Tag: nelayan


  • Nelayan menghadapi risiko kerja yang tinggi. Negara, melalui BPJS Ketenagakerjaan, hadir untuk memberi jaminan sosial. Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lampung berupaya meluaskan sosialisasinya ke kalangan nelayan.

    Bandarlampung (Progres.co.id): BAYU Witara, Ketua HNSI Lampung, mengutarakan keinginan untuk lebih meluaskan cakupan sosialisasi akan jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan di kalangan anggotanya.

    “Saat melaut nelayan punya risiko tinggi. Segenap anggota HNSI mesti memiliki kesadaran akan hal itu. Bila sudah memahami kita perlu antisipasi. Salah satunya melalui keikutsertaan pada jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan ini,” kata Bayu, Selasa (25/2/2025).

    Selain memiliki manfaat besar, untuk menjadi bagian dalam jaminan BPJS juga tidak memberatkan. Dikatakan Bayu, preminya hanya Rp16.800 per bulan. “Biayanya masih sangat terjangkau. Ini tinggal bagaimana menyosialisasikannya saja. Sehingga makin banyak nelayan yang memperoleh informasinya,” ungkap dia.

    Selain itu Bayu juga menyinggung perihal dukungan para juragan pemilik kapal. Menurutnya, jaminan terhadap keselamatan nelayan akan lebih terwujud bila ada kerjasama yang baik dengan para pemodal tersebut.

    Mengenai jaminan kematian dan jaminan kecelakaan kerja, Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Bandarlampung M Nuh memaparkan, sejak 2021 hingga 2024 terdapat 25 kasus dengan nilai Rp969 Juta. 

    “Sedangkan untuk nelayan, kami memberi perlindungan realisasi asuransi kepada 5.800 nelayan,” kata Nuh. 

    Jumlah kepesertaan ini, tambahnya, masih bisa ditingkatkan lagi. “Memang butuh sosialisasi lebih luas dengan bahasa penyampaian yang lebih komunikatif,” imbuh Nuh.(*)



  • Di era digitalisasi seperti sekarang, letak geografis bukan lagi menjadi penghalang bagi publikasi informasi. Bahkan, nelayan pengelola perikanan rajungan di Labuhan Maringgai sekalipun tidak terkendala untuk aktif ber-medsos ria.

    Lampung Timur (Progres.co.id): TIDAK kurang 20 warga Desa Margasari dan Desa Muara, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, mengikuti pelatihan jurnalisme warga yang berlangsung selama dua hari, 18-19 Desember 2024.

    Pelatihan yang diinisiasi Tim Pengelolaan Perikanan Rajungan Berkelanjutan (TPPRB) dengan dukungan Environmental Defense Fund (EDF) ini, bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan nelayan serta potensi lokal melalui media sosial.

    Pada pelatihan hadir sebagai pemateri Yopie Pangkey, seorang blogger dan pegiat media sosial asal Lampung. Materi yang diberikan meliputi dasar-dasar jurnalisme warga, teknik fotografi, dan pemanfaatan media sosial sebagai alat komunikasi yang efektif.

    Sedangkan 20 peserta pelatihan merupakan anggota Pokmaswas, Kelompok Usaha Bersama (KUB), Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar). Ditambah dengan perwakilan Forum Nelayan Kabupaten Lampung Timur dan Forum Nelayan Provinsi.

    Mereka belajar membuat konten media sosial yang menarik dan informatif, sekaligus memahami cara menggunakan platform digital secara bijak untuk meningkatkan visibilitas kegiatan kelompok mereka.

    Peserta pelatihan jurnalisme warga, Labuhan Maringgai, Lampung Timur.

    Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Desa Margasari, Hasan Ubaidillah, menilai pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan kegiatan masyarakat pesisir.

    Menurutnya, keberadaan Pokmaswas, KUB, dan Poklahsar telah menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir, terutama dalam hal keaktifan dan kemandirian. “Namun, minimnya dokumentasi dan publikasi membuat hasil kerja kami kurang dikenal luas. Nah, setelah ikut pelatihan ini kami optimis potensi lokal dapat dipromosikan lebih luas,” ujar Ubaidillah, sesaat setelah penutupan pelatihan, Kamis (19/12) sore.

    Sementara salah seorang peserta, Miswan, mengakui dirinya mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan ini. “Selain meningkatkan keterampilan, kami juga lebih percaya diri untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari, seperti pengolahan rajungan dan pengawasan sumber daya laut,” kata Miswan.

    Apresiasi juga datang dari Kepala UPTD Pelabuhan Perikanan Labuhan Maringgai dan Teladas, A Faisal. Dia berharap pelatihan seperti ini dapat menjadi momentum penting bagi warga pesisir untuk lebih dikenal dan diakui atas peran mereka dalam menjaga dan mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan.

    “Harapanya pelatihan ini mampu memperkuat peran masyarakat Desa Margasari dan Desa Muara Gading Mas sebagai pelaku komunikasi aktif dalam mempromosikan perikanan berkelanjutan dan berbagai potensi lokal yang ada di Lampung Timur,” ucap Faisal.

    Untuk diketahui Pokmaswas Jaya Bahari Abadi Desa Margasari menjadi salah satu kelompok paling aktif di Provinsi Lampung. Komitmen mereka dalam pengawasan dan pelaporan praktik penangkapan ikan ilegal telah diakui secara nasional. 26 September lalu, Pokmaswas Jaya Bahari Mandiri meraih juara ketiga kategori Pokmaswas pada Penghargaan Adibakti Mina Bahari 2024. (*)