Tag: irigasi


  • Pj Gubernur Lampung Samsudin tetap ‘ngegas’ untuk meletakkan fondasi yang kuat dalam upaya pencapaian target swasembada pangan nasional.

    Bandarlampung (Progres.co.id): Kendati menghadapi kondisi dan tantangan berat utamanya terkait anggaran, Pemprov Lampung berkomitmen akan memberikan dukungan optimal dan menemukan solusi terbaik untuk mendukung program swasembada pangan nasional.

    Samsudin mengakui masih banyak permasalahan yang harus dihadapi Provinsi Lampung di bidang pertanian yang  harus dijawab dan mendapatkan jalan keluar sesegera mungkin.

    “Terkait anggaran, biar pemprov mencari tambahan anggaran dari pemerintah pusat. Tekad kita sudah bulat, swasembada pangan di Propinsi Lampung dapat tercapai,” katanya kepada Progres.co.id, di Bandarlampung, Minggu, 29 Desember 2024.

    Samsudin menjelaskan, Lampung masih menghadapi permasalahan, yakni peningkatan jaringan irigasi, distribusi pupuk subsidi, pendayagunaan penyuluh pertanian, swasembada kopi, perikanan budidaya, ketersediaan pangan, harga pangan, infrastruktur jalan dan persampahan.

    Peningkatan jaringan irigasi menjadi sangat urgent untuk bisa mengamankan produksi padi yang diharapkan bisa melampaui proyeksi produksi padi pada 2024 sebesar 2,73 juta ton dengan rata-rata produktivitas 5,2 ton/ha.

    Masalahnya, kondisi jaringan irigasi di bawah kewenangan Pemprov Lampung banyak dalam kondisi rusak dan harus diperbaiki tahun 2025. Akibat dari kerusakan irigasi sebesar 37 persen tersebut cukup memengaruhi tingkat produktivitas dan kurang maksimalnya produksi padi di lahan sawah seluas 17.440 ton.

    Untuk menjawab tantangan itu, Samsudin menegaskan Pemerintah Provinsi Lampung telah mengusulkan kepada Kementerian Pekerjaan Umum untuk membangun irigasi baru di Kabupaten Lampung Tengah.

    Ia juga menegaskan, Pemprov Lampung akan merehabilitasi jaringan irigasi yang menjadi kewenangan Provinsi supaya dapat mengairi lahan seluas 4.565 ha dengan baik dan lancar.

    Berdasarkan data yang dikutip Progres.co.id dari Buku Alokasi dan Rangkuman Kebijakan Transfer ke Daerah tahun 2025, Provinsi Lampung memperoleh Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik sebesar Rp267.36 miliar, dimana sebanyak Rp14,84 miliar untuk irigasi.

    Sedangkan untuk Peningkatan Saluran Tersier dan Kuarter di 15 kabupaten/kota sepanjang 104.050 meter, Pemprov sudah mengusulkannya kepada Kementerian Pertanian.

    Sementara untuk pupuk bersubsidi, Samsudin mengatakan alokasi dan realisasi serapan pupuk urea bersubsidi sampai dengan 25 Desember 2024 sudah mencapai 274.151 ton atau 78 persen.

    Pupuk NPK sudah terserap 315.186 ton atai 79 persen dari alokasi 396.891 ton. NPK Formula Khusus terserap 3.696 ton atau 15 persen dari alokasi alokasi sebesar 24.282 ton. Pupuk Organik baru terserap 5,5 persen dari alokasi 2.171 ton.

    Masih rendahnya penyerapan pupuk bersubsidi di Lampung diakui akibat masih rendahnya daya beli sebagian petani dan akibat pembatasan alokasi pupuk organik yang direkomendasikan oleh Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP).

    Rekomendasi tersebut mengatur batas kandungan C-organik pada tanah kurang dari 2 persen. Serapan rendah juga disebabkan oleh panjangnya rantai distribusi pupuk bersubsidi yang mengakibatkan penambahan biaya angkut.

    Pj Gubernur Lampung Samsudin telah meminta adanya kemudahan untuk petani mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan peningkatan batas kandungan C-organik pada tanah dalam menentukan alokasi pupuk organik oleh Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP).

    Samsudin juga meminta adanya pemangkasan jalur distribusi pupuk bersubsidi dan mengajukan permohonan supaya BUMDesa yang sudah melakukan MoU dapat melakukan transaksi langsung dengan PT Pupuk Indonesia untuk menjadi distributor pupuk sesuai kesepakatan MoU.

    Pemprov Lampung juga mengupayakan pendayagunaan penyuluh pertanian yang saat ini baru ada 1.436 orang. Masih terlalu sedikit, memang, karena belum sepadan dengan jumlah desa di Lampung yang mencapai 2.643 desa.(*)



  • Irigasi dan pertanian ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Jika irigasinya rusak, jangan harap hasil tani akan maksimal. Di Indonesia, ada sekitar 3 juta hektare lahan irigasi yang butuh perhatian serius.

    Pringsewu (Progres.co.id): “TAHUN depan, ada anggaran sekitar Rp 12 trilun dari Kemenko Pangan melalui Kementerian PUPR untuk membantu agar irigasi itu bisa kembali mengalir,” jelas Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Pringsewu, Sabtu (28/12/2024).

    Pada kunjungan tersebut, Bima meninjau saluran irigasi di Dusun Rejosari, Pekon Lugusari, Kecamatan Pagelaran guna melihat kondisi irigasi pertanian di wilayah setempat dari dekat. Hal ini dalam rangka meningkatkan produksi pertanian sebagai bagian dari program swasembada pangan.

    Di tengah kunjungan kerjanya, Bima mendengar langsung curhatan petani soal kendala pada sistem irigasi. “Ada yang konversi, pintu airnya jebol, atau sedimentasi menumpuk. Masalahnya beda-beda tiap daerah,” ungkap Bima. Ia berjanji akan membawa isu ini ke rapat Menko Pangan agar menjadi prioritas.

    Kunjungan Kerja Wamendagri ke Pringsewu, Sabtu (28/12), Foto: Istimewa.

    Sugianto, petani dari Pekon Bumiratu, ikut menyampaikan keresahannya dimana saat musim hujan justru para petani tidak mendapatkan air, dan ini sudah terjadi sejak 2007 lalu, sebelum terbentuknya kabupaten Pringsewu.

    “Jadi kami memohon kepada pemerintah, dengan adanya Bendungan Way Sekampung dan Irigasi Way Tebu bagaimana upaya agar air bisa mengaliri lahan para petani. Jika itu terjadi, InsyaAllah bisa swasembada pangan seperti tahun 1990-an,” harapnya.

    Pj Bupati Pringsewu, Marindo Kurniawan, yang turut mendampingi Wamendagri menjelaskan, kabupaten ini adalah salah satu daerah penghasil beras di Provinsi Lampung. “Kami punya 13.928 hektare lahan sawah, terdiri dari 5.127 hektare sawah tadah hujan dan 8.801 hektare sawah irigasi,” jelasnya.

    Ia mengatakan, jika pasokan air dari Bendungan Way Sekampung optimal, Pringsewu bisa jadi salah satu lumbung pangan nasional. “Tentu ini butuh dukungan penuh dari pemerintah pusat, provinsi, dan semua pihak terkait,” tutup Marindo.(*)



  • Punya infrastruktur dan personil di berbagai daerah hingga pelosok, membuat daya jelajah TNI tak perlu diragukan lagi. Keunggulan ini mendorong Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk menggandeng TNI.

    (Progres.co.id): AGAR mampu memiliki produktivitas tinggi, sawah membutuhkan pasokan air memadai. Celakanya masih banyak hamparan lahan yang tidak dilalui sumber air. Untuk mengantisipasi itu pemerintah, dalam hal ini Kementerian PU, bakal membuka jalur irigasi baru. Untuk merealisasikannya mitra yang direkrut tidak sembarangan yakni TNI AD.

    Angka kerja sama Kementerian PU dan TNI ini terbilang jumbo. Nilainya mencapai Rp12 Triliun. Seperti disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, TNI AD telah memetakan 200 titik pembangunan irigasi tahun 2025.

    “Pembangunan aliran irigasi ini dimaksudkan untuk mencegah kekeringan di lahan yang tidak dilintasi aliran sungai atau sumber air lainnya. Harapannya nanti kita bisa kerja sama, kita sudah mencatat hampir 200 lebih titik untuk bisa menggunakan dana dari Kementerian PU ini,” kata Maruli kepada wartawan di Mabes AD, Jakarta Pusat, Jumat (20/12/2024).

    Lebih lanjut diterangkannya, saat ini tanah yang disediakan untuk pembangunan telah disiapkan seluas 400.000 hektare. Maruli juga menyebutkan kerja sama kedua belah pihak terjalin setelah mempertimbangkan kesiapan TNI AD yang memiliki daya jelajah serta luasnya jangkauan hingga pelosok daerah.(*)