Tag: Pertanian Modern


  • Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung meluncurkan layanan sertifikasi organik berbasis elektronik, e-SERNIK, dalam acara Gebyar Pertanian Modern 2024. Acara yang berlangsung di Hotel Novotel, Bandar Lampung tersebut juga diisi penganugerahan sejumlah pihak yang berkontribusi di sektor pertanian modern. 

    Bandar Lampung (Progres.co.id): SEBAGAI upaya mendukung pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045, Provinsi Lampung telah memiliki Lembaga Sertifikasi Program (LS PRO) yang terakreditasi untuk skema organik.

    E-SERNIK merupakan inovasi pertama dan satu-satunya di Provinsi Lampung yang bertujuan memudahkan petani dan pelaku usaha dalam mengajukan sertifikasi organik. Sistem ini diharapkan mampu mengatasi kendala mahal dan rumitnya proses sertifikasi yang selama ini menjadi hambatan.

    Peresmian e-SERNIK dilakukan langsung oleh Mulyadi Irsan (Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Lampung), Bani Ispriyanto (Kepala Dinas KPTPH Lampung), Syopiansyah Jaya Putra (Kepala Sekretariat e-KPB Center Lampung), dan Yuliastuti (Kepala Dinas Perkebunan Lampung), Senin (23/12/2024).

    Dalam acara ini juga sejumlah penghargaan diberikan kepada kabupaten/kota, kelompok tani, penyuluh pertanian, layanan dinas KPTPH, serta pemenang kompetisi video pendek dan dokumenter.

    Pemenang Penghargaan di Acara Gebyar Pertanian Modern Tahun 2024, Senin (23/12), Foto: Progres.co.id.

    Berikut daftar pemenang:

    Kategori Dinas Pertanian Kabupaten/Kota:

    Juara 1: Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu

    Juara 2: Dinas Pertanian Kabupaten Tulang Bawang

    Juara 3: Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Selatan

    Kategori Kelompok Tani:

    Juara 1: Kelompok Tani Jaya Karya Satu (Kabupaten Pringsewu)

    Juara 2: Kelompok Tani Bakti Mulya (Kabupaten Tulang Bawang)

    Juara 3: Kelompok Tani Karya Utama (Kabupaten Lampung Tengah)

    Kategori Penyuluh Pertanian:

    Juara 1: Hendra Saputera (Kabupaten Tulang Bawang)

    Kategori Layanan Dinas KPTPH Provinsi Lampung: UPTD BPMKP Provinsi Lampung

    Kategori Video Film Pendek: Nouval

    Kategori Video Dokumenter: Andika Pratama

    Gebyar Pertanian Modern Tahun 2024 menjadi momentum penting bagi Provinsi Lampung untuk menegaskan komitmennya dalam memajukan sektor pertanian yang berkelanjutan dan berbasis teknologi. Dengan inovasi seperti e-SERNIK, harapannya Provinsi Lampung dapat terus menjadi salah satu lumbung pangan nasional.(*)



  • Di era yang serba cepat seperti sekarang, sektor pertanian tak bisa lagi hanya bertumpu pada cara-cara konvensional. Modernisasi adalah keniscayaan. Menjawab tantangan ini, Pemerintah Provinsi Lampung, melalui Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH), memperkenalkan konsep Pertanian Terpadu. 

    Bandar Lampung (Progres.co.id): MENURUT Kepala Dinas KPTPH, Bani Ispriyanto, dunia tengah menghadapi ancaman serius berupa krisis pangan akibat kekeringan yang ditimbulkan oleh Fenomena El Niño 2023.

    “Indonesia, dengan populasi terbesar keempat di dunia, masih belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Saat ini, kita belum mencapai swasembada pangan,” ujar Bani dalam acara Gebyar Pertanian Modern bertema “Pertanian Terpadu dalam Mendukung Swasembada Pangan” di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Senin (23/12/2024).

    Sedangkan, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto secara gencar mengejar target swasembada pangan. “Yang tadinya ditargetkan tiga tahun, kini dimajukan menjadi dua tahun,” tambahnya.

    Bani menjelaskan bahwa Provinsi Lampung, sebagai salah satu lumbung pangan nasional, memegang peran strategis dalam mencapai target ini. Saat ini, Lampung merupakan produsen padi terbesar keenam di Indonesia, setelah Sumatera Selatan.

    Kementerian Pertanian bahkan telah menetapkan target luas panen untuk Lampung pada tahun 2025 sebesar 1.034.205 hektare. “Ini merupakan lonjakan peningkatan yang cukup tinggi. Untuk itu, bagi semua pihak terkait diharapkan dapat bekerja sama untuk mencapai target swasembada pangan ini,” kata Bani.

    Sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat, sektor pertanian kini harus mulai bekerja sama dengan TNI hingga aparat kepolisian. “Selain itu juga kita membutuhkan dukungan dari Pupuk Indonesia, Bulog, BPS dan lainnya. Karena mau bekerja sekeras apa pun kita, jika tidak tercatat dalam BPS maka tidak ada hasilnya,” jelas Bani.

    Untuk mengejar target ini, Lampung tidak hanya mengandalkan penambahan lahan, tetapi juga peningkatan produktivitas. Di sinilah teknologi pertanian modern memainkan peran kunci. Pertanian terpadu hadir sebagai solusi dengan mengintegrasikan berbagai aspek dalam satu sistem yang efisien dan berkelanjutan.

    Inovasi pertanian terpadu hadir dengan 7 layanan di antaranya, layanan penebusan pupuk, layanan alsintan, layanan stabilitas uji, layanan opd, layanan peminjaman KUR (Kredit Usaha Rakyat), dan layanan asuransi pertanian.

    Melalui acara Gebyar Pertanian Modern tahun 2024, pemerintah berharap para petani semakin terbuka terhadap konsep pertanian yang maju dan berkelanjutan. Acara ini juga menjadi ajang apresiasi bagi kabupaten/kota, penyuluh, dan para pelaku sektor pertanian yang berkontribusi dalam mewujudkan program ini secara mandiri.

    “Tujuannya agar petani Lampung tidak hanya mengenal, tetapi juga mengimplementasikan pertanian modern yang berbasis teknologi. Dengan begitu, kesejahteraan petani dan semua pihak yang terlibat dapat tercapai,” tutup Bani.(*)



  • Siapa bilang anak muda ogah bertani? Marwan, bisa dijadikan contoh sebagai pemuda yang sukses membuktikan bahwa bertani dengan teknologi modern bisa mengundang cuan datang.

    (Progres.co.id): “SEBELUMNYA saya cuma menganggur,” kata Marwan saat ditemui wartawan usai apel Brigade Pangan di Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa (10/12/2024).

    Bagi Marwan, pekerjaan ini ibarat mimpi yang jadi kenyataan, sebab, dalam waktu enam bulan sejak terjun ke dunia pertanian modern, ia sudah bisa meraup puluhan juta rupiah. Bukan lagi sekadar janji manis Kementerian Pertanian (Kementan) yang katanya menjanjikan penghasilan Rp10 juta per bulan. Nyatanya, angka itu bisa dilipatgandakan.

    Marwan menjelaskan, sehari ia bisa menggarap sekitar dua hektare lahan menggunakan mesin combine harvester. Jika dihitung pendapatannya, bersihnya ia bisa mengantongi Rp1,5 juta sehari. “Berarti kalau sebulan, bisa dapat Rp20-30 juta,” ujarnya seperti dikutip dari ekonomi.republika.co.id.

    Namun, di balik penghasilan fantastis tersebut, Marwan tak menampik ada tantangan yang harus dihadapinya. “Kondisi alam sering bikin susah. Kalau musim hujan, padi jadi basah, mesin combine harvester nggak bisa dipakai buat panen,” ungkap pria berusia 24 tahun itu.

    Di acara yang sama, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap semangat Marwan. “Anak muda seperti Marwan yang berani terjun ke sektor pertanian ini jadi bukti bahwa bertani itu bisa menjanjikan kesejahteraan,” kata Amran.

    Lebih dari itu, Amran berharap kisah sukses Marwan bisa menjadi inspirasi bagi anak muda lainnya. Menurutnya, pemanfaatan teknologi alsintan menjadi kunci dalam menciptakan pertanian modern yang efisien dan menguntungkan. “Kalau mau sukses, manfaatkan teknologi. Kami optimis, akan ada banyak Marwan-Marwan baru di masa depan,” tegasnya.

    Kisah Marwan adalah cerminan bahwa sektor pertanian bukan lagi profesi yang bisa dipandang sebelah mata. Dengan sentuhan teknologi modern dan semangat anak muda, bertani bisa jadi profesi bergengsi dengan penghasilan yang tak kalah dari pekerjaan kantoran. Mungkin sudah saatnya stigma “bertani itu kotor dan melelahkan” dipatahkan. Karena nyatanya, pertanian justru bisa bikin kantong tebal.(*)