Tag: Inspirasi


  • Nama Tyas Mirasih dan Tengku Tezi tentu sudah tidak asing di industri hiburan tanah air. Namun, siapa sangka pasangan selebritas yang menikah pada 2023 ini mendadak viral bukan karena karier di layar kaca, melainkan perjalanan mereka merintis usaha peternakan ayam di Medan, kampung halaman Tezi. 

    (Progres.co.id): Dalam unggahan Instagram Tyas @tyasmirasih terlihat pasangan suami istri (pasutri) ini berpose di depan kandang ayam yang mereka kelola. Dalam keterangan unggahannya, Tyas membagikan kisah unik di balik usaha tersebut.

    “Sayang, aku mau bikin usaha ternak ayam di kampung. Doain lancar semuanya,” ujar Tezi, seperti dikutip dari unggahan itu, Rabu (4/9/2024).

    Respon Tyas? Total mendukung! Ia mengaku sejak awal memahami kalau peternakan adalah passion sang suami. “Gue dukung dan doain selalu karena ini memang passion dia,” tulis Tyas.

    Meski baru belajar, Tyas menegaskan dirinya siap mendampingi Tezi menghadapi tantangan usaha. “Setiap usaha pasti ada naik-turunnya, tapi gue bakal selalu ada buat dia,” tambahnya.

    Ketika menjadi bintang tamu di acara Rumpi: No Secret, Tyas mengungkapkan fakta menarik soal Tezi. Meski dikenal sebagai aktor, Tezi sebenarnya jauh lebih nyaman mengurus peternakan ketimbang berada di depan kamera.

    “Dia paling nggak bisa ngapalin skrip. Syuting juga sebenarnya cuma buat ngumpulin uang modal peternakan. Sekarang, meski tinggal di Jakarta, peternakannya dikelola keluarga di Medan,” jelas Tyas.

    Tezi pun mengakui, minat beternak ini mengalir dari keluarganya. “Nyokap, sepupu, mayoritas keluarga gue semua beternak. Jadi gue memang udah akrab sama dunia ini,” ujar Tezi.

    Usaha peternakan ayam ini pun mulai membuahkan hasil. Tezi menyebutkan bahwa ayam-ayam mereka sudah dua kali panen dan berhasil balik modal.

    “Sekarang gue mau upgrade, jadi bos sapi dan kuda,” ujar Tezi penuh harap.

    Bukan hanya serius, pasangan ini juga kerap berbagi momen lucu selama mengelola peternakan. Tyas, misalnya, mengaku gemas melihat ayam-ayam yang dipelihara Tezi.

    “Waktu ayamnya masih kecil, gue kepikiran pengen ngecat bulu mereka warna-warni. Eh, pas balik ke Medan, udah pada gede semua,” cerita Tyas sambil tertawa.

    Dengan dukungan dan kerja sama yang kuat, pasutri ini membuktikan kalau hobi beternak juga bisa menjadi profesi yang menjanjikan.(*)



  • Kesuksesan tak selalu dimulai dari jalan yang mudah. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjadi bukti bahwa kerja keras dan integritas adalah kunci mengubah kehidupan. Itu dia tunjukkan mulai dari berjualan racun tikus hingga menjadi menteri yang berani melawan mafia pangan.

    (Progres.co.id): AMRAN memulai usahanya dengan berjualan racun tikus dari toko kecil beratap rumbia. “Waktu itu, saya hanya punya uang lima ratus ribu rupiah dan harus merantau ke Jakarta untuk mendaftarkan hak paten. Waktu di Jakarta saya bahkan tidur di masjid karena tidak mampu menyewa tempat tinggal,” kenangnya seperti dikutip dari ‘Kick Andy’ Metro TV.

    Setelah melalui berbagai kesulitan, hak paten racun tikusnya akhirnya disetujui. Usaha ini menjadi pijakan awal bagi Tiran Group, yang kini memiliki bisnis di sektor tambang, sawit, gula, SPBU, hingga distributor semen.

    Namun, saat ia diangkat menjadi Menteri Pertanian pada tahun 2014, perusahaan pestisidanya ditutup permanen. “Saya tidak ingin ada prasangka bahwa usaha ini sukses karena jabatan saya,” tegasnya. Keputusan ini, meski sulit, dianggapnya sebagai keberuntungan. “Dengan begitu, saya bisa mengabdi sepenuhnya untuk rakyat.”

    Sebagai menteri, Amran kerap menghadapi tantangan besar, termasuk melawan mafia impor yang merugikan petani. Salah satu kasus yang diungkap adalah masuknya impor jagung senilai Rp6 triliun saat musim panen. Akibatnya, harga jagung lokal anjlok drastis, membuat sekitar 20 juta petani menderita kerugian hingga Rp40 triliun.

    “Saya langsung turun ke lapangan, melarang bongkar muatan impor, dan memanggil pihak-pihak terkait. Bagi saya, melindungi petani lebih penting daripada khawatir kehilangan jabatan,” ungkapnya. Ia juga mengungkap praktik mafia pupuk palsu yang merugikan 400 ribu petani dengan total kerugian Rp3,2 triliun. Perusahaan-perusahaan tersebut di-blacklist dan kasusnya diserahkan kepada penegak hukum.

    Amran juga kerap memberikan semangat kepada generasi muda, khususnya dalam sektor pertanian. “Pertanian adalah masa depan Indonesia. Kami sedang mentransformasi pertanian tradisional menjadi modern, dengan dukungan teknologi dan sumber daya alam yang melimpah,” ujarnya.

    Saat ini, lebih dari 3 ribu generasi milenial telah bergabung dalam program modernisasi pertanian yang ia gagas. Dengan target 50 ribu petani muda pada 2025, ia optimis pendapatan minimal Rp10 juta per bulan bisa tercapai. “Jangan pernah menyerah, jangan mengeluh, dan pantang meminta kecuali pada Tuhan. Kesuksesan membutuhkan keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk bertahan,” pesannya.

    Andi Amran Sulaiman, sosok yang memulai segalanya dari nol, kini menjadi inspirasi bagi bangsa, khususnya generasi muda, untuk terus berjuang, bekerja keras, dan mengutamakan integritas.(*)



  • Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian yang satu ini dikenal tegas. Saking sakleknya dalam menunjukkan keberpihakkan terhadap nasib petani, tak pelak banyak pihak yang berniat kepingin cawe-cawe terpaksa mesti menelan pil pahit, lantaran tak diberi peluang. Komitmen itu tak pelak sempat memunculkan pandangan terhadap dirinya sebagai “Menteri tak doyan duit”.

    (Progres.co.id): AMRAN bukan berasal dari keluarga berpunya. Dia pernah menjalani masa susah yang berkepanjangan. Ketika kuliah, rentang 1989 hingga 1993, satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah survival. Dalam keterbatasan, ia memutuskan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Salah satu hasilnya adalah formula racun tikus bernama Tiran.

    “Kami meneliti racun tikus selama tiga tahun. Tahun 1995, kami mendapatkan hak paten, lalu mensosialisasikan hasil ini ke seluruh Indonesia. Awalnya sulit. Racun kami jual Rp100 per biji, tidak laku. Turunkan jadi Rp50, tetap tidak laku. Bahkan saat kami beri gratis, orang malah curiga,” kenangnya dalam talk show Kick Andy.

    Menurut Amran, serangan tikus tahun 1992 menyebabkan kerugian besar bagi petani. Hal ini mendorongnya bekerja keras agar penemuannya bisa menyelamatkan hasil panen.

    Saat membahas integritas, Amran berbagi kisah tegasnya memberantas korupsi. Ia menceritakan bagaimana dirinya menginstruksikan pembatalan proyek yang terkait dengan kerabatnya, meski secara prosedur tidak ada kesalahan.

    “Ada sahabat kakak saya yang bangga bilang, ‘Pak Menteri, saya dapat proyek 5 miliar.’ Saya langsung telepon pihak yang terkait dengan proyek itu dan bilang, ‘Batalkan. Kalau tidak, saya sendiri yang batalkan.’ Meski prosedur benar, saya tidak ingin ada fitnah atau sanksi sosial. Lebih baik mengorbankan satu orang daripada mengorbankan jutaan petani,” tegasnya.

    Amran juga menambahkan bahwa ia menyebarkan nomor pribadinya kepada masyarakat untuk menerima laporan dugaan pelanggaran. “Hingga kini, sudah lebih dari 100 laporan masuk. Semua kami tindaklanjuti, termasuk yang baru-baru ini ada 11 orang di Kementerian Pertanian yang kami nonaktifkan mulai dari pejabat eselon 2, eselon 3, dan staf terkait kasus pelanggaran.”

    Ketegasan Amran berakar dari didikan orang tuanya. Ia mengingat pesan ayahnya yang selalu melarang mengambil hak orang lain. “Dulu, saat kecil, saya menemukan uang Rp5 di pasar. Ayah saya malah memukul tangan saya sambil berkata, ‘Itu bukan hakmu.’ Pelajaran ini menjadi warisan berharga dalam hidup saya.”

    Ketika ditanya apakah tindakan yang menunjukkan adanya “borok” di kementeriannya tidak membuatnya khawatir akan mencoreng citra institusinya, Amran menjawab dengan tegas, “Malu di hadapan Tuhan jauh lebih penting. Kalau kita membiarkan korupsi, itu sama saja memelihara kejahatan. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk rakyat, khususnya bagi 120 juta petani pangan di Indonesia.”

    Amran juga mengingatkan pentingnya kerja keras dan kejujuran. Ia berharap generasi muda memiliki semangat juang untuk masa depan yang lebih baik. “Jadilah petarung. Tidak ada sukses tanpa proses.”(*)