulfitri tahun ini.

    Ia telah memastikan kesiapan itu dari berbagai aspek bersama Polri, TNI, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pariwisata, Kementerian Agama, Badan Pangan Nasional, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) beserta BUMN-BUMN yang terkait.

    “Kesimpulan rapat (hari ini), seluruh kementerian dan lembaga yang hadir di sini telah siap untuk melaksanakan dan mensukseskan mudik maupun Lebaran Idulfitri 1446 H, tahun 2025. Dan yang kedua sebagaimana perintah Bapak Presiden telah dibentuk juga tim respons cepat apabila terjadi hal-hal terkait gangguan keamanan, bencana, dan sebagainya,” terang Menko Polkam Budi Gunawan.(SUMBER: BAPANAS)



  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai Maret ini akan dikebut. Untuk itu, kecukupan ketersediaan pasokan pangan pokok dipersiapkan dengan mengutamakan produksi pangan dalam negeri.

    Jakarta (Progres.co.id): Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi, menyatakan optimismenya bahwa MBG akan menjadi agregator untuk absorpsi hasil panen para petani lokal.

    “Tadi Bapak Menko Pangan menyebutkan MBG mulai Maret ini akan diupayakan lari dengan kencang. Apalagi nanti kalau sudah menyentuh 82,9 juta penerima manfaat, bisa butuh beras hingga 4 juta ton. Tapi memang produksi beras kita akan semakin besar, total bisa hampir 14 jutaan ton sampai April ini,” kata Arief selepas Rakortas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (3/3/2024).

    Potensi produksi beras dalam negeri subround I (Januari-April) sebagaimana rilis Badan Pusat Statistik (BPS), di tahun 2025 ini dilaporkan menjadi yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir atau sejak Januari-April 2019. Pada caturwulan 2025 ini, BPS memproyeksikan total produksi beras dapat menyentuh angka 13,95 juta ton.

    Sebagai komparasi, Januari-April 2024 berada di 11,07 juta ton. Lalu Januari-April 2023 di 12,98 juta ton. Selanjutnya Januari-April 2022 di 13,71 juta ton. Sementara di Januari-April 2021 di 13,58 juta ton dan di Januari-April 2020 di 11,52 juta ton. Terakhir, Januari-April 2019 berada di angka 13,63 juta ton.

    Untuk perkiraan kebutuhan konsumsi beras bulanan, berdasarkan proyeksi neraca beras yang disusun NFA, pada Ramadan atau Maret ini akan meningkat sekitar 15,47 persen atau menjadi 2,738 juta ton. Di Februari 2025, kebutuhan konsumsi beras berkisar di 2,371 juta ton.

    “Kalau nanti produksi beras kita semakin besar April ini, artinya kita harus siap-siap. Musim hujan seperti sekarang, kelebihannya produksi akan banyak. Jadi challenge-nya adalah kecepatan kita mengeringkan gabah dari kadar air yang mungkin sampai dengan 30 persen, kita harus turunkan gabahnya ke sampai dengan 14 persen. Nah makanya diperlukan banyak dryer,” ujarnya.

    “Hari ini harus pakai teknologi, harus diperbanyak dryer. Jangan ambil risiko, karena nanti produksinya banyak, terus kemudian kualitas gabahnya malah turun. Nanti produktivitasnya jadi rendah karena rendemennya rendah. Padahal ada program MBG dan Bulog sekarang sudah jadi standby buyer. Jadi saat ini pemerintah itu sudah siapkan solusi di hilir perberasan,” beber Arief.

    Kepala NFA Arief Prasetyo Adi juga menyoroti harga daging ruminansia yang disebutnya perlu diperhatikan kembali. Menurutnya, akibat kasus Penyakit Mulut dan Kulit (PMK) menyebabkan harga daging di pasaran menurun.

    “Harga daging harusnya sekitar Rp 120-130 ribu, batas atasnya kan Rp 140 ribu. Kemarin itu ada penurunan harga daging karena case PMK. Jadi sekarang harga sudah mulai naik lagi. Ini berita baik bagi peternak kita. Semangat kita tentu adalah membangun produksi pangan dari hasil jerih payah sendiri,” tukasnya.

    Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) dalam bentuk daging ruminansia pun terbilang cukup baik. Per akhir Februari kemarin, stok daging kerbau total ada 39 ribu ton. Sementara CPP dalam bentuk daging sapi di angka 4 ribu ton. Daging kerbau sendiri oleh BUMN pangan mulai digelontorkan ke masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau.

    Selanjutnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam pernyataannya ke insan pers, melontarkan harapannya agar program MBG dapat dikebut mulai Maret ini. “(MBG) diperkirakan Maret akan dilaksanakan, mungkin per bulan bisa menyerap anggaran sampai Rp 1 (sampai) 2 triliun. Urusan anggaran baru selesai,” paparnya.

    “Oleh karena itu, perlu kita siapkan rantai pasok karena butuhnya besar sekali, karena Maret ini akan berkali-kali lebih besar, bahkan nanti tentu sampai akhir tahun akan 82,9 juta penerima manfaat. Kalau sampai 82,9 juta, itu beras saja (butuh) 4 juta ton. Mudah-mudahan program ini mulai Maret akan lari dengan kencang,” pungkas Menko Zulhas.(*)



  • Perkembangan harga jagung kering pipilan di Lampung mengalami anomali harga yang cukup tajam dan masih tetap di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp5.500/kg. Situasi terburuk terjadi di Lampung Tengah. Harga jagung petani di daerah sentra produksi jagung terbesar di Lampung ini hanya dihargai Rp3.800/kg.

    Bandarlampung (Progres.co.id): Panel Harga Badan Pangan Nasional ((Bapanas) tanggal 20 Februari 2025 melaporkan harga rata-rata jagung kering  pipilan di Lampung sebesar Rp4.740/kg atau 13,82 persen di bawah HPP Rp5.500/kg.

    Harga tertinggi terjadi di Lampung Selatan, yakni sebesar Rp5.450/kg. Sementara harga terendah di Lampung Tengah Rp3.800/kg. Anomali harga antar wilayah ini sudah terjadi cukup lama hingga membentuk jurang yang tajam di tengah situasi perkembangan harga yang tidak pernah menyentuh HPP Rp5.500/kg.

    Pergerakkan harga jagung di Lampung untuk bisa menembus HPP bergerak sangat lamban. Meski ada kenaikan 11,45 persen di banding harga rata-rata minggu seharga Rp4.263/kg, pergerakan harga jagung kering pipilan di Lampung justru masih minus 4,45 persen dibanding harga rata-rata bulan lalu yang mencapai Rp4.961/kg.

    Secara nasional, harga rata-rata jagung kering pipilan di tingkat petani memang masih ‘babak belur’. Bapanas mencatat per 20/02/2025 seharga Rp4771/kg atau sedikit di atas harga rata-rata di Lampung. Harga terendah nasional terjadi di Gorontolo sebesar Rp4.075/kg. Tertinggi di Nusa Tenggara Timur Rp6.000/kg. Diketahui, Provisi Lampung dan Gorontalo merupakan daerah penghasil jagung terbesar di Indonesia.

    Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pemerintah menaikkan HPP jagung dari Rp5.000/kg menjadi Rp5.500/kg belum berhasil menyejahteraan petani jagung.

    Dengan kondisi kejatuhan harga jagung yang masih di bawah HPP dan Harga Acuan Pembelian Tingkat Produsen (HAP),  Bapanas telah menetapkan komoditas jagung dengan status waspada bersama 3 komoditas lainnya, yakni  Ayam Ras Pedaging (Hidup), Telur Ayam Ras, dan  GKP Tingkat Petani.

    (*)



  • Harga jagung pipilan kering di tingkat produsen atau petani di Lampung masih terpuruk di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp5.500/kg.

    Bandarlampung (Progres.co.id): Berdasarkan panel harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga jagung pipilan di Lampung masih berfluktuasi di bawah Rp5.000/kg.

    Dalam laporannya, Bapanas menyebutkan harga jagung di tingkat petani pada Selasa, 18 Februari 2025 rata-rata Rp4.670/kg. Harga terendah berada di sentra produksi Lampung Tengah seharga Rp3.375/kg. Sedangkan harga tertinggi di Lampung Selatan Rp5.300/kg.

    Merujuk dari laporan Bapanas dapat disimpulkan perkembangan harga jagung tingkat petani di Lampung bergerak sangat lamban. Bahkan menunjukkan anomali harga yang semakin curam dibanding perkembangan harga di tingkat konsumen.

    Keterpurukan dan anomali harga tersebut dapat dijelaskan dengan membandingkan harga jagung pipilan petani pada periode 05/02/2025 sampai 10/02/2025 tercatat berada dalam rentang Rp3.950/kg sampai Rp4.180/kg.

    Sementara harga rata-rata jagung pipilan kering di tingkat peternak pada Selasa, 18 Februari 2025, tercatat Rp6.017/kg. Harga terendah di Pringsewu Rp5.500/kg dan tertinggi di Kota Metro Rp6.800/kg.

    Dibanding periode 05/02/2025 sampai 10/02/2025, harga jagung di tingkat peternak menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibanding harga di tingkat petani. Sebelumnya, pada periode ini harga tertinggi tercatat Rp6.383/kg pada 7 Februari 2025 dan terendah Rp5.783/kg pada 06 Februari 2025.

    Sesuai Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 18 Tahun 2025 tentang pemberlakuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung di tingkat petani ditetapkan sebesar Rp5.500/kg.

    Sesuai regulasi, Perum Bulog wajib menyerap hasil panen petani jagung sesuai HPP Rp5.500/kg. Ditegaskan, penugasan penyerapan jagung petani bertujuan untuk memperkuat stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) dan menjaga stabilitas harga dan mendukung kesejahteraan petani.

    Menurut Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi dengan HPP sebesar Rp5.500/kg, pemerintah berharap ada keseimbangan harga jagung di tingkat produsen dan konsumen.

    Menyikapi masih rendahnya harga jagung tingkat petani di Lampung, Pimpinan Perum Bulog Kantor Wilayah Lampung Nurman Susilo mengatakakan pihaknya tetap mendasari harga pembelian seharga Rp5.500/kg.

    “Kami terus mengupayakan penyerapan hingga harga harga jagung petani bisa mencapai minimal sesuai HPP. Kita upayakan menyerap lebih banyak lagi jagung petani,” katanya, Selasa, 11 Februari 2025.(*)



  • Harga jagung pipilan kering tingkat produsen di Lampung masih tertekan jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp5.500/kg.

    Tabel Perkembangan Harga Jagung Pipilan Kering tingkat produsen di Lampung. Sumber Panel Harga BAPANAS

    Bandarlampung (Progres.co.id): Berdasarkan panel harga Badan Pangan Nasional, harga jagung pipilan di Lampung masih berfluktuasi dalam rentang tertinggi Rp4.180/kg dan terendah Rp3.950/kg selama periode 05/02/2025 sampai 10/02/2025. Harga tertinggi terjadi pada 07 Februari 2025 dan terendah pada 06 Februari 2025.

    Sementara harga jagung pipilan kering di tingkat peternak pada periode yang sama berada dalam rentang terendah Rp5.783/kg dan tertinggi Rp6.383/kg. Harga tertinggi terjadi pada 7 Februari 2025 dan terendah pada 06 Februari 2025.

    Sesuai Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 18 Tahun 2025 tentang pemberlakuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung di tingkat petani ditetapkan sebesar Rp 5.500/kg.

    Dengan terbitnya aturan ini, Perum Bulog wajib menyerap hasil panen petani jagung sesuai HPP. Penyerapan ini bertujuan memperkuat stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) dan menjaga stabilitas harga dan mendukung kesejahteraan petani.

    Menurut Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi penetapan HPP bertujuan untuk melindungi petani dari fluktuasi harga yang merugikan.

    “Dengan HPP sebesar Rp5.500 per kg, kami berharap keseimbangan antara produsen dan konsumen tetap terjaga,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat, 7 Februari 2025.

    Menyikapi masih rendahnya harga jagung Lampung, Pimpinan Perum Bulog Kantor Wilayah Lampung Nurman Susilo mengatakakan pihaknya segera melakukan penyerapan.

    “Segera kita turun menyerap jagung petani,” katanya, Selasa, 11 Februari 2025.

    Proyeksi Produksi Jagung

    Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), proyeksi produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen pada triwulan pertama 2025 dapat mengalami peningkatan 1,4 juta ton atau 41,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Rinciannya, pada Januari 2025 produksi jagung diproyeksi mencapai 1,33 juta ton, Februari 1,39 ton, dan Maret 2,08 juta ton. Total dalam triwulan pertama menjadi 4,81 juta ton.

    Sedangkan pada triwulan 2024 lalu, total produksi jagung sebesar 3,40 juta ton, dengan Januari 2024 di angka 512 ribu ton, Februari di 838 ribu ton, dan Maret 2,05 juta ton.

    Dengan adanya eskalasi signifikan produksi jagung dalam negeri, Arief mengatakan, pemerintah berkomitmen menyerap jagung guna mempertebal stok CJP yang dikelola oleh BUMN pangan.

    Hasil produksi petani jagung ini, ujar dia, harus diserap oleh Bulog menjadi cadangan pangan nasional.

    Untuk memperkuat stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP), Bulog ditargetkan menyerap 1 juta ton jagung pipilan kering pada tahun 2025 atau sekitar 5,8 persen dari total proyeksi produksi jagung nasional sebesar 17,7 juta ton.

    Sementara untuk target penyaluran berupa SPHP jagung sebesar 250 ribu ton pada tahun 2025.(*)



  • Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung dan kabupaten/kota sebaiknya mewaspadai kenaikkan harga barang-barang pangan menjelang Ramadan untuk mengantisipasi naiknya tingkat inflasi yang mulai menunjukkan trend peningkatan pada Januari 2025.

    Bandarlampung (Progres.co.id): Laporan bulanan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menjelaskan bahwa telah terjadi kenaikkan harga berbagai komoditas pada Januari 2025 hingga menimbulkan inflasi year on year (yoy) sebesar 1,04 persen dan deflasi month to month (mtm) sebesar 0,71 persen.

    Hasil survey BPS menyebutkan bahwa inflasi Januari 2025 dipicu oleh kenaikkan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau hingga mengalami inflasi sebesar 4,08 persen (yoy) dan 0,52 persen (mtm).

    Sebelumnya pada Desember 2024, kelompok ini mengalami inflasi 1,83 persen (yoy) dan 0,43 persen (mtm).

    Secara umum BPS Lampung merinci sejumlah komoditas makanan yang dominan menyumbangkan inflasi pada Desember 2024 dan Januari 2025, yakni kopi bubuk, bawang merah, cabai rawit, daging ayam ras, minyak goteng, bawang putih, makanan hewan peliharaan, telur ayam ras, cumi-cumi, nasi dengan lauk, bayam, udang basah, dan gula pasir, es, kangkung, kacang panjang, wortel,tomat, ikan kembung, ikan lele, dan ikan gabus.

    Subkelompok makanan ini pada Januari 2025 menyumbangkan inflasi sebesar 2,58 persen (yoy) dan 0,52 persen (mtm).

    Sebelumnya pada Desember 2024, inflasi pada subkelompok makanan relatif tertahan dalam persentase sangat rendah atau mendekati nol.

    Peebandingan tingkat inflasi pada dua bulan terakhir menggambarkan adanya gejala kenaikkan inflasi pada sektor makanan (pangan).

    TPID Lampung sebaiknya memberikan perhatian terhadap gejala ini. Sebab secara historis, kenaikkan harga barang pangan berpotensi mengalami kenaikkan akibat naiknya demand (permintaan) menjelang Ramadan yang jatuh pada akhir Februari dan Lebaran pada akhir Maret 2025.

    Harga Beras

    BPS Lampung tidak memasukkan beras sebagai komoditas dominan dalam laporan perkembangan inflasi pada Januari 2025.

    Berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional (BAPANAS), harga beras medium dan premium di Lampung relatif stabil.

    Harga beras medium di penggilingan tercatat antara Rp12.444/kg sampai Rp12.467/kg selama sepekan terakhir.

    Sementara harga beras premium di penggilingan berada dalam rentang Rp13.835/kg sampai Rp13.885/kg.

    Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada kenaikan harga beras secara bulanan baik di level penggilingan, grosir dan eceran pada Januari 2025.

    Kenaikan harga ini membuat komoditas beras menjadi salah satu komponen yang memberikan andil inflasi nasional sebesar 0,92% secara bulanan (mtm)

    “Rata-rata harga beras di penggilingan pada Januari 2025 naik 0,92% secara mtm dan turun sebesar 4,3% secara yoy,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, S.T., M.Si., M.Eng., Ph.D, dalam konferensi pers, Senin (3/2/2025).

    Sedangkan di tingkat grosir terjadi inflasi beras sebesar 0,56% secara mtm dan 1,11% secara tahunan (yoy). Di tingkat eceran, terjadi inflasi sebesar 0,36% secara mtm M dan 2,29% secara yoy.

    Laporan BPS ini berbeda dengan laporan yang disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Amran, justru menyebutkan terjadi penurunan harga beras menjadi Rp12.000/kg.

    “Di Januari, Februari tahun 2024 masih ingat itu bahkan antre membeli beras dan di data waktu itu harga rata-rata Rp 15.000/kg lebih, sekarang Rp 12.000/kg lebih,” kata Amran usai meneken nota kesepahaman dengan BPS terkait data produksi padi. Tandatangan dilaksanakan di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Kamis (30/1/2025).(*)



  • Tampaknya pemerintah tak mau setengah hati berpihak pada nasib petani. Itu ditunjukkan dengan pencabutan kebijakan ketentuan kualitas gabah yang diserap Perum Bulog. Dengan kata lain, semenjak revisi ditetapkan, Bulog wajib membeli gabah dengan harga Rp6.500 per kilogram.

    Jakarta (Progres.co.id): KENDATI telah ditetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah Rp 6.500 per kilogram (kg), namun terdapat aturan kualitas gabah yang dapat diserap dengan harga tersebut. Tak pelak banyak produksi gabah petani yang tidak dapat diserap Bulog.

    Dicabutnya aturan itu tertuang dalam Keputusan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 14 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Harga Pembelian Pemerintah dan Rafaksi Harga Gabah dan Beras. Aturan ini ditetapkan pada 24 Januari 2025.

    “Ketentuan mengenai harga pembelian gabah sebagaimana tercantum dalam Lampiran I huruf A dan Lampiran II Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Harga Pembelian Pemerintah dan Rafaksi Harga Gabah dan Beras dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,” bunyi diktum nomor kesatu dalam aturan tersebut, dikutip Kamis (30/1/2025).

    Revisi ini telah ditetapkan sebagai Hasil Rapat Koordinasi Terbatas bidang Pangan, Kementerian Koordinator bidang Pangan Nomor R-50/SES.M.PANGAN/SD/01/2025 tanggal 22 Januari 2025.

    “Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat Petani ditetapkan menjadi sebesar Rp6.500 (enam ribu lima ratus rupiah) per kilogram,” tulis diktum kedua.

    “Perum Bulog melaksanakan pembelian GKP di tingkat petani dengan harga sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua,” lanjut diktum keempat.

    Aturan itu memerintahkan Bulog menyampaikan laporan hasil pelaksanaan pembelian GKP di tingkat Petani kepada Kepala Badan Pangan Nasional dan tembusan disampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan, Menteri Keuangan, Menteri Pertanian, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara.

    “Laporan hasil pelaksanaan pembelian GKP di tingkat Petani sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEEMPAT paling sedikit memuat: a. data petani yang menjual GKP; b. volume pembelian GKP; dan c. lokasi pembelian GKP,” tutup keputusan tersebut.

    Berikut aturan penyerapan gabah yang telah dicabut:

    1) Gabah Kering Panen (GKP) di petani sebesar Rp 6.500 per kg dengan kualitas kadar air maksimal 25% dan kadar hampa maksimal 10%.

    2) GKP di penggilingan sebesar Rp 6.700 per kg dengan kualitas kadar air maksimal 25% dan kadar hampa maksimal 10%.

    3) Gabah Kering Giling (GKG) di penggilingan sebesar Rp 8.000 per kg dengan kualitas kadar air maksimal 14% dan kadar hampa maksimal 3%.

    4) GKG di gudang Bulog sebesar Rp 8.200 per kg dengan kualitas kadar air maksimal 14% dan kadar hampa maksimal 3%.

    5) GKP petani di luar kualitas 1 kadar air maksimal 25% dan kadar hampa maksimal 11-15% Rp 6.200/kg (rafakasi Rp 300/kg).

    6) GKP petani di luar kualitas 2 kadar air maksimal 26%-30% dan kadar hampa maksimal 10% Rp 6.075/kg (rafakasi Rp 425/kg).

    7) GKP petani di luar kualitas 3 kadar air maksimal 26%-30% dan kadar hampa maksimal 11-15% Rp 5.750/kg (rafakasi Rp 750/kg).

    8) GKP penggilingan di luar kualitas 1, kadar air maksimal 25% dan kadar hampa maksimal 11% Rp 6.400/kg (rafakasi Rp 300/kg).

    9) GKP penggilingan di luar kualitas 2 kadar air maksimal 26%-30% dan kadar hampa maksimal 10% Rp 6.275/kg (rafakasi Rp 425/kg).

    10) GKP penggilingan di luar kualitas 3 kadar air maksimal 26%-30% dan kadar hampa maksimal 11-15% Rp 5.950/kg (rafakasi Rp 750/kg).(*)



  • Kabar gembira unuk Penerima Bantuan Pangan (PBP). Pemerintah melanjutkan program Bantuan Pangan (Banpang) 2025 mulai Januari ini. 

    Bandarlampung (Progres.co.id): Penyaluran dilakukan selama 6 kali atau bulan. Pada tahap awal disalurkan pada Januari dan Februari. Empat penyaluran berikutnya dilaksanakan diatur kemudian.

    Di Lampung, ada sebanyak 829.675 orang tercatat sebagai Penerima Bantuan Pangan (PBP) bantuan pangan beras ini.

    Rinciannya, Bandarlampung, Kabupaten Pesawaran, Pringsewu, dan Tanggamus sebanyak 235.112 orang.
    Lampung Selatan 118.918 orang, Tulangbawang Barat, Mesuji, Tulangbawang, Tulangbawang 72.522 orang.

    Metro, Lampung Tengah, Lampung Timur sebanyak 213.217 orang, Lampung Utara, Lampung Barat, Pesisir Barat, dan Way Kanan 189.907 orang.

    Sama seperti tahun 2024, setiap 1 kali penyaluran PBP akan menerima 10 kg beras.

    Kepala NFA Arief Prasetyo Adi memastikan bahwa stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam kondisi yang aman dan cukup untuk digunakan dalam berbagai program intervensi stabilisasi berupa penyaluran banpang beras dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

    Per 3 Januari 2025, total stok beras di Perum Bulog mencapai 2,055 juta ton. Stok ini akan terus bertambah seiring dengan momentum panen raya yang akan berlangsung mulai pada Maret mendatang.

    Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam keterangan persnya memastikan bahwa penyaluran banpang beras untuk 4 bulan lainnya tidak akan disalurkan pada saat panen raya. “Jadi kita nanti akan lihat di April 2025 kapan akan disalurkan bantuan pangan selanjutnya,” ujar Menko Pangan Zulhas.(*)