Tag: Menteri Pertanian


  • Secara nasional acara ini berpusat di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat dilakukan oleh Menteri Kehutanan dan Menteri Pertanian pada Kamis (30/01/2025).

    Bandarlampung (Progres.co.id): Gapoktan Tani Maju di Desa Budi Lestari Tanjung Bintang, Lampung Selatan menjadi tuan rumah Penanaman Serentak Padi Lahan Kering dan MPTS (Agroforestri Pangan) di Lampung.

    Sesuai undangan yang disampaikan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Kehutanan, juga akan ada penyerahan bibit produktif/MPTS dan Sarana Produksi (Saptodi) pertanian.

    Pj Gubernur Lampung Samsudin dan sejumlah pejabat pusat dan OPD terkait dijadwakan hadir dalam acara ini, termasuk sejumlah pimpinan UPTD KPH Dinas Kehutanan Lampung, unsur TNI/Polri, akademisi, tokoh masyarakat hingga kepala desa.

    Secara tradisi, penanaman padi di lahan kering biasa dilakukan dengan menanam Padi Gogo.

    Padi Gogo adalah varietas padi yang dikembangkan untuk tumbuh di lahan tadah hujan atau lahan dengan irigasi yang kurang intensif.

    Padi Gogo Hasilkan 5,3 Ton/Ha

    Di Lampung, penanaman padi gogo sudah ddilakukan di Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Tulang Bawang Barat, dan Kabupaten Lampung Timur melalui budidaya padi tegalan.

    Progres mencatat, panen perdana Padi Gogo pada Proyek Penelitian Gogo milik PT Huma Indah Mekar (HIM) di Kabupaten Tulangbawang Barat pada Februari 2022 mampu menghasilkan sebanyak 5,3 ton per hektare. Pada penelitian itu, PT HIM membuka lahan seluas 84 hektare.

    Angka rata-rata produksi 5,3 ton/ha itu ‘beda-beda tipis’ dengan produksi padi di lahan basah. Ini membuktikan bahwa penanaman padi lahan kering dapat mendukung percepatan pencapaian swasembada pangan yang menjadi visi misi Presiden RI Prabowo Subianto.

    Multipurpose Tree Species

    Sementara MPTS (Multipurpose Tree Species) adalah tanaman yang menghasilkan kayu, buah, daun, dan bunga yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti pakan ternak, bahan makanan, dan obat-obatan.

    Tanaman ini sekaligus dapat digunakan untuk rehabilitasi hutan lindung dan membantu perekonomian masyarakat, seperti mangga, durian, alpukat, sirsak, cengkeh, nangka, jambu klutuk, jambu air, dan petai.(*)



  • Siapa bilang anak muda ogah bertani? Marwan, bisa dijadikan contoh sebagai pemuda yang sukses membuktikan bahwa bertani dengan teknologi modern bisa mengundang cuan datang.

    (Progres.co.id): “SEBELUMNYA saya cuma menganggur,” kata Marwan saat ditemui wartawan usai apel Brigade Pangan di Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa (10/12/2024).

    Bagi Marwan, pekerjaan ini ibarat mimpi yang jadi kenyataan, sebab, dalam waktu enam bulan sejak terjun ke dunia pertanian modern, ia sudah bisa meraup puluhan juta rupiah. Bukan lagi sekadar janji manis Kementerian Pertanian (Kementan) yang katanya menjanjikan penghasilan Rp10 juta per bulan. Nyatanya, angka itu bisa dilipatgandakan.

    Marwan menjelaskan, sehari ia bisa menggarap sekitar dua hektare lahan menggunakan mesin combine harvester. Jika dihitung pendapatannya, bersihnya ia bisa mengantongi Rp1,5 juta sehari. “Berarti kalau sebulan, bisa dapat Rp20-30 juta,” ujarnya seperti dikutip dari ekonomi.republika.co.id.

    Namun, di balik penghasilan fantastis tersebut, Marwan tak menampik ada tantangan yang harus dihadapinya. “Kondisi alam sering bikin susah. Kalau musim hujan, padi jadi basah, mesin combine harvester nggak bisa dipakai buat panen,” ungkap pria berusia 24 tahun itu.

    Di acara yang sama, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap semangat Marwan. “Anak muda seperti Marwan yang berani terjun ke sektor pertanian ini jadi bukti bahwa bertani itu bisa menjanjikan kesejahteraan,” kata Amran.

    Lebih dari itu, Amran berharap kisah sukses Marwan bisa menjadi inspirasi bagi anak muda lainnya. Menurutnya, pemanfaatan teknologi alsintan menjadi kunci dalam menciptakan pertanian modern yang efisien dan menguntungkan. “Kalau mau sukses, manfaatkan teknologi. Kami optimis, akan ada banyak Marwan-Marwan baru di masa depan,” tegasnya.

    Kisah Marwan adalah cerminan bahwa sektor pertanian bukan lagi profesi yang bisa dipandang sebelah mata. Dengan sentuhan teknologi modern dan semangat anak muda, bertani bisa jadi profesi bergengsi dengan penghasilan yang tak kalah dari pekerjaan kantoran. Mungkin sudah saatnya stigma “bertani itu kotor dan melelahkan” dipatahkan. Karena nyatanya, pertanian justru bisa bikin kantong tebal.(*)



  • Kesuksesan tak selalu dimulai dari jalan yang mudah. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjadi bukti bahwa kerja keras dan integritas adalah kunci mengubah kehidupan. Itu dia tunjukkan mulai dari berjualan racun tikus hingga menjadi menteri yang berani melawan mafia pangan.

    (Progres.co.id): AMRAN memulai usahanya dengan berjualan racun tikus dari toko kecil beratap rumbia. “Waktu itu, saya hanya punya uang lima ratus ribu rupiah dan harus merantau ke Jakarta untuk mendaftarkan hak paten. Waktu di Jakarta saya bahkan tidur di masjid karena tidak mampu menyewa tempat tinggal,” kenangnya seperti dikutip dari ‘Kick Andy’ Metro TV.

    Setelah melalui berbagai kesulitan, hak paten racun tikusnya akhirnya disetujui. Usaha ini menjadi pijakan awal bagi Tiran Group, yang kini memiliki bisnis di sektor tambang, sawit, gula, SPBU, hingga distributor semen.

    Namun, saat ia diangkat menjadi Menteri Pertanian pada tahun 2014, perusahaan pestisidanya ditutup permanen. “Saya tidak ingin ada prasangka bahwa usaha ini sukses karena jabatan saya,” tegasnya. Keputusan ini, meski sulit, dianggapnya sebagai keberuntungan. “Dengan begitu, saya bisa mengabdi sepenuhnya untuk rakyat.”

    Sebagai menteri, Amran kerap menghadapi tantangan besar, termasuk melawan mafia impor yang merugikan petani. Salah satu kasus yang diungkap adalah masuknya impor jagung senilai Rp6 triliun saat musim panen. Akibatnya, harga jagung lokal anjlok drastis, membuat sekitar 20 juta petani menderita kerugian hingga Rp40 triliun.

    “Saya langsung turun ke lapangan, melarang bongkar muatan impor, dan memanggil pihak-pihak terkait. Bagi saya, melindungi petani lebih penting daripada khawatir kehilangan jabatan,” ungkapnya. Ia juga mengungkap praktik mafia pupuk palsu yang merugikan 400 ribu petani dengan total kerugian Rp3,2 triliun. Perusahaan-perusahaan tersebut di-blacklist dan kasusnya diserahkan kepada penegak hukum.

    Amran juga kerap memberikan semangat kepada generasi muda, khususnya dalam sektor pertanian. “Pertanian adalah masa depan Indonesia. Kami sedang mentransformasi pertanian tradisional menjadi modern, dengan dukungan teknologi dan sumber daya alam yang melimpah,” ujarnya.

    Saat ini, lebih dari 3 ribu generasi milenial telah bergabung dalam program modernisasi pertanian yang ia gagas. Dengan target 50 ribu petani muda pada 2025, ia optimis pendapatan minimal Rp10 juta per bulan bisa tercapai. “Jangan pernah menyerah, jangan mengeluh, dan pantang meminta kecuali pada Tuhan. Kesuksesan membutuhkan keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk bertahan,” pesannya.

    Andi Amran Sulaiman, sosok yang memulai segalanya dari nol, kini menjadi inspirasi bagi bangsa, khususnya generasi muda, untuk terus berjuang, bekerja keras, dan mengutamakan integritas.(*)



  • Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian yang satu ini dikenal tegas. Saking sakleknya dalam menunjukkan keberpihakkan terhadap nasib petani, tak pelak banyak pihak yang berniat kepingin cawe-cawe terpaksa mesti menelan pil pahit, lantaran tak diberi peluang. Komitmen itu tak pelak sempat memunculkan pandangan terhadap dirinya sebagai “Menteri tak doyan duit”.

    (Progres.co.id): AMRAN bukan berasal dari keluarga berpunya. Dia pernah menjalani masa susah yang berkepanjangan. Ketika kuliah, rentang 1989 hingga 1993, satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah survival. Dalam keterbatasan, ia memutuskan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Salah satu hasilnya adalah formula racun tikus bernama Tiran.

    “Kami meneliti racun tikus selama tiga tahun. Tahun 1995, kami mendapatkan hak paten, lalu mensosialisasikan hasil ini ke seluruh Indonesia. Awalnya sulit. Racun kami jual Rp100 per biji, tidak laku. Turunkan jadi Rp50, tetap tidak laku. Bahkan saat kami beri gratis, orang malah curiga,” kenangnya dalam talk show Kick Andy.

    Menurut Amran, serangan tikus tahun 1992 menyebabkan kerugian besar bagi petani. Hal ini mendorongnya bekerja keras agar penemuannya bisa menyelamatkan hasil panen.

    Saat membahas integritas, Amran berbagi kisah tegasnya memberantas korupsi. Ia menceritakan bagaimana dirinya menginstruksikan pembatalan proyek yang terkait dengan kerabatnya, meski secara prosedur tidak ada kesalahan.

    “Ada sahabat kakak saya yang bangga bilang, ‘Pak Menteri, saya dapat proyek 5 miliar.’ Saya langsung telepon pihak yang terkait dengan proyek itu dan bilang, ‘Batalkan. Kalau tidak, saya sendiri yang batalkan.’ Meski prosedur benar, saya tidak ingin ada fitnah atau sanksi sosial. Lebih baik mengorbankan satu orang daripada mengorbankan jutaan petani,” tegasnya.

    Amran juga menambahkan bahwa ia menyebarkan nomor pribadinya kepada masyarakat untuk menerima laporan dugaan pelanggaran. “Hingga kini, sudah lebih dari 100 laporan masuk. Semua kami tindaklanjuti, termasuk yang baru-baru ini ada 11 orang di Kementerian Pertanian yang kami nonaktifkan mulai dari pejabat eselon 2, eselon 3, dan staf terkait kasus pelanggaran.”

    Ketegasan Amran berakar dari didikan orang tuanya. Ia mengingat pesan ayahnya yang selalu melarang mengambil hak orang lain. “Dulu, saat kecil, saya menemukan uang Rp5 di pasar. Ayah saya malah memukul tangan saya sambil berkata, ‘Itu bukan hakmu.’ Pelajaran ini menjadi warisan berharga dalam hidup saya.”

    Ketika ditanya apakah tindakan yang menunjukkan adanya “borok” di kementeriannya tidak membuatnya khawatir akan mencoreng citra institusinya, Amran menjawab dengan tegas, “Malu di hadapan Tuhan jauh lebih penting. Kalau kita membiarkan korupsi, itu sama saja memelihara kejahatan. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk rakyat, khususnya bagi 120 juta petani pangan di Indonesia.”

    Amran juga mengingatkan pentingnya kerja keras dan kejujuran. Ia berharap generasi muda memiliki semangat juang untuk masa depan yang lebih baik. “Jadilah petarung. Tidak ada sukses tanpa proses.”(*)