Tag: BPS


  • Kurva struktur nilai ekspor Lampung dari sektor pertanian makin melebar. Laporan terakhir pada Januari 2025 menyatakan sektor ini menyumbang 23,11 persen dari total nilai ekspor sebesar 477,54 juta dolar AS hingga memberi andil pada surplus neraca perdagangan Januari 2025 sebesar 238,28 juta dolar AS.

    Bandarlampung (Progres.co.id): Nilai ekspor Provinsi Lampung pada Januari 2025 mencapai 477,54 juta dolar AS, mengalami penurunan 92,22 juta dolar AS atau turun 16,19 persen dibandingkan Desember 2024 yang mencapai 569,76 juta dolar AS.

    Jika dibandingkan nilai ekspor Januari 2024 sebesar 337,94 juta dolar AS,  nilai ekspor Januari tahun ini meningkat sebesar 139,60 juta AS atau naik 41,31 persen.

    Sementara nilai impor di bulan yang sama mengalami kenaikkan sebesar 49,52 juta dolar AS atau naik 26,10 persen dibandingkan Desember 2024 yang mencapai 189,74 juta dolar AS.

    Terkontraksinya kinerja ekspor Januari 2025 disebabkan menurunnya nilai ekspor semua sektor. Sektor pertambangan dan lainnya turun 20,52 persen, sektor industri pengolahan turun 17,05 persen, serta sektor pertanian turun 10,89 persen.

    Namun jika dibandingkan dengan Januari 2024, semua sektor pada Januari tahun ini mengalami peningkatan signifikan.  Sektor pertanian naik sebesar 572,26 persen, sektor industri pengolahan naik 17,15 persen serta sektor pertambangan dan lainnya naik 1,67 persen.

    Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung melaporkan sepuluh golongan barang utama ekspor Provinsi Lampung pada Januari 2025 adalah lemak
    dan minyak hewan/nabati; kopi, teh, rempah-rempah; bahan bakar mineral; ampas dan sisa industri makanan; pulp dari kayu; olahan dari sayuran, buah, dan kacang; karet dan barang dari karet; berbagai produk kimia; ikan, krustasea, dan moluska; serta kayu, barang dari kayu.

    Penurunan ekspor terjadi pada tujuh golongan barang utama yaitu olahan dari sayuran, buah, dan kacang turun 50,50 persen; bahan bakar mineral turun 20,52 persen; lemak dan minyak hewan/nabati turun 19,77 persen; kayu, barang dari kayu turun 14,18 persen; pulp dari kayu turun 13,09 persen; kopi, teh, rempah-rempah turun 11,47 persen; serta ikan, krustasea,
    dan moluska turun 3,75 persen.

    Sedangkan golongan barang yang mengalami peningkatan yaitu berbagai produk kimia naik 190,95 persen; ampas dan sisa industri makanan naik 11,75 persen; serta karet dan barang dari karet naik 7,33 persen.

    Jadi Momentum Capai Visi Besar “Bersama Lampung Maju Menuju Indonesia Emas”

    Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal

    Sebelumnya Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan Visi “Bersama Lampung Maju Menuju Indonesia Emas” dan 18 program kerja saat memimpin Briefing Perdana bersama Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, yang diikuti Kepala OPD di Lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung, di Lantai III Balai Keratun, Bandar Lampung, Senin (3/3/2025).

    Pada kesempatan itu, Gubernur Mirza menegaskan komitmennya dalam membangun Provinsi Lampung dengan tiga misi utama, yaitu pertama, Mendorong Pembangunan Ekonomi yang Inklusif, Mandiri dan Inovatif; kedua, Memperkuat Sumber Daya Manusia yang Unggul dan Produkti; dan ketiga, Meningkatkan Kehidupan Masyarakat Beradab, Berkeadilan, dan Berkelanjutan, serta Tata Kelola Pemerintahan yang Efektif dan Berintegritas.

    “Kami ingin memastikan bahwa setiap kebijakan dan program yang dilaksanakan akan memberi dampak nyata bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Lampung,” ujar Gubernur Mirza dengan tegas.

    Untuk mencapai visi misi, Gubernur Mirza menekankan Tiga Program Prioritas dan Tiga Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dalam 18 program kerjanya.

    Lampung Menjadi Lumbung Pangan

    Tiga program prioritas utama tersebut adalah Pemberian Makan Bergizi untuk Anak Sekolah dan Santri, Lampung Menjadi Lumbung Pangan Nasional, dan Inisiasi Lumbung Energi Terbarukan.

    Sementara, tiga PHTC yaitu :

    1. Mengoptimalkan Potensi Ekonomi Desa dan Daerah serta Mendorong Pembangunan dari Desa dan dari Bawah dengan Peningkatan Kapasitas BUMDes.

    2. Menyediakan Pupuk Organik melalui Pembangunan Unit Produksi Mikro Pupuk Organik yang Dikelola oleh BUMDes.

    3. Mewujudkan Stabilitas Harga Pangan Pokok dengan Memprioritaskan Produk Lokal.

    Pembangunan Provinsi Lampung 5 (lima) tahun ke depan tentunya akan berkontribusi juga dalam pencapaian Visi dan Asta Cita pembangunan nasional.

    Untuk itu, Gubernur Mirza meminta Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk dapat mengidentifikasi program dan kegiatan yang berkontribusi terhadap pencapaian keberhasilan program kerja dan arah kebijakan dalam lima tahun kedepan.

    Pada kesempatan tersebut, Gubernur Mirza juga menekankan prioritas pembangunan Provinsi Lampung kedepan salah satunya terkait dengan pembangunan infrastruktur, khususnya perbaikan dan rekonstruksi Jalan di 52 ruas jalan provinsi.

    Selain itu Gubernur Mirza juga memberikan beberapa arahan terkait penguatan aspek-aspek pelaksanaan pembangunan dan pemerintahan bagi Perangkat Daerah, yang meliputi aspek perencanaan dan penganggaran, Aspek pelaksanaan program pembangunan, Aspek pengukuran kinerja, pelaporan dan evaluasi, serta Aspek koordinasi dan sinergi antar perangkat daerah.

    Sementara itu Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela memberikan arahan terkait penanganan dan pengeloaan sampah dengan tepat, optimalisasi layanan kesehatan serta Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (*)

     



  • Berdasarkan hasil Survei KSA, realisasi luas panen padi Lampung sepanjang Januari hingga Desember 2024 mencapai sekitar 531,72 ribu hektare, atau mengalami kenaikan sebesar 1,61 ribu hektare (0,30 persen) dibandingkan 2023 yang sebesar 530,11 ribu hektare.

    Puncak panen padi di 2024 mengalami pergeseran ke bulan Mei. Sebelumnya terjadi pada April 2023. Luas panen padi pada Mei 2024 sbesar 128,17 ribu hektare, sedangkan pada April 2023 luas panen padi mencapai 111,67 ribu hektare.

    Sementara itu, luas panen padi pada Januari 2025 mencapai 4,99 ribu hektare, dan potensi panen sepanjang Februari hingga April 2025 diperkirakan seluas 246,99 ribu hektare. Dengan demikian, total luas panen padi pada Subround Januari−April 2025 diperkirakan mencapai 251,98 ribu hektare, atau mengalami kenaikan sekitar 110,96 ribu (78,68 persen) dibandingkan luas panen padi pada Subround Januari−April 2024 yang sebesar 141,02 ribu hektare.

    Produksi Padi di Provinsi Lampung

    Produksi padi di Provinsi Lampung sepanjang Januari hingga Desember 2024 mencapai sekitar 2,79 juta ton GKG, atau mengalami kenaikan sebanyak 33,45 ribu ton GKG (1,21 persen) dibandingkan 2023 yang sebesar 2,76 juta ton GKG.

    Produksi padi tertinggi pada 2024 terjadi pada Mei, yaitu sebesar 640,48 ribu ton GKG sementara produksi terendah terjadi pada Januari, yaitu sekitar 19,18 ribu ton GKG.

    Jika perkembangan produksi padi selama tahun 2024 dilihat menurut Subround, terjadi penurunan produksi padi pada Subround Januari-April 2024 yaitu sebesar 365,26 ribu ton GKG (31,39 persen) dibandingkan periode yang sama pada 2023.

    Penurunan produksi padi tersebut disebabkan karena adanya penurunan luas panen padi pada Subround Januari−April 2024, sebesar 67,01 ribu hektare (32,21 persen) dibandingkan periode yang sama pada 2023.

    Di sisi lain, peningkatan produksi padi hanya terjadi pada Subround Mei−Agustus 2024 dan September-Desember 2024, yaitu masing-masing sekitar 245,05 ribu ton GKG (33,15 persen) dan 153,65 ribu ton GKG (17,97 persen) dibandingkan periode yang sama pada 2023.

    Produksi Padi 2025

    Pada Januari 2025, produksi padi diperkirakan sebesar 28,41 ribu ton GKG, dan potensi produksi padi sepanjang Februari hingga April 2025 mencapai 1,34 juta ton GKG.

    Dengan demikian, total potensi produksi padi pada Subround Januari − April 2025 diperkirakan mencapai 1,31 ton GKG, atau mengalami kenaikan sekitar 573,44 ribu ton GKG (71,82 persen) dibandingkan 2024 yang sebesar 798,43 ribu ton GKG.

    Penurunan produksi padi yang cukup besar pada 2024 terjadi di beberapa wilayah seperti Kabupaten Mesuji, Tulang Bawang Barat, dan Tanggamus. Di sisi lain, terdapat beberapa kabupaten/kota yang mengalami kenaikan produksi padi, misalnya Kabupaten Tulangbawang, Lampung Selatan, dan Pringsewu.

    Tiga kabupaten/kota dengan total produksi padi (GKG) tertinggi pada 2024 adalah Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Tulangbawang.

    Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan produksi padi terendah yaitu Kota Bandarlampung, Metro, dan Kabupaten Tulang Bawang Barat.

    Berdasarkan potensi produksi padi pada awal tahun 2025, beberapa kabupaten/kota dengan potensi produksi padi (GKG) tertinggi pada Januari hingga April 2025 adalah Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan.

    Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan potensi produksi padi terendah pada periode yang sama yaitu Kota Bandar Lampung, Metro, dan Kabupaten Tulang Bawang Barat.

    Potensi kenaikan produksi padi terjadi di hampir setiap kabupaten/kota pada Subround Januari–April 2025 dibandingkan Subround yang sama pada 2024. Potensi kenaikan terbesar terjadi di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung Selatan, dan Mesuji.
    Sementara itu, Kota Metro merupakan satu-satunya kabupaten/kota yang mengalami potensi penurunan produksi untuk periode yang sama.

    Produksi Beras di Provinsi Lampung

    Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2024 setara dengan 1,60 juta ton beras, atau mengalami kenaikan sebesar 19,23 ribu ton (1,21 persen) dibandingkan 2023 yang sebesar 1,59 juta ton.

    Produksi beras tertinggi pada 2024 terjadi pada Bulan Mei, yaitu sebesar 368,18 ribu ton. Sementara itu, produksi beras terendah terjadi pada Bulan Januari, yaitu sebesar 11,02 ribu ton.

    Pada Januari 2025, produksi beras diperkirakan sebanyak 16,33 ribu ton beras, dan potensi produksi beras sepanjang Februari hingga April 2025 ialah sebesar 772,30 ribu ton.

    Dengan demikian, potensi produksi beras pada Subround Januari−April 2025 diperkirakan mencapai 788,62 ribu ton beras atau mengalami kenaikan sebesar 329,64 ribu ton (71,82 persen) dibandingkan dengan produksi beras pada Januari−April 2024 yang sebesar 458,98 ribu ton.(Sumber: BPS Lampung)



  • Kenaikkan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau diprediksi masih menjadi faktor pembentuk inflasi di Lampung pada Februari 2025. Salah satunya cabai rawit yang harganya sampai hari ini tak kunjung turun.

    Bandarlampung (Progres.co.id): Tingkat inflasi tahunan Lampung pada Februari 2025 diperkirakan beda tipis dengan inflasi Januari yang mencapai 1,04 persen.

    Meski ada gejala kenaikkan harga berbagai komoditas pada Januari, pada Februari relatif tertahan sekalipun harganya masih tetap tinggi. Faktor harga yang cenderung bertahan pada Februari 2025 sedikit banyaknya masih tertolong dari diskon tarif listrik pada Januari.

    Salah satu komoditas yang tak kunjung turun tersebut adalah cabai rawit. Berdasarkan data  harga pada Feb 28, 2025 di Pasar Gintung  yang dikelola Disperindag Provinsi Lampung melaporkan harga cabai rawit masih bertahan Rp75.000/kg.  Bahkan harga cabai setan ditawarkan Rp90 ribu sampai Rp100.000/kg.

    Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan telah terjadi kenaikkan harga berbagai komoditas pada Januari 2025 hingga menimbulkan inflasi year on year (yoy) sebesar 1,04 persen dan deflasi month to month (mtm) sebesar 0,71 persen.

    BPS menyebutkan bahwa inflasi Januari 2025 dipicu oleh kenaikkan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau hingga mengalami inflasi sebesar 4,08 persen (yoy) dan 0,52 persen (mtm). Sebelumnya pada Desember 2024, kelompok ini mengalami inflasi 1,83 persen (yoy) dan 0,43 persen (mtm).

    Secara umum BPS Lampung merinci sejumlah komoditas makanan yang dominan menyumbangkan inflasi pada Desember 2024 dan Januari 2025, yakni kopi bubuk, bawang merah, cabai rawit, daging ayam ras, minyak goteng, bawang putih, makanan hewan peliharaan, telur ayam ras, cumi-cumi, nasi dengan lauk, bayam, udang basah, dan gula pasir, es, kangkung, kacang panjang, wortel,tomat, ikan kembung, ikan lele, dan ikan gabus.

    Inflasi Nasional

    Perkiraan inflasi yang relatif rendah pada Februari 2025 juga disampaikan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI). Lembaga ini memprediksi tingkat inflasi secara tahunan atau year-on-year pada Februari 2025 akan lebih rendah dari Januari 2025.

    Pada bulan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan nasional sebesar 0,76 persen. LPEM UI memperkirakan tingkat inflasi secara tahunan pada Februari 2025 bisa menyentuh angka 0,70 persen. Prediksi itu disampaikan oleh peneliti LPEM FEB UI, Chaikal Nuryakin, dalam laporan “Seri Analisis Makroekonomi” pada Rabu, 5 Februari 2025.(*)



  • Ekonomi Provinsi Lampung Triwulan IV 2024 tumbuh 5,32 persen (year on year/yoy). Kabar ini menjadi legacy Pj Gubernur Lampung Samsudin yang ditunggu-tunggu menjelang akhir jabatannya.

    Bandarlampung (Progres.co.id): Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung baru saja merilis laporan Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung Triwulan IV 2024, Rabu, 5 Februari 2025.

    BPS melaporkan perekonomian Lampung tahun 2024 berdasarkan Produk Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp483.882,02 miliar dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp281.557,20 miliar.

    Mendasari itu, BPS Lampung menyimpulkan ekonomi Lampung 2024 tumbuh sebesar 4,57 persen, menguat dibanding 2023 yang tumbuh sebesar 4,55 persen.

    Pertumbuhan tertinggi  di sisi produksi terjadi pada lapangan usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 10,63 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran tertinggi pada  Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh sebesar 12,15 persen.

    BPS juga melaporkan perkembangan perekonomian Lampung yang berhasil melampaui ekspetasi 5 persen, yakni sebesar 5,32 persen pada Triwulan IV 2024, atau melampaui pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai  5,02 persen (yoy).

    Capaian 5,32 persen tersebut didukung tingginya pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan yang mencapai 14,16 persen dan meningkatnya komponen ekspor barang dan jasa yang tumbuh 12,31 persen.

    Secara historis, ekonomi Lampung pada 2024 (yoy) mencapai 3,20 persen pada Triwulan I. Naik pada Triwulan II menjadi 4,80 persen.

    Pada Triwulan III naik tipis menjadi 4,81 persen, lalu memuncak pada Triwulan IV sebesar 5,32 persen.

    Capaian pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2024 sebesar 5,32 persen merupakan legacy terakhir Pj Gubernur Samsudin sekaligus melengkapi keberhasilan  stabilisasi makro ekonomi lainnya yang sudah dicapai pada akhir tahun 2024.

    Di bawah kepemimpinan Pj Gubernur Samsudin tingkat inflasi terjaga dalam rentang target 1,5-3,5 persen (yoy).

    Di eranya pula, Nilai Tukar Petani (NTP) memuncak sebesar 129,01 pada Desember 2024. Bahkan terus melejit hingga menembus 32 poin di atas titik impas (100) pada Januari 2025.

    Ini adalah NTP tertinggi di sepanjang tahun 2024, bahkan menjadi angka tertinggi yang pernah diraih provinsi ini sejak konsep NTP diperkenalkan.

    Pj Gubernur Lampung Samsudin dilantik Mendagri Tito Karnavian pada Rabu, 19 Juni 2024. Ia diwarisi tingkat inflasi sebesar 3,09 persen oleh Gubernur Arinal.

    Diketahui,  inflasi Lampung pada Maret sempat meninggi  3,45 persen. Sebulan setelah Samsudin menjabat, tingkat inflasi Lampung turun drastis pada Juni 2024 menjadi 2,84 persen. Penurunan terus berlanjut hingga November 2024 sebesar 1,5 persen. Dan ditutup dengan tingkat inflasi pada Desember 2024 sebesar 1,57 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,43. Tingkat inflasi nasional pada bulan yang sama tercatat sebesar 1,57 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,80.(*)



  • Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung dan kabupaten/kota sebaiknya mewaspadai kenaikkan harga barang-barang pangan menjelang Ramadan untuk mengantisipasi naiknya tingkat inflasi yang mulai menunjukkan trend peningkatan pada Januari 2025.

    Bandarlampung (Progres.co.id): Laporan bulanan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menjelaskan bahwa telah terjadi kenaikkan harga berbagai komoditas pada Januari 2025 hingga menimbulkan inflasi year on year (yoy) sebesar 1,04 persen dan deflasi month to month (mtm) sebesar 0,71 persen.

    Hasil survey BPS menyebutkan bahwa inflasi Januari 2025 dipicu oleh kenaikkan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau hingga mengalami inflasi sebesar 4,08 persen (yoy) dan 0,52 persen (mtm).

    Sebelumnya pada Desember 2024, kelompok ini mengalami inflasi 1,83 persen (yoy) dan 0,43 persen (mtm).

    Secara umum BPS Lampung merinci sejumlah komoditas makanan yang dominan menyumbangkan inflasi pada Desember 2024 dan Januari 2025, yakni kopi bubuk, bawang merah, cabai rawit, daging ayam ras, minyak goteng, bawang putih, makanan hewan peliharaan, telur ayam ras, cumi-cumi, nasi dengan lauk, bayam, udang basah, dan gula pasir, es, kangkung, kacang panjang, wortel,tomat, ikan kembung, ikan lele, dan ikan gabus.

    Subkelompok makanan ini pada Januari 2025 menyumbangkan inflasi sebesar 2,58 persen (yoy) dan 0,52 persen (mtm).

    Sebelumnya pada Desember 2024, inflasi pada subkelompok makanan relatif tertahan dalam persentase sangat rendah atau mendekati nol.

    Peebandingan tingkat inflasi pada dua bulan terakhir menggambarkan adanya gejala kenaikkan inflasi pada sektor makanan (pangan).

    TPID Lampung sebaiknya memberikan perhatian terhadap gejala ini. Sebab secara historis, kenaikkan harga barang pangan berpotensi mengalami kenaikkan akibat naiknya demand (permintaan) menjelang Ramadan yang jatuh pada akhir Februari dan Lebaran pada akhir Maret 2025.

    Harga Beras

    BPS Lampung tidak memasukkan beras sebagai komoditas dominan dalam laporan perkembangan inflasi pada Januari 2025.

    Berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional (BAPANAS), harga beras medium dan premium di Lampung relatif stabil.

    Harga beras medium di penggilingan tercatat antara Rp12.444/kg sampai Rp12.467/kg selama sepekan terakhir.

    Sementara harga beras premium di penggilingan berada dalam rentang Rp13.835/kg sampai Rp13.885/kg.

    Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada kenaikan harga beras secara bulanan baik di level penggilingan, grosir dan eceran pada Januari 2025.

    Kenaikan harga ini membuat komoditas beras menjadi salah satu komponen yang memberikan andil inflasi nasional sebesar 0,92% secara bulanan (mtm)

    “Rata-rata harga beras di penggilingan pada Januari 2025 naik 0,92% secara mtm dan turun sebesar 4,3% secara yoy,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, S.T., M.Si., M.Eng., Ph.D, dalam konferensi pers, Senin (3/2/2025).

    Sedangkan di tingkat grosir terjadi inflasi beras sebesar 0,56% secara mtm dan 1,11% secara tahunan (yoy). Di tingkat eceran, terjadi inflasi sebesar 0,36% secara mtm M dan 2,29% secara yoy.

    Laporan BPS ini berbeda dengan laporan yang disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Amran, justru menyebutkan terjadi penurunan harga beras menjadi Rp12.000/kg.

    “Di Januari, Februari tahun 2024 masih ingat itu bahkan antre membeli beras dan di data waktu itu harga rata-rata Rp 15.000/kg lebih, sekarang Rp 12.000/kg lebih,” kata Amran usai meneken nota kesepahaman dengan BPS terkait data produksi padi. Tandatangan dilaksanakan di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Kamis (30/1/2025).(*)



  • Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan nilai ekspor sektor pertanian Lampung sepanjang tahun 2024 sebesar 1.018,69 juta dolar AS.  Secara kumulatif jika dibandingkan dengan tahun 2023 terjadi kenaikkan sangat tinggi sebesar 121,54 persen di sektor ini hingga melampaui  ekspor sektor industri pengolahan sebesar 14,49 persen. Sementara sektor pertambangan dan lainnya sebesar 8,42 persen.

    Bandarlampung (Progres.co.id): Berdasarkan laporan BPS Lampung total ekspor Lampung sepanjang tahun 2024 mencapai 5.588,31 dolar AS. Di mana sebesar 3.679,49 juta dolar AS disokong dari ekspor sektor industri pengolahan. Sektor pertambangan dan lainnya menyumbang 890,13 juta AS. Sementara sektor pertanian mencapai 1.018,69 dolar AS atau menyumbang sebesar 18,23 persen.

    BPS melaporkan sepuluh golongan barang utama ekspor Provinsi Lampung pada Desember 2024 adalah lemak dan minyak hewan/nabati; kopi, teh, rempah-rempah; bahan bakar mineral; olahan dari sayuran, buah, dan kacang; pulp dari kayu; ampas dan sisa industri makanan; karet dan barang dari karet; kayu, barang dari kayu; gula dan kembang gula; serta ikan, krustasea, dan moluska.

    Peningkatan ekspor terjadi pada enam golongan barang utama yaitu karet dan barang dari karet naik 84,43 persen; lemak dan minyak hewan/nabati naik 36,89 persen; pulp dari kayu naik 17,07 persen; ikan, krustasea, dan moluska naik 15,64 persen; olahan dari sayuran, buah, dan kacang naik 6,80 persen; serta ampas dan sisa industri makanan naik 4,09 persen.

    Sedangkan golongan barang yang mengalami penurunan yaitu kopi, teh, rempah-rempah turun 0,03 persen; bahan bakar mineral turun 0,23 persen; kayu, barang dari kayu turun 21,13 persen; serta gula dan kembang gula turun 24,69 persen.

    Neraca Perdagangan

    Neraca Perdagangan Luar Negeri Provinsi Lampung (November 2024, Desember 2024, Januari-Desember  2023, Januari-Desember 2024). Sumber BPS Lampung

    Kenaikan nilai ekspor sektor pertanian Lampung pada 2024 makin memantapkan surplus neraca perdagngan Lampung sebesar 3.472,34 juta dolar AS. Total nilai impor pada 2024 tercatat sebesar 2.115,97 dolar AS.

    Per Desember 2024, nilai ekspor Provinsi Lampung mencapai 569,76 juta dolar AS, lebih tinggi dari nilai impor Desember 2024 sebesar 189,74 juta dolar AS.

    Kondisi ini menjelaskan bahwa neraca perdagangan luar negeri Provinsi Lampung pada Desember 2024 mengalami surplus sebesar 380,02 juta dolar AS.

    Surplus neraca perdagangan Provinsi Lampung pada Desember 2024 diperoleh dari kelompok negara lainnya 170,41 juta dolar AS, negara yang tergabung dalam negara utama sebesar 120,69 juta dolar AS, Uni Eropa 38,47 juta dolar AS, serta kelompok negara ASEAN sebesar 50,45 juta dolar AS.(*)



  • Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mengalami peningkatan sebesar 2,23 persen dan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang turun sebesar 0,15 persen.

    Bandarlampung (Progres.co.id): Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung Januari 2025 sebesar 132,07 atau naik 2,38 persen dibanding NTP bulan sebelumnya sebesar 129,01.

    Ini adalah kenaikkan yang sangat signifikan, menggambarkan ada peningkatan pendapatan petani di Lampung selama Januari 2025.

    Disebut signifikan sebab NTP Januari 2025 lebih tinggi 10,66 poin dibanding NTP Januari 2024. Bahkan posisi NTP Lampung Januari 2024 berada di atas NTP nasional yang tercatat sebesar 123,68.

    Kenaikan NTP Lampung Januari 2025 dipicu turunnya indeks biaya produksi serta penambahan barang modal yang naik 0,47 persen.

    Nilai Tukar Petani per Subsektor dan Gabungan se-Provinsi Lampung (2018=100)

    Badan Pusat Statitik (BPS) Lampung melaporkan bahwa peningkatan NTP Lampung Januari 2025 dipengaruhi oleh naiknya semua subsektor, kecuali subsektor perikanan budidaya yang turun sebesar 1,17 persen.

    Subsektor tananam hortikultura menjadi penyokong utama kenaikkan NTP sebesar 6,84 persen. Disusul subsektor tanaman perkebunan rakyat 2,81 persen, subsektor tanaman angan 1,78 persen, subsektor peternakan 0,43 persen, dan subsektor perikanan tangkap 0,81 persen.

     

     

    (*)