Fahri Hamzah menyoroti ulah pengembang yang membangun rumah hingga merangsek ke lahan persawahan. Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman ini khawatir, bila agresifitas itu dibiarkan harapan swasembada pangan terancam tidak terwujud.
(Progres.co.id): ANCAMAN terhadap swasembada beras bukan isapan jempol belaka. Bahkan Fahri menyebut biarpun para pengembang berdalih telah mengganti lahan pertanian yang dipakai dengan bidang tanah lainnya, tindakan ini tetap saja merugikan ketahanan pangan nasional.
“Kalau memang ada tanah pengganti kenapa perumahan tidak dibangun di tanah itu. Kenapa harus membangun rumah di lahan sawah?” sergah Fahri, seperti dikutip dari detiknews, saat dirinya mengunjungi salah satu perumahan di kawasan Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (27/11/2024).
Fahri bilang alasan lokasi strategis senantiasa menjadi incaran para pengembang. Tapi lahan sawah, imbuhnya, merupakan sistem pangan yang aman. Karena di sana sudah tersedia infrastruktur seperti irigasi dan pengairan.
“Kalau perilaku alih fungsi lahan terus dibiarkan, sangat mungkin kita akan terus-terusan mengimpor beras,” kata Fahri.
Di sisi lain, dia mengimbuhkan, pihaknya paham masyarakat perlu rumah karena semakin banyak jumlah penduduk Indonesia. Hanya saja, jangan lahan sawah yang dijadikan korban. Mestinya pembangunan rumah bisa dilakukan secara inovatif.
Oleh karenanya Fahri mendorong kepada para pengembang dan pemerintah daerah untuk punya gagasan dan berinovasi dalam membangun perumahan. “Inovasi dalam membuat rumah harus dikembangkan. Jangan cuma jual rumah seperti ini apalagi ngambil sawah, tapi bagaimana kawasan kumuh disulap menjadi permukiman yang indah,” ungkapnya.
Ditambahkannya, rumah susun bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan merupakan inovasi dalam mengembangkan kawasan permukiman. “Kalau itu kita kompensasi dengan harga tanah yang katanya mahal, lalu membangun rumah susun menurut saya lantai 3 tidak perlu pakai lift. Mungkin ini bisa menjadi alternatif keterbatasan lahan tanah dan alternatif perbaikan tata kota,” kata Fahri.
Dirinya juga mengatakan, kementeriannya sangat terbuka dengan inovasi-inovasi demikian. Terlebih pihaknya memiliki anggaran cukup besar untuk mendukung pengembangan ide dan inovasi perumahan, terutama untuk penataan kawasan.(*)

